Mengenang Almarhum H. Harun Keuchik Leumiek

Dari Daging Meugang Hingga Mahar Menikah  

Dari Daging Meugang Hingga Mahar Menikah  
Bersama almarhum Haji Harun Keuchiek Leumiek (Foto: Dok. MODUSACEH.CO)
Rubrik

Rabu siang pekan lalu, kabar duka menyelimuti dunia pers dan jurnalis Aceh. Haji Harun Keuchik Leumiek, seorang wartawan senior, menghadap Sang Pencipta. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un!

MODUSACEH.CO | Hanya beberapa menit, kabar duka itu masuk ke telpon seluler  saya. “Ya, Haji Harun Keuchik Leumiek telah meninggalkan kita Bang, sekira pukul 14.15 WIB barusan,” kata seorang teman mengabarkan.

Hari itu, Rabu, 16 September 2020. Telingga saya seakan tak percaya. Sebab, baru sepekan lalu, saya berkomunikasi dengannya. Namun, batin seketika membisik. Langkah, rezeki, pertemuan dan maut (kematian) adalah milik Allah SWT.

“Ayahanda Harun Keuchil Leumiek, wafat di rumahnya, Kawasan Simpang Surabaya (Kota Banda Aceh),” sambung rekan tadi.

Untuk memastikan kabar duka ini, saya pun menghubungi H. Kamaruzzaman, putra satu-satunya Haji Harun Keuchik Leumiek.

“Benar, Bapak telah menghadap Allah SWT untuk selama-lamanya, katanya di ujung telpon seluler. “Tidak ada sakit, Bapak hanya sedikit lemas. Mohon doanya,” sambung H. Kamaruzzan atau akrab disapa Memet.

Hanya dalam beberapa menit, kabar duka itu menyebar cepat pada seluruh kolega, rekan dan sahabat tokoh pers Aceh ini. Terutama di jajaran jurnalis Aceh, Medan dan Jakarta.

Itu sebabnya, bagi saya, almarhum bukanlah sekedar sosok jurnalis senior Aceh biasa. Lebih dari itu, sudah seperti ayah sendiri. Banyak hal yang saya dapatkan dari pengusaha emas Aceh ini.

Mulai dari nasihat hingga cerita dan kisahnya dalam membangun usaha, warisan dari sang ayah, Haji Keuchiek Leumiek. Terlebih saat saya menghadapi “badai”, dipecat dari keanggotaan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh, tanggal 20 November 2015.

Dari puluhan wartawan senior di Banda Aceh. Hanya almarhum yang selalu memotivasi dan memberi nasihat kepada saya.

“Saya sudah cukup kenal kamu Shaleh. Organisasi itu hanya tempat berhimpun, sementara menjadi jurnalis sejati adalah panggilan jiwa. Teruslah berkarya dan berbuat terbaik. Waktu akan menjawab semua itu,” begitu kata Haji Harun Keuchik Leumiek, sepekan setelah pemecatan itu terjadi.

Hari itu, 27 Oktober 2015, saya khusus dipanggil ke toko emasnya di kawasan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Kehadiran saya, rupanya sudah ditunggu lama.

“Shaleh, emas itu tetap emas, tak mungkin menjadi perak dan mitasi. Kemampuan dan pengalaman kamu lebih dari rata-rata wartawan di Aceh. Karena itu wajar, jika mereka menganggap kamu “lawan” bukan “kawan,” ucapnya memberi semangat. Sejak itulah, hubungan saya dengan Haji Harun Keuchiek Leumiek kian akrab.

Memang, bagi saya almarhum bukanlah sosok asing. Namanya sudah tersohor sejak tahun 1970-an sebagai wartawan bertalenta dan dikenal tertib menyimpan berbagai arsip. Terutama foto-foto tempo dulu dan berbagai benda sejarah Aceh.

Selain itu, dikenal produktif menulis buku. Dibandingkan wartawan senior seusia dengannya, H. Harun Keuchik Leumiek, memang jauh berbeda dan membuat saya cemburu dengan berbagai karyanya.

***

Saya berkenalan dengan almarhum sejak tahun 1994. Itu terjadi, saat saya memilih untuk tinggal di Kota Banda Aceh, menjadi jurnalis salah satu harian lokal di Aceh.

