Demo Mahasiswa UIN Ar-Raniry Ricuh, Tiga Peluru Meletus

Demo Mahasiswa UIN Ar-Raniry Ricuh, Tiga Peluru Meletus
Aksi dorong-mendorong antar mahasiswa dengan pihak keamanan kampus (Photo: MODUSACEH.CO/Irwan Saputra)
Banda Aceh | Aksi unjuk rasa seratusan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Ar- Raniry Banda Aceh, depan Gedung Auditorium Ali Hasyimi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Selasa (18/10/2016),  berakhir ricuh. Puncanya, bermula dari keinginan mahasiswa yang menuntut agar diijinkan masuk ke dalam Auditorium Ali Hasyimi untuk berkonsultasi dengan Rektor UIN Ar-Raniry Prof Farid dan mempertanyakan permasalahan kampus. Tapi, permohonan itu ditolak, karena dalam aula auditorium sedang diselenggarakannya Dies Natalis Ke-53 UIN Ar-Raniry yang turut dihadiri Gubernur Aceh Zaini Abdullah dan beberapa pimpinan dayah di Aceh.

Pihak kampus yang terdiri dari beberapa petinggi, petugas  keamanan kampus, Menwa dan beberapa polisi dari Polsek Syiah Kuala Banda Aceh, tidak mau acara tersebut terganggu. Itu sebabnya, mahasiswa yang merasa dihalangi untuk bertemu Rektor mulai gerah. Apalagi keinginan  bertemu Rektor tak diakomodir .

Wakil Dekan III Fakultas Dakwah UIN Ar-Raniry Baharuddin  sempat berdiskusi dan menawarkan solusi dengan beberapa mahasiswa saat itu, ia menawarkan jika mahasiswa tetap ngotot ingin masuk dia meminta agar yang masuk hanya perwakilan saja, sementara yang lainnya menunggu di luar. “Karena di dalam ada Gubernur Aceh dan beberapa petinggi dayah, maka tidak mungkin masuk semuanya, kalau boleh saya tawarkan perwakilan saja beberapa orang,” ujarnya.

Namun tawawan ini ditolak mahasiswa yang mulai gerah karena tidak diijinkan untuk masuk, apalagi acara tersebut tidak dilibatkan mahasiswa. "Tidak bisa Pak, kami harus masuk semua,” ujar salah seorang mahasiswa. Sontak penolakan itu disambut mahasiswa lainnya, agar bisa masuk semua, "masuk semua," teriak massa.

Salah seorang orator yang juga Gubernur Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry  Jaili Farman mengatakan, pihaknya meminta baik-baik untuk masuk, namun apabila pihak keamanan kampus menolak, maka akan memaksa masuk. “Kami hanya meminta beraudiensi dengan orang tua kami Pak Rektor kampus ini, kenapa kami dilarang,” tanya Jaili.  Sementara itu Wakil Presma Misran mengancam apabila keinginan baik-baik tersebut tidak dipenuhi dan pihak keamanan beserta pihak kepolisian melakukan upaya kekerasan, maka dirinyalah yang akan berada di depan. “Jika dilakukan kekerasan maka saya akan berada di depan untuk itu,” teriak Misran.

Berita terkait : Demo Mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Tuntut Rektor Mundur Jika Tak Mampu Tuntaskan Permasalahan Kampus

Spontan aksi dorong mendorong antara pihak mahasiswa dan petugas kemanan tidak terelakkan, bahkan seorang security menjadi sasaran bogem mentah oleh beberapa mahasiswa yang kadung emosi. Hingga terjadinya aksi saling kejar antara security kampus dengan mahasiswa. Untuk mengamankan kericuhan ini, aparat kepolisian mementahkan tiga timah panas ke udara. Tujuannya, untuk memperingati mahasiswa yang mulai beringas. Namun bukan malah berhenti, beberapa mahasiswa mengejar mobil polisi tersebut untuk mempertanyakan kenapa sampai melepaskan senjata. “Ini kampus, polisi dilarang masuk kampus, kenapa harus menembak segala,” kata salah seorang mahasiswa.

Keadaan baru mulai terkendali setelah Kapolresta Banda Aceh, Kombes T. Saladin datang  setelah mendapat pemberitahuan ada aksi di UIN yang mulai tidak bisa dikendalikan, disusul Rektor UIN, yang keluar dari acara Dies Natalis untuk beraudiensi dengan mahasiswa di depan Auditorium Ali Hasyimi.***

Komentar

Loading...