Catatan Prestasi Aceh di PON XX-2021 Provinsi Papua

Dari Tradisi Medali Hingga Diluar Prediksi

Dari Tradisi Medali Hingga Diluar Prediksi
Pertandingan final cabang olahraga anggar antara Aceh (kanan) melawan Riau (kiri) dalam ajang PON XX Papua di Gedung Serbaguna Gereja St Yoseph, Merauke, Jumat, 8 Oktober 2021. ANTARA/Yogi Rachman

Setelah 25 tahun, cabor anggar kembali berjaya, disusul tim sepak bola yang melaju hingga ke final, setelah tak berdaya selama 28 tahun. Sementara angkat besi, tarung derajat, atletik dan kempo kembali memperkokoh tradisi sebagai cabor penyumbang medali.

MODUSACEH.CO I Terlepas dengan berbagai cara, yang pasti perjuangan panjang dan berat atlet Aceh pada PON XX, 2-15 Oktober 2021, telah memberi hasil mengembirakan.

Lihat saja, ada sejumlah cabang olahraga (cabor) yang berhasil meraih prestasi, melakukan lompatan, mendapatkan medali emas. Sebaliknya, ada juga cabor yang telah berjuang, namun kandas di final. Misal, cabor panjat tebing.

Cabor sepatu roda misalnya, walau atlet mereka lolos PON dengan status wild card (jatah khusus). Namun, cabor inilah yang pertama menyumbang medali emas untuk kontingen Aceh. Disusul kemudian bina raga.

Sekedar mengulang. KONI Aceh mengirim 127 atlet pada PON XX di Papua lalu. Mereka bertanding pada 26 cabang olahraga. Dan, sejumlah cabor berhasil meraih medali emas, perak dan perunggu. 

Sebut saja atletik, anggar, angkat besi, judo, kempo, muaythai, pencak silat, panahan, rugby, sepakbola, sepatu roda, tarung derajat, dan wushu. Selain itu, dua medali emas diraih dari kurash dan paramotor (eksibisi).

Sementara, 12 cabang olahraga lainnya gagal menyumbangkan medali, yakni panjat tebing, bermotor, dayung, layar, menembak, renang, sepak takraw, selam, senam, taekwondo, biliar, dan terjun payung.

Nah, dari 11 medali emas yang diraih tim Aceh. Ada sejumlah cabor yang memang tetap mempertahankan tradisi penyumbang medali seperti; angkat besi, tarung derajat, kempo dan atletik.

Sedang cabor yang memberi lompatan prestasi adalah; anggar, sepatu roda, muaythai, wushu serta sepak bola, walau kemudian gagal meraih emas setelah kalah dari tuan rumah Papua.

Jihan Sekedang, atlet sepatu roda Aceh peraih medali emas dalam PON Papua XX 2021 (Foto: Ist) 

Tampilnya cabor anggar dengan satu emas, satu perak dan 2 perunggu, memang menjadi catatan sejarah. Setelah, prestasi ini ditoreh setelah 25 tahun absen menyumbang medali untuk Aceh.

Yang paling spektakuler tentu sepak bola. Anak asuhan Fahri Husaini ini mampu lolos ke final. Keberhasilan ini, sekaligus menjawab kerinduan panjang pecinta sepak bolah di ranah rencong.

Dalam catatan panjang pelaksanaan PON di tanah air. Aceh telah mengikuti 14 kali pekan olahraga pesta multi ini. Hasilnya, Aceh pernah menduduki posisi 15 besar di PON 1989 di Jakarta. Ketika itu, meraih 7 emas, 2 perak, dan 9 perunggu.

Sementara di PON Papua 2021, Aceh berhasil mengumpulkan; 11 medali emas, 7 perak dan 11 perunggu. Prestasi ini telah melampaui prestasi di PON Sumsel 2004, PON Kaltim 2008, PON Riau 2012, dan PON Jabar 2016.

Ketika itu, Aceh hanya meraih 13 medali (6 emas, 2 perak dan 5 perunggu) di PON Sumsel 2004 silam. Akibatnya, Aceh berada pada posisi 22 dari total 30 provinsi peserta.

Di PON Kaltim 2008, Aceh membawa pulang 18 medali (4 emas, 4 perak dan 10 perunggu) dan menempati posisi 23 dari 33 provinsi. Sementara itu di PON Riau 2012, Aceh hanya mengoleksi 3 emas, 5 perak dan 18 perunggu.

Disusul PON Jabar 2016, Aceh berhasil menempati peringkat 17 perolehan medali dengan meraih 8 emas, 7 perak dan 9 perunggu.

Ketua Harian KONI Aceh, Kamaruddin Abu Bakar (tengah) bersama dua atlet angkat besi Nurul Akmal dan M. Zul Ilmi peraih medali emas PON Papua (Foto: Humas KONI Aceh)

Nah, keberhasilan Aceh meraih 11 medali emas PON Papua 2021, tidaklah berlebihan bila menjadi catatan sejarah baru selama keikutsertaan Aceh di ajang PON. Tinggal kini, menjadi yang terbaik pada PON XXI-2024 di Bumi Serambi Mekah. Semoga! (bersambung).***

Komentar

Loading...