Iklan Sisi Lain Special Ramadhan

Misteri Dana Rp1,9 Miliar di Bank Aceh Syariah S Parman Medan

Deddy Nofendi Paling Bertanggungjawab

Deddy Nofendi Paling Bertanggungjawab
Deddy Nofendy, Kepala Kantor Cabang Bank Aceh di Jalan S Parman, Medan (Foto: Ist)
Rubrik

Dari Medan, Sumatera Utara, Yusrizal terbang ke Kota Banda Aceh. Tujuannya jelas, bertemu pimpinan pusat PT. Bank Aceh Syariah (BAS). Ini terkait misteri dana Rp1,9 miliar yang masuk ke rekening Yusnamurti, ibu kandungnya.

MODUSACEH.CO I Namun, bukan jawaban yang didapat, Yusrizal mengaku kesal, karena manajemen BAS justeru terkesan menyalahkan dan memojokkan ibu dan adiknya, Rizki seorang pelayanan Kantor Cabang Bank Aceh di Jalan S Parman, Medan, Sumatera Utara.

Kisahnya begini, Jumat, 11 September 2020, sekitar pukul 11.00 WIB. Yusrizal mendatangi Kantor media siber AJNN. Dia menduga dan mengungkap, telah terjadi pencucian uang di Bank Aceh Syariah S Parman Medan.

Yusrizal adalah abang kandung Rizki, seorang pelayanan kantor cabang Bank Aceh di Jalan S Parman, Medan, Sumatera Utara.

Seperti diwartakan di RMOLAceh.id. Rizki diminta Deddy Nofendy, Kepala Kantor Cabang Bank Aceh di Jalan S Parman, Medan, Sumatera Utara, membuka rekening di plat merah ini dan menerima transfer sejumlah uang ke rekening tersebut.

Tapi, karena status Rizki sebagai pegawai di Bank Aceh ini, akhirnya diputuskan untuk pembukaan rekening atas nama Yusnamurti, ibu kandung Rizki dan Yusrizal.

Disebut untuk membantu meningkatkan pendapatan perusahaan, apalagi atas permintaan Deddy, Rizki mengamini permintaan tadi. Saat itu, dia berpikir, inilah yang dia bisa perbuat pesuruh di kantor itu.

Lalu, tanggal 28 Juni 2020, Riski membuka tabungan (rekening) atas nama ibu tadi. Namun, dia terperanjat saat melihat dan mengetahui ada uang Rp1,9 miliar yang masuk pada rekening ibunya.

“Jumlahnya Rp1,9 miliar rupiah,” ungkap Rizki, di sebuah warung kecil, kawasan Amaliun, Medan, Sumatera Utara, pada RMOLAceh.id ketika itu.

Begitupun, Rizki mengaku tak pernah menerima buku rekening dan kartu ATM seperti lazim terjadi setiap nasabah membuka rekening baru. Ironisnya, pada hari yang sama dan di Kantor Cabang Bank Aceh serupa, rekening itu menampung uang Rp1,9 miliar.

Nah, empat hari kemudian, rekening itu menerima uang bagi hasil dari penyimpanan tadi Rp500 ribu. Sebulan kemudian, rekening Yusnamurti kembali mendapatkan setoran dari bagi hasil Rp5,2 juta.

Tapi, jumlah uang bagi hasil yang masuk ke rekening Yusnamurti pada Agustus 2020 justeru berkurang atau menjadi Rp4,8 juta. Selanjutnya, 11 September 2019, Yusnamurti mengalihkan uang Rp1,9 miliar tersebut pada satu rekening di bank nasional atau milik negara.

Usai dana besar itu beralih, bagi hasil di rekening Yusnamurti menyusut menjadi Rp1,6 juta pada akhir September dan Rp35 ribu di bulan berikut. Buku tabungan itu baru diterimanya beberapa bulan lalu.

Rizki baru sadar uang yang pernah melintas di tabungannya berjumlah fantastis. Itu diketahui, saat dia melakukan cetak (print out) buku tabungan aas nama ibunya tadi. Dia mengaku hanya menerima Rp2 juta dari dana bagi hasil uang di rekening ibunya itu.

Tapi, Kepala Bagian Humas PT. BAS Pusat, Riza Syahpurta justeru mengaku lain. Seperti diwartakan RMOLAceh.id, dia mengatakan. Setiap nasabah yang menabung dalam jumlah besar harus mengisi formulir khusus. Di sini, tertulis asal sumber uang yang akan ditabungkan.

“Kalau soal rekening basah, itu kami tidak tahu. Mungkin saja pemilik rekening menerima warisan,” kata Riza, Senin, 24 Agustus 2020.

Begitupun, saat dikonfirmasi ulang media ini, Riza Syahputra tak menjawabnya. Terkesan, ada sesuatu yang disembunyikannya. Sebab berbeda dari biasanya.

Pernyataan Humas Bank Aceh ini, rupanya membuat Yusrizal geram. Ia tak menyangka kalau bank milik Pemerintah Aceh tersebut, justeru menyudutkan keluarganya. (selengkapnya baca edisi cetak).***

Komentar

Loading...