Breaking News

Hasil Penelitian NUS dan Lee Kuan Yew School of Public Police 2016

Daya Saing Aceh Peringkat 26 Indonesia, Waduh!

Daya Saing Aceh Peringkat 26 Indonesia, Waduh!
 
Banda Aceh | Kabar tak sedap itu datang dari National University of Singapore (NUS) dan Lee Kuan Yew School of Public Policy. Ini merupakan hasil penelitian perguruan tinggi terbaik di Asia tersebut, terhadap 33 provinsi di Indonesia. Berdasar data yang diterima MODUSACEH.CO, Sabtu kemarin. Untuk tahun 2016, Provinsi Aceh berada pada posisi 26 nasional bagi seluruh daya saing di Indonesia, sedangkan Jambi (28) dan NTT (24). Sementara posisi teratas di pegang DKI Jakarta (1) dan posisi paling bawah Provinsi Bengkulu (33).
 
Posisi serupa juga terjadi  pada tahun 2015, Provinsi Aceh dibawah kendali dr. Zaini Abdullah, berada pada posisi 26 dan tahun 2014 (28). Nah, dari sejumlah indikator yang diteliti, hanya kualitas hidup dan pembangunan infrastruktur yang stabil. Selain itu, peningkatan pada pemerintahan dan institusi publik. Selebihnya masih banyak kelemahan.
 
Penelitian ini mengunakan indikator seperti, pendapatan total daerah (Pemda), pendapatan pajak Pemda, pendapatan pajak per pendapatan total Pemda, pengeluaran Pemda, keseimbangan fiskal (kebijakan dan ketahanan fiskal pemerintah). Selain itu, menyangkut institusi pemerintahan dan kepemimpinan yang mencakup, tingkat kebersihan dari korupsi, tingkat kriminalitas dan keamanan, akuntabilitas dan inklusivitas Pemda, ekspektasi dan perkembangan Pemda, tingkat efisiensi, koordinasi antara pemerintah provinsi dengan kabupaten/kota serta kapasitas kepemerintahan provinsi.
 
Sektor lain, soal kemampuan finansial dan efisiensi bisnis, fleksibilitas pasar tenaga kerja serta kinerja produktivitas. Sementara, terkait persaingan, standar regulasi dan penegakkan hukum. Penelitian ini mengkaji soal kualitas peraturan daerah, penegakan hukum serta gairah kompetisi dan kolaborisasi.
 
Mengenai kualitas hidup dan pembangunan infrastruktur, penilian diarahkan pada 42 indikator, yang terdiri dari tiga titik fokus besar seperti infrastruktur fisik, teknologi serta kualitas hidup, pendidikan dan stablitas sosial.
 
Lantas, apa yang menjadi kekuatan Pemerintah Aceh? Hanya akses pada fasilitas dan tenaga kerja pendidikan dan kesehatan. Sedang kelemahan menurut penelitian NUS, terdapat pada persepsi kinerja pemerintahan-tata kelola dan koordinasi pemerintah. Bukan hanya itu, juga terjadi pada kondisi dunia usaha, terutama dalam fleksibilitas tenaga kerja, kemampuan finansial serta efisiensi bisnis.
 
Diakhir penelitiannya, NUS memberi rekomundasi untuk Pemerintah Aceh yaitu, perlunya prioritas pada peningkatan kondisi tenaga kerja dan kemudahan untuk melakukan bisnis. Itu sebabnya, perlu perbaikan persepsi masyarakat terhadap kinerja pemerintahan dan institusi publik.***

Komentar

Loading...