Catatan Dibalik Musda Golkar Aceh

Dari Isu "Dukungan Blang Padang" Hingga Dugaan "Intervensi" Calon Ketua

Dari Isu "Dukungan Blang Padang" Hingga Dugaan "Intervensi" Calon Ketua
TM. Nurlif dan T. Husen Banta (Foto: Dok.MODUSACEH.CO)

MODUSACEH.CO | HOTEL Hermes Banda Aceh, kembali menjadi saksi bisu dari kegagalan kedua Teuku Husen Banta menuju singasana Ketua DPD I Partai Golkar Aceh.

Itu terjadi setelah kandas dari Sulaiman Abda pada Musda IX/2010. Nasib apes serupa juga kembali terjadi pada Musda XI Golkar Aceh, 4-5 Maret 2020 di Banda Aceh.

T. Husen Banta terpaksa “lempar handuk” sebelum usai bertarung versus TM.Nurlif. Padahal sebelumnya, dia sempat mengklaim telah mendapat dukungan dari 18 DPD II Golkar (kabupaten dan kota).

Mulusnya langkah TM.Nurlif yang “sarat” dengan persoalan masa lalu (mantan koruptor) ini, ternyata tak membuat Ketua DPP Partai Golkar, Erlangga Hartarto berpaling.

Sebaliknya, detik-detik terakhir, Nurlif berhasil menyakinkan elit partai politik “warisan Orde Baru” itu, untuk berpihak dan memilih namanya. Maka, jadilah dia sebagai Ketua DPD I Partai Golkar Aceh Periode 2020-2025 atau untuk keduakalinya.

Sebelumnya, arus dukungan terhadap Husen Banta memang kentara, apalagi setelah muncul pernyataan dukungan dari T.Machsalmina, kader Golkar yang juga tokoh barat-selatan.

Mantan Bupati Aceh Selatan dan Sekretaris Umum DPD I Partai Golkar Aceh ini, secara terbuka dan terang-terangan, menyatakan dukungan terhadap Husen Banta. Disusul Andi Sinulingga, kader nasional Partai Golkar ini pun, menyatakan dukungan serupa.

Aura serupa juga datang dari kabupaten dan kota. Mayoritas elit partai ini di sana, menginginkan adanya sosok baru sebagai nahkoda. Apalagi, setelah sekian lama, Partai Golkar Aceh, gagal mengusung calon Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh. Termasuk pada Pilkada Aceh 2017 lalu.

Tapi, Dewi Fortuna rupanya belum berpihak pada Husen Banta yang juga Wakil Ketua Bidang Organisasi DPD I Golkar Aceh ini. Para pendukungnya kecewa? Mungkin saja.

“Apa pun alasannya, termasuk demi menjaga soliditas partai. Tapi kami kecewa. Jika menyerah pada titik akhir, kenapa dari awal Bang Husen begitu bersemangat dan mengebu-gebu untuk maju. Toh, pada akhirnya menyerah juga,” kritik salah satu DPD II, pendukung Husen Bantu pada media ini, Jumat malam di Banda Aceh.

Diakui sumber ini, hingga jelang dua pekan Musda, arus dukungan pada Husen Banta terus mengalir. Namun, pada detik terakhir, suasana berubah dan berbalik arah.

Dia menduga, ada “tangan” lain yang bermain, sehingga DPP Partai Golkar pun mulai “menentukan arah” kepada TM.Nurlif. “Ya, kami merasakan itu,” kata sumber tadi singkat. Karena alasan etika, dia minta namanya tak disebut.

Benarkah? Inilah yang jadi soal. Tapi, sejumlah sumber media ini menyebut. Kegagalan Husen Banta, tak lepas dari isu yang membalut dirinya.

Disebut-sebut, dia mendapat dukungan dari elit penguasa Aceh saat ini. Itu terjadi, melalui orang-orang yang dekat dengan Blang Padang, Pendopo Wakil Gubernur Aceh Nova Iriansyah.

Nah, kabar yang belum tentu benar ini, akhirnya menjadi senjata pamungkas bagi tim pemenangan Nurlif, untuk mengatur siasat dan strategi, mematahkan arus dukungan terhadap Husen Banta.

Selain itu, kabarnya informasi miring ini juga masuk ke Ketua Umum DPP Partai Golkar Erlangga Hartarto, sehingga dia merestui Nurlif kembali. Dan, tinggallah Husen Banta.

“Golkar memang tak memiliki tradisi untuk keluar dari kekuasaan atau pemerintahan. Tapi, kami tak mau ada “intervensi” terhadap proses kepemimpinan di internal,” tegas seorang pengurus DPD II Golkar Aceh, pendukung Nurlif, Jumat kemarin di Banda Aceh.

Pengakuan sumber ini memang ada benarnya. Sebab, saat ini, Partai Golkar Aceh satu barisan dalam Koalisi Merah Putih (pendukung pemerintahan Nova Iriansyah) bersama PPP, PKB, PDA, PDIP dan NasDem.

Tapi, sumber lain media ini juga menyebutkan dan menduga. Musda Golkar Aceh tahun ini juga sebagai ajang “adu kekuatan” dua pengusaha papan atas Aceh. Antara Lukman CM, sohib dekat mantan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf yang juga pendukung setia TM.Nurlif versus Makmur Budiman, Ketua Kadin Aceh, yang kini menjadi “tokoh sentral” dibalik Pemerintahan Nova Iriansyah.

"Walau keduanya berasal dari satu daerah yang sama; Aceh Besar, tapi relatif berbeda dalam politik dan dunia usaha," ungkap sumber media ini, Sabtu siang di Banda Aceh. Benarkah? Selengkapnya baca edisi cetak.***

Komentar

Loading...