Breaking News

Delegasi Unair dan UI Wakili Indonesia di Ajang Philip C. Jessup di Washington

Delegasi Unair dan UI Wakili Indonesia di Ajang Philip C. Jessup di Washington
(Dok Unair)
Penulis
Sumber
okezone.com

JAKARTA | Ajang kompetisi peradilan semu (moot court) Philip C. Jessup di Washington DC, Amerika, yang akan digelar pada 1-7 April 2018 akan dihadiri pula oleh perwakilan dari Indonesia, yakni Delegasi Badan Semi Otonom (BSO) International Law Student Association (ILSA) Fakultas Hukum Universitas Airlangga (Unair) dan Delegasi Universitas Indonesia (UI).

Delegasi-delegasi Unair tersebut adalah Dewi Santoso sebagai oralis sekaligus ketua delegasi, Bima Adhijoso sebagai oralis, Zulfikar Winarno sebagai oralis, Regine Wiranata sebagai oralis, dan Mutiara Kasih sebagai tim advisor. Selain tim inti tersebut, juga terdapat researchers yakni Megawati Widjaja, Maya Assegaf, Shofy Suma, dan Thesalonica.

“Philip C. Jessup adalah kompetisi peradilan semu internasional tertua di dunia. Setiap tahun diadakan putaran nasional dimana dua tim terbaik akan mewakili negara tersebut untuk bertanding di putaran internasional,” tutur Dewi Santoso selaku ketua delegasi seperti dilansir laman Unair, Selasa (20/2/2018)

Pada kompetisi Indonesian Society of International Law (ISIL) di Universitas Udayana, Denpasar, Bali, beberapa waktu yang lalu, 24 delegasi lain dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia berhasil dikalahkan Delegasi Unair dan UI. Unair memperoleh juara Runner Up dan delegasi UI memperoleh juara I.

Delegasi Unair melawan empat tim berbeda pada babak penyisihan, yakni melawan Universitas Atmajaya Jakarta di babak quarter, Universitas Padjajaran di babak semi final, dan melawan Universitas Indonesia pada babak final. “Materi tahun ini cukup bervariasi dan sangat menantang. Di antaranya keabsahan putusan arbitrase, penangkapan kapal, perang di laut, dan kewajiban pelucutan senjata dalam hukum internasional,” ujar Dewi Santoso.

Sebelum bisa membuahkan hasil yang memuaskan dengan menjadi runner up, banyak perjuangan yang harus dilalui para delegasi Unair, mulai dari kendala biaya pendaftaran dan keberangkatan yang cukup banyak serta harus berjuang mempersiapkan segala sesuatunya mulai dari pembuatan berkas memorial hingga presentasi oral pleading dalam waktu enam bulan demi penampilan terbaik saat lomba.

“Kami sangat senang dan bersyukur. Kami tidak menyangka karena selama 14 tahun Unair mengikuti lomba ini akhirnya kami bisa mencapai posisi ini dan berkesempatan untuk mewakili Indonesia di putaran internasional,” tambahnya.***

Komentar

Loading...