Breaking News

Konflik Bupati versus Wabup Nagan Raya

Chalidin Oesman: Saya Diam dan Sabar Karena tak Mau Gaduh!

Chalidin Oesman: Saya Diam dan Sabar Karena tak Mau Gaduh!
Bupati dan Wakil Bupati Nagan (Foto: Ist)
Rubrik

Seperti jamak pemimpin di negeri ini. Hubungan antara Bupati dan Wakil Bupati akhirnya terlibat konflik internal menahun. Salah satunya Bupati Kabupaten Nagan Raya Jamin Idham versus Wakil Bupati (Wabup) Chalidin Oesman. Keduanya dikabarkan sudah  tidak harmonis, usai tiga bulan dilantik sebagai orang nomor satu dan dua daerah ini. Kepada media ini, Selasa, 2 Februari 2021  malam. Chalidin mengaku tidak diberikan tugas apapun oleh Jamin sejak dilantik 3 tahun lalu. Nah, berikut penuturan Chalidin kepada Muhammad Saleh dari MODUSACEH.CO melalui telpon seluler.

SUDAH Sudah tiga tahun saya tidak melaksanakan tugas. Saya  diam dan jadi menonton.  Maklum, setelah kami dilantik, bupati langsung bekerja sendiri dan tidak ada wewenang dan pembagian tugas apapun yang diberikan kepada saya selaku wakilnya.

Itu sebabnya, saya sudah tak masuk kantor sejak Desember 2020. Saat ini saya sedang berobat di Jakarta sehingga tak bisa berada di Nagan Raya, Provinsi Aceh.

Kenapa semua itu terjadi? Ya, saya tidak tahu alasan apa sehingga bupati tak memberi peran dan tugas kepada saya.

Lalu, saya ke Jakarta hingga saat ini untuk berobat. Sakit apa? Macam-macam, termasuk saya “jiwa” karena pikiran. Ha..ha..ha. Saya baru 1,5 bulan di Jakarta. Jadi, tidak benar berbulan-bulan saya tidak masuk kantor.

Nah, yang benar, sejak 3 tahun lalu saya tidak diberi peran. Itu betul sekali! Sebut Chalidin sambil tertawa. Saat itu saya mewakili Partai Aceh (PA). Tapi, begitu terpilih, saya tidak ada peran apa-apa. Saya tidak tahu mau berbuat apa.

Bukankah saat Bupati H.T Zulkarnaini atau yang akrab disapa Ampon Bang memimpin dan Jamin Idham (Wabup Nagan) ada mengeluarkan Perbup tentang pembagian tugas dan peran Bupati dan Wabup? Betul. Ini sesuai UUPA, mukim, tuha peut dan perangkat desa, surat keputusannya (SK) diteken Wabup. Lalu, Inspektorat, Pemuda dan Olahraga, MAA dan Dinas Syariat Islam juga dibawah koordinasi Wabup.

Berarti, ketika dia menjadi bupati semua berubah? Entahlah, saya tidak tahu mau kerja apa? Sebab, Wabup adalah pembantu bupati. Faktanya, semua ASN melapor kepada bupati, karena bupati tempat bagi mereka berlindung dari jabatan.

Boleh cek, setahun 4 kali mutasi pejabat di Nagan Raya, tapi tak sekalipun saya diajak berembuk. Saya tahu ada mutasi setelah pelantikan.

20210202-wabup

Wakil Bupati (Wabup) Nagan Raya, Chalidin Oesman (Foto: antara)

Jadi, tidak heran di Nagan pejabat eselon II, III dan IV saya tidak kenal, karena tidak pernah dilibatkan. Lucunya, baru empat bulan dan belum bekerja sudah dimutasi lagi. Jadi, capek kita hafal nama-nama pejabat.

Apakah mereka ada melapor kepada Anda? Tidak, mereka melapor dan berkoordinasi langsung dengan bupati dan sekdakab.

Waktu naik dulu, apakah ada kesepakatan pembagian tugas dan peran? Kalau kontrak politik memang kami tidak buat.

Tapi dulu memang ada perjanjian. Pertama 50:50, lalu berubah 70:30. Ini menyangkut pembagian peran dan tugas. Tapi setelah dilantik, semua itu tidak ada alias nol.

Baiklah, kita tidak bicara itu, kita bicara undang-undang sajalah. Bagaimana Wabup melaksanakan undang-undang,  jika Bupati tidak mendukung undang-undang itu. Caranya, memberi arahan kepada kepala dinas misalnya.

Begitu rawan dan rentankah hubungan Anda dengan Bupati? Ya, itu terjadi seumur jagung atau tiga bulan setelah pelantikan.

Selama ini saya diam, karena saya berpikir, kalau pun tidak ada peran, janganlah sampai saya berbuat gaduh. Tiga tahun saya jadi penonton dan bersabar.

Ini pun  mencuat karena ada wartawan yang terus kejar saya, karena ada masyarakat yang mengkritik kenapa saya tidak masuk kantor.

Selama nyon lon ut,,,lon ut (selama ini saya telan, saya telan). Saya diam, karena saya pikir tidak baik kalau daerah gaduh.

Anda saat ini sudah 1,5 bulan di Jakarta. Berarti selama ini dari rumah ke kantor dan sebaliknya? Betul, dari pendopo dan kantor.

Apakah pendukung Anda diam saja? Saya larang, supaya jangan gaduh sehingga mereka banyak salah paham. Seolah olah saya bersandiwara. Padahal, saya tidak mau gaduh saja.

Dan, kemudian akhirnya saya didepak dari PA oleh ketua baru dan saya pindah ke PDIP. Sikap PDIP sendiri? Sangat menyesalkan karena saya tidak bisa berbakti kepada masyarakat.

Apa sikap PDIP selanjutnya? Mereka sudah berkomentar dan meminta Gubernur Aceh untuk menyelesaikannya.***

Komentar

Loading...