Breaking News

"Menggugat" Data Kematian Pasien

Covid-19, Rumah Sakit dan Dugaan Moeldoko

Covid-19, Rumah Sakit dan Dugaan Moeldoko
Kepala Kantor Staf Kepresidenan Moeldoko (Foto: Instagram/@dr_moeldoko)

Kepala Kantor Staf Kepresidenan Moeldoko dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sepakat, rumah sakit bersikap jujur mengenai data kematian pasien saat pandemi Covid-19. Ini penting agar tidak menimbulkan keresahan di masyarakat. Sementara, Ketua Presidium IPW Neta S. Pane dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (3/10/2020) menyebut adanya mafia rumah sakit. Berikut laporan Muhammad Saleh untuk Fokus pekan ini. Bahan tulisan dihimpun dari berbagai sumber.

MODUSACEH.CO I Terasa ada, tapi terkata tidak. Begitulah sas sus tentang “ketidakjujuran” rumah sakit terhadap status kematian pasien Covid-19.

Dan kini, sinyalemen itu diungkap secara terbuka Kepala Kantor Staf Kepresidenan Moeldoko dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Andai tidak keluar dari mulut dua pejabat ini. Bukan mustahil akan jerat dengan  Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Khususnya pasal ujaran kebencian, fitnah dan lainnya. Ancaman minimalnya, enam tahun penjara.

Tapi, lupakan soal itu sejenak. Ini mengenai kejujuran rumah sakit terhadap data kematian pasien Covid-19.

"Tadi saya diskusi banyak dengan Pak Gubernur, salah satunya tentang definisi ulang kasus kematian selama pandemi. Definisi ini harus kita lihat kembali, jangan sampai semua kematian pasien selalu dikatakan akibat Covid-19," ungkap Moeldoko di Semarang, Kamis lalu.

Bahkan, dia menyebut cukup keras lagi. Ada kasus pasien kecelakaan meninggal disebut Covid-19.

Moeldoko mengungkap, awalnya ia datang menemui Ganjar Pranowo untuk membahas sejumlah hal terkait penanganan Covid-19. Isu yang berkembang saat ini, rumah sakit rujukan "meng-Covid-kan" semua pasien yang meninggal dunia untuk mendapatkan anggaran dari pemerintah.

Moeldoko menyebut, sudah banyak terjadi, orang sakit biasa atau mengalami kecelakaan, didefinisikan meninggal karena Covid-19 oleh pihak rumah sakit yang menanganinya.

Padahal sebenarnya hasil tesnya negatif. "Ini perlu diluruskan agar jangan sampai menguntungkan pihak-pihak yang ingin mencari keuntungan dari definisi itu," ujarnya.

Ganjar membenarkan adanya isu tersebut dan menimbulkan keresahan dalam masyarakat sudah pernah terjadi di Jawa Tengah.

"Tadi Pak Moeldoko tanya, bagaimana ya banyak asumsi muncul semua yang meninggal di rumah sakit 'di-Covid-kan'. Ini sudah terjadi di Jawa Tengah, ada orang diperkirakan Covid-19 terus meninggal, padahal hasil tes belum keluar. Setelah hasilnya keluar, ternyata negatif. Ini kasihan, contoh-contoh agar kita bisa memperbaiki hal ini," katanya.

Untuk mengantisipasi hal itu, Ganjar menegaskan sudah menggelar rapat dengan jajaran rumah sakit rujukan Covid-19 di Jawa Tengah. Hasilnya diputuskan, untuk menentukan atau mengekspos data kematian pasien Covid-19 harus terverifikasi terlebih dulu.

20201003-sakit

Petugas medis memeriksa kondisi pasien kritis virus corona atau COVID-19 di Rumah Sakit Jinyintan, Wuhan, Provinsi Hubei, China (Foto: Chinatopix Via AP)

"Seluruh rumah sakit di mana ada pasien meninggal, maka otoritas dokter harus memberikan catatan meninggal karena apa. Catatan itu harus diberikan kepada kami, untuk kami verifikasi dan memberikan 'statement' keluar," tegas dia.

Nah, dengan sistem itu, diakui Ganjar akan terjadi keterlambatan data mengenai angka kematian. "Delay data itu lebih baik daripada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," kata Ganjar. (bersambung).***

Komentar

Loading...