Mengenal Potensi Negeri Simeulue (bagian pertama)

Dari Emas, Gas Alam, Udang Lopster Hingga Selancar

Dari Emas, Gas Alam, Udang Lopster Hingga Selancar
Bandara Lasikin, Pintu Masuk Melalui Udara ke Simeulue/google.com
Penulis
Rubrik
Sumber
Majalah INSPIRATOR (kelompok media MODUSACEH.CO dan Tabloid MODUS ACEH)
 
Kabupaten Simeulue memiliki 15 pulau yang berpenghuni dan 27 pulau tidak berpenghuni serta layak untuk dibangun resort pariwisata. Selain itu, terdapat berbagai objek wisata lain seperti Makam Mangkudo Batu di Teupah Barat, Makam Tengku Di Ujung Simeulue Tengah, Makam T Silaborit di Simeulue Tengah dan Benteng Belanda di Teupah Selatan maupun Teupah Barat. Simeulue juga kaya kandungan mineral dan tambang seperti minyak, gas alam serta emas. Di sektor perikanan, pulau ini kaya ikan dan sangat terkenal sebagai kawasan penghasil udang lopster berkualitas dunia. Inilah potensi negeri yang belum terjamah.
 ***
 
BENCANA tsunami yang melanda Aceh, 26 Desember 2004 atau sebelas tahun silam, telah membawa banyak hikmah bagi masyarakat Aceh termasuk Kabupaten Simeulue. Pulau ini menjadi terkenal sebagai salah satu daerah yang terkena gelombang tsunami namun tidak menimbulkan korban jiwa besar. Masyarakat dunia merasa kagum atas upaya masyarakat Simeulue dalam menghindari korban jiwa yang sangat besar, seperti daerah lain di Aceh. Maklum, masyarakat Simeulue masih tetap memegang adat istiadat dan mematuhi nasihat orang tua, untuk memelihara hutan mangrove, berlari ke gunung atau tempat yang lebih tinggi jika terjadi gempa besar, diikuti surutnya air laut.
 
Sebagai daerah kepulauan, Simeulue banyak memiliki pantai dan pemandangan bawah laut dengan berbagai biota yang sangat indah. Tingginya gelombang menjadi tantangan menarik bagi para peselencar lokal, nasional bahkan internasional untuk menaklukannya. Itu sebabnya, Pemerintah Aceh melalui Dinas Pariwisata Aceh dan Pemerintah Kabupaten Simeulue, saban tahun mengelar event Aceh Surfing International Championship. Selain itu, udang lobster merupakan budidaya unggulan masyarakat Simeulue dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan untuk menikmatinya. Kabupaten Simeulue memiliki 15 pulau yang berpenghuni dan 27 pulau yang tidak berpenghuni. Kedua puluh tujuh pulau yang tidak berpenghuni tersebut, sangat layak untuk dijadikan resort pariwisata. Selain potensi alam, adat istiadat yang tetap dipegang teguh masyarakat Simeulue, menjadi potensi bagi pengembangan industri pariwisata.
 ***
Hampir seluruh penduduk kepulauan ini beragama Islam. Profil mereka seperti orang Cina, dengan kulit kuning dan sipit serta mempunyai bahasa yang berbeda dengan Aceh daratan. Terdapat tiga bahasa utama yang dominan dalam pergaulan sehari-hari yakni bahasa Ulau, Sibigo dan Jamee. Bahasa Ulau (pulau) umumnya digunakan penduduk yang berdomisili di Kecamatan Simeulue Timur, Teupah Selatan, Teupah Barat, Simeulue Tengah dan Teluk Dalam. Bahasa Sibigo umumnya digunakan penduduk di Kecamatan Simeulue Barat, Alafan dan Salang. Sedangkan bahasa Jamee (tamu) digunakan khususnya penduduk yang berdiam di sekitar Kota Sinabang dan umumnya para perantau niaga dari Minangkabau, Sumatera Barat maupun Mandailing, Sumatera Utara.
 
Masyarakat Simeulue mempunyai adat dan budaya tersendiri, berbeda dengan saudaranya di daratan Aceh. Salah satunya adalah seni nandong yaitu, seni nyanyi bertutur diiringi gendang tetabuhan dan biola yang ditampilkan semalam suntuk pada acara-acara tertentu dan istimewa. Terdapat pula seni yang sangat digemari sebagian besar masyarakat seperti debus, seni bela diri kedigjayaan kekebalan tubuh terutama dari tusukan bacokan pedang, rencong, rantai besi membara, bambu, serta benda-benda tajam lainnya. Dari seni inilah para pendekar Simeulue acap diundang ke mancanegara.
 
Salah satu andalan Kabupaten Simeulue yang menjadi ciri khas adalah kerbau. Meski ukurannya kecil, namun rasa dagingnya lebih manis dari kerbau di daratan sumatera. Kerbau ini banyak dijual keluar Pulau Simeulue karena kualitasnya prima, harganya juga tinggi. Dalam satu dasawarsa terakhir, hasil Pulau Simeulue yang sangat terkenal adalah lobster (udang laut) yang cukup besar ukurannya dan telah diekspor ke Medan, Jakarta bahkan ke luar negeri hingga Singapura dan Malaysia. Kabupaten ini juga terkenal dengan hasil cengkehnya. Hasil perkebunan rakyat lain adalah kopra yang berasal dari pohon kelapa yang tumbuh subur di sepanjang pantai Pulau Simeulue. Sedangkan hasil hutan yang menjadi sumber utama pabrik meubel di Cirebon, Jawa Barat adalah rotan.
 
Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) dan Lembaga Riset Geologi dan Kelautan Jerman (BGR), menemukan potensi minyak (hidrokarbon) dalam jumlah sangat besar di perairan timur laut Pulau Simeulue. Prediksi sementara jumlah kandungan minyak yang ada sekitar 107,5-320,79 miliar barel. "Temuan ini hasil riset Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam BPPT Jakarta sebagai tujuan awalnya untuk mengetahui detil deformasi struktur geologi di daerah busur muka (fore arc) pasca tsunami 26 Desember 2004 silam," jelas Bupati Simuelue Drs Riswan NS.
 
Dibandingkan dengan cadangan minyak bumi milik Arab Saudi yang mencapai 264,21 miliar barrel. Temuan itu, menurut Riswan, sangat signifikan. Sedangkan nilai volume di perairan timur laut Pulau Simeulue itu dihitung minimal 17,1 x 109 m³ dan maksimal volume total 51 x 109 m³.  "Perkiraan volume berdasar volume reservoir yang dihitung atas dasar sejumlah asumsi, yakni seismik dua dimensi, karbonat build-up berbentuk melingkar, faktor pengali elongasi antara 0,5-1,5 dan porositas 30 persen," ungkap Riswan.***

Komentar

Loading...