Breaking News

Cerita WNI Kala Covid 'Menggila' Lagi di Jerman dan Rusia

Cerita WNI Kala Covid 'Menggila' Lagi di Jerman dan Rusia
Jerman kembali melakukan lockdown ketika kasus Covid-19 naik lagi. (Foto: AFP/ODD ANDERSEN)
Penulis
Rubrik
Sumber
cnnindonesia.com

Jakarta | Rusia dan Jerman merupakan beberapa negara Eropa yang tengah mengalami lonjakan kasus Covid-19. Walaupun sama-sama mengalami lonjakan kasus, kenaikan angka kematian di negara ini berbeda.

Mengutip Worldometers, kenaikan angka kasus harian Covid-19 di Rusia mencapai 33.996 kasus per Selasa (23/11). Sementara itu, penambahan kasus kematian akibat infeksi corona di hari yang sama mencapai 1.243 kasus.

Berpindah ke Jerman, penambahan kasus positif harian Covid-19 di negara itu mencapai 54.268 kasus pada Selasa (23/11). Namun, kenaikan kasus kematian harian di hari yang sama hanya 343 kasus, terpaut jauh dengan Rusia yang mencapai ribuan.

Walaupun angka kematian yang dihadapi Jerman dan Rusia berbeda, keduanya masih memiliki masalah yang beririsan, yakni kelompok anti-vaksin.

Sebelumnya, para dokter terkemuka Rusia mengundang sejumlah tokoh dari kalangan selebritas hingga politikus anti-vaksin untuk meninjau rumah sakit di area zona merah Covid-19.

Dalam surat terbuka yang dirilis media pemerintah Rusia, TASS, 11 dokter dari berbagai kota mengundang puluhan tokoh publik yang menyatakan diri sebagai anti-vaksin untuk meluangkan waktu guna mengunjungi pusat perawatan pasien Covid-19 yang terkena dampak langsung pandemi.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn menegaskan hanya ada tiga hal yang berlaku bagi warga negaranya saat ini yakni divaksinasi, sembuh dari Covid-19, atau meninggal dunia karena virus serupa SARS itu.

"Mungkin, sampai akhir tahun ini di musim dingin, seperti yang sering dianggap sinis, hampir semua orang di Jerman akan divaksinasi, disembuhkan, atau meninggal (karena Covid)," kata Spahn seperti dikutip CNN.

Muhammad Machally, salah satu warga negara Indonesia yang kini tinggal di Jerman, mengatakan banyak warga negara itu yang khawatir dengan penyebaran virus corona.

"Kalo warga sini, saya amati banyak banget yang khawatir dan takut pas angka (infeksi Covid-19) naik. Setiap mau ketemu selalu minta tes cepat/swab test. Tapi di sini ada juga beberapa kelompok penyangkal corona, namanya Querdenker," tutur Machally ketika diwawancarai CNNIndonesia.com, Selasa (23/11).

Machally juga menuturkan, kelompok penolak vaksin di Jerman muncul karena beberapa masyarakat percaya dengan teori konspirasi.

"Tapi ada beberapa kelompok yang kayanya setuju sama teori-teori konspirasi tentang vaksin dan corona. Tidak mau gara-gara itu tadi, kemakan teori-teori konspirasi. Padahal vaksin 100 persen ada buat setiap warganya sama orang asing yang tinggal di Jerman, gratis," cerita Machally.

Beberapa teori konspirasi yang sempat Machally dengar antara lain ialah vaksin dapat menyebabkan keturunan orang yang menerimanya mengalami keterbelakangan mental. Ada pula beberapa orang yang tidak percaya dengan keberadaan virus corona. Bahkan, ada pula orang yang percaya vaksin memiliki microchip, tambah Machally.

Selain itu, Machally menyinggung soal penyebab kenaikan angka kasus harian positif Covid-19 di Jerman. Ia menilai pelonggaran pembatasan sosial yang terjadi pada musim panas hingga akhir Oktober menjadi salah satu penyebab lonjakan itu.

Tak hanya itu, ia juga menuturkan ada beberapa warga Jerman yang kemudian tak lagi terlalu ketat menjaga diri mereka dari virus, seperti mulai tidak pakai masker dan tak menggunakan hand sanitizer.

Komentar

Loading...