Breaking News

Dalang Konflik PNA

Dalang Konflik PNA

DALAM pertunjukan wayang, dalang mempunyai “multi peran”. Misal, sebagai sutradara, aktor, narator, ilustrator, konduktor, penata musik, penata cahaya, sekaligus manager.

Begitulah kompleknya tugas yang harus diemban seorang dalang. Karena itu, tak mudah untuk menjadi seorang dalang. Maka, sedikitnya ada tujuh persyaratan untuk menjadi seorang dalang.

Pertama mardawalagu, artinya harus paham betul lagu karawitan (gendhing) dan nyanyian (tembang) dan kawi yang digunakan untuk sulukan. Kedua amardibasa, artinya harus dapat membeda-bedakan bahasa cakepan masing-masing tokoh wayang, menurut golongan derajatnya.

Misal, bahasa yang berlaku di lingkungan kerajaan, para dewa, manusia, raksasa, prajurit, dan pendeta.

Ketiga awicarita. Artinya menguasai cerita yang digunakan dalam pedalangan. Keempat paramakawi. Artinya memahami bahasa Kawi untuk menjelaskan narasi yang memerlukan padan kata.

Kelima paramasastra, artinya tidak buta aksara dan keenam renggep. Artinya, pedalangnya selalu penuh semangat. Terakhir atau ketujuh sabet. Artinya, trampil dalam menggerakkan semua wayang.

Karena kompleksitas ini, budayawan Umar Kayam mengaku, tak mudah menjadi seorang dalang. Namun, walau mayoritas dinominasi kaum Adam, ada juga dalang dari kaum perempuan. Trend ini dimulai pada tahun 1980-an.

Lantas, adakah kaitan peran dalang dalam permainan politik? Rekan Umat Kayam yaitu Putu Setia dalam kolom (tempo.co, Sabtu, 15 Juni 2019) menulis.

Mencari tahu siapa yang menjadi dalang itu memang gampang-gampang susah. Tergantung apa peristiwanya dan bagaimana situasinya.

Menurut Putu Setia, dalang yang dihormati dan di beberapa etnis kedudukannya, setara ustad atau guru dan ulama. Ini karena ilmu yang dimilikinya.

Namun faktor budaya menyebabkan posisi dalang bisa berbeda. Dalang wayang kulit Jawa sangat mudah dikenali dan tak perlu ditelisik untuk tahu.

Sebab, dia memamerkan dirinya saat memainkan wayang karena penonton umumnya berada di belakang dalang, sedikit yang melihat bayang-bayang wayang.

Karena itu, Ki Dalang berdandan yang baik, baju dan ikat kepalanya khas, bahkan ada keris di pinggangnya.

Dalang wayang golek bisa sedikit berkelit untuk tidak selamanya menjadi tontonan. Orang tahu siapa Ki Dalang itu. Adapun Ki Dalang wayang kulit Bali tersembunyi di sebuah panggung yang dibatasi kelir, yang tak sembarang orang bisa melihatnya.

Penonton hanya melihat bayang-bayang, karena itulah sesungguhnya wayang, yang berarti bayangan.

Siapa Ki Dalang itu? Tentu harus dicari asal-usulnya dan bertanya ke sana ke mari. Ki Dalang, saat pentas memainkan wayang, bisa jadi hanya memakai sarung, bahkan celana kolor, tanpa baju.

Maklum, panas oleh api blancong (sumber cahaya pentas). Dia tak peduli dengan penampilan, siapa yang melihatnya kecuali penabuh gamelan?

Persamaannya tulis Putu Setia, para dalang itu memainkan dengan sesuka hati para wayangnya. Mau bikin perang atau rusuh melulu, atau bikin goro-goro membanyol, terserah Ki Dalang. Para wayang tak bisa protes, wong mereka itu boneka.

Ada dalang lain yang tak memainkan wayang. Misalnya, dalang sendratari. Kesenian ini tergolong baru meskipun tidak baru amat.

Sendratari itu akronim dari seni drama tari. Penari memainkan perannya di panggung dan bercerita seperti ada drama, tapi tak boleh bersuara.