Saban hari, usai melakukan liputan, saya sering bertemu dengan almarhum. Kalau tidak di toko emasnya, ya di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

Maklum, sebelum mendirikan Masjid Haji Keuchiek Leumiek, almarhum memang dikenal sebagai jamaah di masjid kebanggaan rakyat Aceh ini. Jika waktu shalat tiba, dia pun menutup seluruh usahanya itu.

Nah, diantara waktu istirahat itulah, saya sering bertanya dan dia bercerita tentang banyak hal, terkait kondisi media serta jurnalis di Aceh, khususnya Banda Aceh.

Dari sanalah, budayawan Aceh, pengusaha emas dan kolektor benda sejarah Aceh ini mengulang berbagai cerita, yang dia lakoni untuk para jurnalis dan tanah kelahirannya, Aceh.

“Kamu jangan ragu-ragu, jika ada masalah sampaikan kepada saya,” katanya sekali waktu.

Benar saja, suatu hari di tahun 1997, saya benar-benar kepepet dana. Setelah berusaha ke sana dan kemari untuk mencari pinjaman tak berhasil, akhirnya saya merapat kepada almarhum.

“Berapa kamu butuh, cukup! Kalau kurang bilang dan jangan malu, ayah bantu,” ucapnya sambil menyodorkan satu amplop pinjaman uang kepada saya.

Merasa tersanjung dan terbantu. Nasib baik ini pun saya ceritakan kepada rekan-rekan di Kantor PWI Aceh, kawasan Simpang Lima Banda Aceh. Mereka tersenyum. Rupanya, ada banyak kisah serupa yang dialami jurnalis di Banda Aceh.

“Jangankan kamu, bila butuh sapi untuk meugang lebaran bagi anggota PWI dan emas bagi wartawan yang mau menikah, kami pun merapat pada Pak Harun dan dia bantu,” jelas seorang teman ketika itu.

Informasi ini membuat saya semakin penasaran. Satu per satu, cerita tadi saya kumpulkan dan buktikan.

Benar saja, beberapa hari saat meugang Idul Fitri dan Idul Adha tiba dan Pengurus PWI Aceh tak punya dana segar untuk “melestarikan” tradisi bagi-bagi daging tersebut. Ujung-ujung merapat dan meminjam pada almarhum.

Nah, itulah satu dari puluhan atau mungkin seratusan kisah baik dari almarhum Haji Harus Keuchiek Leumiek yang saya tahu dan alami. Bisa jadi lebih.

Tapi satu hal yang patut dicatat, almarhum sosok yang teguh memegang janji. Bila seseorang meminjam barang atau uang kepada dia, maka saat menulasinya harus tepat waktu. Bila tidak, sampaikan kondisi yang sebenarnya dan dia maklum.

“Saat menikah dulu, mahar saya kurang. Saya datang ke Pak Harun dan minta pinjaman (hutang) dulu, langsung dia berikan. Ketika saya belum cukup uang untuk membayarnya, dia tetap memberi waktu. Yang penting kita harus berkata jujur,” ungkap seorang rekan dengan raut wajah malu.

Haji Harun Keuchik Leumiek, lahir di Banda Aceh, 19 September 1942. Dia seorang pengusaha, wartawan, penulis, dan tokoh masyarakat Aceh, Indonesia.

Sempat mengenyam pendidikan formal di Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala Banda Aceh sampai semester I. Selanjutnya ia terjun langsung dalam bisnis kerajinan dan toko emas keluarga yang rintis ayahnya Keuchik Leumiek sejak tahun 1950-an.

Sejak tahun 1970-an ia menjadi wartawan Mimbar Swadaya Banda Aceh (kini Harian Serambi Indonesia), wartawan Harian Mimbar Umum Medan, dan wartawan Harian Analisa Medan dan hingga akhir hayatnya ia mengumpulkan benda-benda bersejarah Aceh.

Selamat jalan ayahanda, saya dan  jurnalis Aceh bersaksi bahwa, ayahanda sosok yang baik. Semoga Allah SWT memberikan husnul khatimah. Aamiin.***

Komentar

Loading...