Aceh Barat Daya

Cerita PKI dan Etnis Tionghoa (Bagian Kesepuluh)

Cerita PKI dan Etnis Tionghoa (Bagian Kesepuluh)
Penulis
Rubrik

Dua tokoh masyarakat Abdya H. Abdul Wahab (97 tahun) dan Kasem Syat (99) masih ingat kisah PKI di sana. Kedua tokoh itu mengaku, banyak yang terlibat dalam PKI adalah etnis Tionghoa. Geuchik Wahab, begitu ia akrab disapa, adalah mantan Kepala Desa Seunaloh. Ketika PKI bergejolak di Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Geuchik Wahab masih aktif menjabat sebagai kepala desa di Seunaloh. Sebelumnya, Aceh Barat Daya masuk dalam Wilayah Kabupaten Aceh Selatan.

Media ini menyambangi kediaman Geuchik Wahab. Ketika itu dia sedang melakukan shalat Ashar. Sementara menunggu, wartawan media ini disambut oleh sang istri. Isterinya bercerita, banyak yang dialami Geuchik Wahab semasa perang melawan Belanda dan Jepang hingga pemberontakan PKI. Bahkan, pimpinan PKI di sana pernah mengundang para geuchik (kepala desa) untuk menghadiri rapat di pusat Kota Blangpidie. Sementara, jalur yang dilintasi melalui sungai Krueng Beukah (Krueng Susoh), karena saat itu belum ada jembatan. Saat itu, kondisi pun sedang banjir, maka banyak geuchik yang tinggal di seberang sungai tidak dapat menghadiri undangan PKI tersebut.

Tak lama kemudian, Geuchik Wahab keluar dari kamar dan menghampiri media ini yang menunggu di ruang tamu. Geuchik Wahab berjalan tertatih dengan menggunakan tongkat. Pelan-pelan dia menghampiri kursi yang sudah tersedia. Tangannya bergetar dan langkahnya pun begitu pelan. Wartawan media ini membantu Geuchik Wahab duduk di kursi dengan mata yang berkaca-kaca dan sudah kabur karena faktor usia. Sementara, untuk mengingat sejarah yang telah dijalaninya, dia mengaku sedikit agak kesulitan. Media ini mengajaknya berbicara, namun pelan-pelan Geuchik Wahab bisa menceritakan sejarah PKI masuk ke wilayah Blangpidie.

Menurutnya, PKI itu tidak ada gunanya diceritakan, karena memang jahat. PKI melakukan pembunuhan dengan cara politik tanpa kita ketahui. Pensiunan veteran pejuang kemerdekaan Indonesia ini juga bercerita sekilas tentang masa perjuangan merebut kemerdekaan, setelah Aceh ditinggalkan penjajah, kala itu ia masih  berumur 20 tahun. “Saya sudah banyak lupa. Tapi, apa guna saya ceritakan, karena memang jahat. Mereka membunuh orang dengan cara politik. Dan, ketika bentrok dengan masyarakat, langsung dibunuh,” kenang Geuchik Wahab.

Menurutnya, PKI di Blangpidie kebanyakan dari keturunan etnis Tionghoa yang dipimpin Hasan Panceng, Acok, dan Asanko. Cara PKI bekerja membesarkan partai komunis dengan memberi bantuan. Karena hanya dengan cara itulah masyarakat ketika itu terpaut dan mudah tergoda pada PKI. Namun, diakuinya, tidak ada orang Aceh yang mau menjadi PKI, melainkan hanya dari etnis Cina dan mereka semua telah mati. Menurut Wahab, mereka dibunuh oleh TNI dan rakyat biasa. Wahab bercerita, berbagai modus operandi dilakukan PKI untuk membesarkan partainya di Blangpidie. Semua itu untuk merekrut anggota dengan memberi bantuan. Pertama, didata nama penerima bantuan, selanjutnya direkrut jadi anggota PKI.