Dia berbicara dengan bahasa tubuh, bahkan bibirnya pura-pura menyanyi atau berdialog. Tapi suaranya dibawakan Ki Dalang yang entah berada di mana.

Yang jelas, berada di sekitar pentas. Tapi Ki Dalang tak bisa seenaknya bicara karena ada batasannya, yakni gerak tari dan terutama iringan gamelan.

Namun, semua ucapan Ki Dalang harus sesuai dengan alur yang telah ada.

Lantas, siapa pembuat alur? Itulah peran sutradara. Posisinya paling atas, tapi tak tampak di mata penonton. Mungkin pula tak ada di sekitar pementasan. Sulit dilacak siapa dia.

Nah, lepas dari semua itu, yang jadi soal adalah, adakah dalang dibalik konflik internal yang kini melanda Partai Nanggroe Aceh atau PNA?

Putu Setia menulis. Dalang dibalik kisruh partai politik memang sulit ditelusuri? Sebab, cara mereka menjadi dalang tak meniru dalang wayang kulit Jawa.

Bisa jadi, dalang kisruh politik terinspirasi dari dalang wayang kulit Bali, yang memainkan para wayangnya tanpa menunjukkan jati diri.

Karena itu, kader dan elit PNA harus segera sadar dengan mencari serta siapa dalang di balik kisruh ini. Mulai dari pesinden dan penabuh gendang hingga sutradara yang membuat skenario.

Tentu pasti sulit karena mereka bisa jadi tidak tahu atau berdalih tak tahu siapa dalangnya.

Atau dalang kisruh di tubuh PNA saat ini, hanya sejenis dalang sendratari. Dia penggerak di lapangan dengan teks yang sudah ada.

Skenarionya disusun orang lain, ada sutradaranya. Bisa satu atau dua, atau lebih. Tentu, butuh waktu untuk menelusurinya.

Karena itu, satu-satunya jalan untuk mengakhiri konflik interna PNA atau Irwandi versus Samsul Bahri alias Tiyong ini, dengan duduk bersama, kembali membangun rekonstruksi-rekonsiliasi, menyatukan hati yang sempat dibakar amarah.

Sebab, bukan tidak mungkin ada “dendam” lama dari para dalang di tanah Jawa (baca: Jakarta), yang dulu pernah memainkan peran bersama Irwandi Yusuf-Samsul Bahri (ketua tim sukses), untuk memenagkan Pilkada 2017 lalu, dan kini muncul kembali setelah lama “istirahat”.

Alasannya mungkin sangat sederhana. Pertama, ada janji yang tak ditepati, sehingga dalang sakit hati. Kedua, meningkatnya perolehan suara PNA di Parlemen Aceh (DPRA), dari 3 menjadi 6 kursi dan  puluhan lainnya di kabupaten dan kota se-Aceh.

Ketiga, masuknya PNA dalam Koalisi Aceh Bermartabat (KAB) Jilid II bersama Partai Aceh (PA). Padahal, dua partai lokal ini ditafsir sebelumnya oleh para dalang sebagai musuh berbuyutan.

Kenyataan politik ini sungguh menyentakkan hati para dalang di Jakarta yang memang selama ini telah sukses “membonsai” Partai Aceh, selama tiga periode Pilkada dan Pileg di Aceh, sehingga mengerus perolehan kursi.

Sebaliknya, PNA yang mereka rasakan atau akui (sepihak) ikut membesarkannya. Kini, sudah berjalan sendiri dan semakin “liar” alias mulai sulit dikendalikan. Karena itu, satu-satunya jalan adalah; merusak dari dalam.

Ironis sekaligus tragis, para penonton (kader dan elit PNA) justeru ikut larut. Ada yang tertawa, tersenyum. Bahkan menangis saat menyaksikan dan mengikuti cerita yang dimainkan dan perankan oleh dalang. Padahal, itu hanya cerita fiktif, bukan fakta!

Bayangkan, awalnya (mungkin) pura-pura tapi berakhir serius. Entahlah! (selengkapnya baca edisi cetak).***

Komentar

Loading...