Breaking News

Curhat Mantan Mucikari di Kota Gemilang, Niat Ingin Insaf Tapi Ketagihan

Curhat Mantan Mucikari di Kota Gemilang, Niat Ingin Insaf Tapi Ketagihan
Ilustrasi
Penulis
Rubrik

Banda Aceh l Pernah terjerat hukum kasus prostitusi yang menyebabkan dirinya masuk penjara. Anto (bukan nama sebenarnya) seorang mucikari di Kota Gilangn, Banda Aceh ini, mengaku menyesal atas perbuatannya itu.

Sempat muncul niat ingin insaf, namun karena ketagihan dengan pundi-pundi uang yang sangat mudah didapatkan dari bisnis esek-esek tadi, akhirnya dia urung  dari profesi tersebut.

“Pernah sih tersirat niat pengen insaf, tapi saya ketagihan dengan uangnya, cuma masuk penjara itu sakit banget. Kalau pun saya mau terjun lagi, tapi nggak di Banda Aceh. Aku mau di luar Aceh,” curhatnya dengan nada manja pada media MODUSACEH.CO, Rabu malam, 12 Februari 2020, di Banda Aceh.

Anto bercerita tentang awal mula dia terjun di dunia prostitusi atau jadi mucikari. Itu disebabkan karena dia dimarahi dosen Bahasa Inggris (S1), pada salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Banda Aceh, tempat Anto kuliah. Dia tak diberi izin masuk kelas, karena terlambat.

Saat itu, Anto mengaku sangat kesal dan memilih pulang ke rumah kos. Namun, saat hendak pulang, mahasiswa asal Pulau Jawa ini bertemu dengan kawan perempuan (sesama mahasiswa) yang mengajaknya koraoke di salah satu hotel mewah di Banda Aceh.

“Aku bilang boleh. Tapi aku gak ada uang nih! Kata kawan aku tuh, dia yang traktir. Dia lagi banyak uang  kiriman. Ya dibawalah aku ke hotel yang lumayan besar itu,” jelasnya.

Anto merupakan warga pendatang. Dia mengaku kanget ketika berada di hotel. Katanya, dia melihat ada tempat dugem di hotel tersebut dan dia sempat bertanya kepada kawannya, namun malah disepelekan.

“Aku kaget kok di Banda Aceh ada tempat dugem. Aku tanya sama kawan tadi, terus dijawab nggak usah norak, nggak usah kampungan. Ya udah aku sok-sok-an aja, seolah sudah sering main ke situ,” kata Anto.

Melihat kondisi tempat dugem yang ramai dengan suasana remang-remang, lantas Anto memberanikan diri untuk menemui seorang laki laki paruh baya yang sedang duduk di kursi sambil menikmati secangkir minuman.

“Aku lihat ada Om-om lagi duduk. Ya udah aku beranikan diri samperin dia. Aku tanya, lagi apa Om, kok sendiri? Terus si Om-om itu jawab. Iya ni, sama kamu ada nggak satu orang yang bisa temanin Om? Nah aku kan kaget banget,” ceritanya.

Anto langsung menemuai salah satu perempuan yang sedang joget atau menari, dan mengutarakan niatnya untuk memperkenalkannya kepada laki laki tadi. Tanpa menunggu waktu lama si perempuan langsung setuju.

“Terus mereka duduk berdua, aku  dipanggil Om-om tadi dan dikasih amplob. Gak sabar, aku masuk ke kamar mandi, trus aku buka. Isinya lima ratus ribu. Ya ampun, aku seneng kali. Mudah banget cari uang dalam hati aku,” katanya sambil tertawa cegengesan.

Tak ingin melewatkan kesempatan baik tadi, besoknya Anto datang kembali ke tempat dugem itu. Pundi pundi uang pun diterimanya, sembari membagikan persenan kepada para perempuan yang bekerjasama dengannya.

“Lama-lama gadis-gadis itu sudah berada dalam pengawasan dan kendali aku. Aku dapat 30 persen dari hasil mereka. Ya trus gitu dan berlanjut sampai aku jadi mucikari mereka. Dan akhirnya kita main dari satu hotel ke hotel lain,” ucapnya bangga.

Tarif para ladies (wanita) itu beragam, dia membuat porsi harga sesuai dengan kriteria dan ciri ciri tertentu. Mulai dari Rp 150 ribu sampai tiga jutaan untuk sekali kencani. Ada mahasiwi, SPG dan gadis berparas cantik yang modis.

“Itu tergantung kelas. Untuk SPG dan mahasiswi dan tergantung fashion mereka juga. Pengguna tuh beragam, mulai dari tukang becak juga para pejabat lokal dan pejabat luar, serta para turis yang melancong ke Banda Aceh,” ungkapnya.

Anto, bukanlah satu-satunya mucikari atau germo di Banda Aceh. Katanya, selain dia masih banyak germo-germo lain yang belum terungkap. Tentu dengan modus operandi berbeda, namun banyak belajar dari kasus yang dia alami.***

Komentar

Loading...