Berbeda dengan tempat lain, di Blangpidie tidak ada unsur pemerintah yang bergabung dengan PKI. Karena masyarakat dan pemerintah bersatu untuk melawan PKI. “Waktu itu, saya sebagai geuchik, setelah Indonesia merdeka melawan kaphe (Belanda),” ujar Wahab, pelan. Wahab juga berkisah, Hasan Panceng (pemimpin PKI) di Blangpidie, diseret dengan mobil dari Blangpidie hingga ke Meulaboh, Aceh Barat. Sementara, si Acok dipotong lehernya di daerah jembatan Krueng Beukah oleh masyarakat yang berani dan begitu membenci PKI.

“Kalau tidak salah di tempat pemotongan hewan sekarang (tempat pemotongan hewan ketika meugang menjelang puasa dan lebaran yang berada di Pantai Krueng Beukah)”. Namun, Wahab menolak bercerita lebih jauh, karena ia mengaku kurang sehat dan akan menceritakan semuanya ketika kondisi badannya sehat. “Kalau saya sehat, akan saya bercerita semuanya, karena memang mengerti. Tapi, apa boleh buat sudah tidak ingat lagi,” ujarnya.

Begitu juga saat media ini menyinggung tentang sosok PKI dari kaum perempuan. Ia mengaku, ada tokoh PKI dari kaum perempuan di Blangpidie. Namun, ia tidak ingat lagi siapa nama tokoh PKI saat itu. “Perempuan juga ada, tapi saya tidak ingat lagi siapa,” katanya, menyambung kisah PKI di Abdya. Sementara itu, mantan veteran Kasem Syat (99), Warga Lhung Asan, Kecamatan Blangpidie, Aceh Barat Daya mengungkapkan, PKI itu ditolak oleh masyarakat, karena ideologinya bertentangan dengan Islam. Namun, saat PKI masuk, ia tidak lagi menjadi prajurit TNI, sudah menjadi masyarakat biasa.

Dia bercerita soal cara PKI agar diterima oleh masyarakat Blangpidie saat itu dengan menyogok--memberi uang, jumlah yang beragam. Namun, ia mengaku tidak tahu lagi berapa jumlah uang yang diberikan PKI kepada masyarakat ketika itu. Namun, masyarakat Aceh di Blangpidie seingat dia, tidak ada yang menerima, sehingga tidak ada masyarakat Blangpidie yang masuk PKI. Dia juga bercerita tentang masyarakat Blangpidie yang membunuh salah seorang petinggi PKI yaitu Acok bersama tiga orang PKI lainnya, yaitu Kerani (Ajudan Acok) dan Kalerek, sementara satu orang lagi ia mengaku lupa. Kepada media ini, Kasem mengaku ketiganya dipenggal lehernya oleh masyarakat di Sungai Krueng Beukah. Sementara, pimpinan PKI di Abdya, Hasan Panceng, dibunuh di Alue Bilie, Kabupaten Nagan Raya.

Mengenai pengikut PKI, mereka dibunuh di Alue Baneng, Kecamatan Babahrot, Aceh Barat Daya, termasuk seorang perempuan yang berstatus guru. Dia orang Samadua, Kabupaten Aceh Selatan. “Yang ramai dibunuh di Alue Baneng itu memang orang Samadua,” ungkapnya. Menurut Kasem, setelah mereka dibunuh, dimasukkan dalam sebuah kolam yang berada di tepi jalan. “Ada kolam di atas sana (dari tepi jalan ke arah pegunungan). Di situlah orang-orang itu dibunuh,” kata Kasem, menambahkan.

Siapa yang menangkap mereka? Kasem menjelaskan, para pengikut PKI itu ditangkap oleh Polisi dan TNI saat itu berdasarkan nama dan dokumen yang ditemukan aparat keamanan Republik Indonesia. “Kalau orang kita di sini (Abdya) memang tidak masuk, makanya tidak ada dokumen,” tuturnya lagi. PKI masuk pada tahun 1965, dan pada tahun itu juga terjadi pembunuhan besar-besaran terhadap PKI oleh tentara dan Polisi Republik Indonesia. Namun, bukan berarti begitu PKI masuk ke Blangpidie langsung rusuh. Tetapi, karena telah duluan terjadi kerusuhan di Jakarta, makanya diikuti oleh daerah-daerah, termasuk Abdya.***

Komentar

Loading...