Iklan Sisi Lain Special Ramadhan

Cerita 3 Bayi Kembar di Aceh Ikut Huni Rutan Bireuen

Cerita 3 Bayi Kembar di Aceh Ikut Huni Rutan Bireuen
detik.com
Penulis
Rubrik
Sumber
detik.com

Bireuen | Tiga bayi kembar di Bireuen, Aceh ikut di penjara. Sebab, ibunya Magfirah (27) ditahan di Rutan Bireuen, Aceh. Bagaimana sebenarnya kasus tersebut?

Dikutip detikcom dari situs resmi PN Bireuen, Senin (17/12/2018), kasus itu bermula pada Oktober 2016 lalu saat Magfirah bertemu dengan korban Rahmawati di Pantai Jangka, Bireuen. Mereka waktu itu nongkrong bertiga dengan seorang saksi Desi Ratnasari. 

Magfirah selanjutnya terlibat perbincangan lewat telepon dengan seseorang. Dia membahas soal penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Setelah mengakhiri percakapan, Rahma bertanya pada Magfirah dan meminta dirinya juga diurus menjadi PNS. Rahma juga menyedorkan dua nama lain agar dapat diurus secara bersamaan. 

Dalam perbincangan tersebut, Magfirah tidak memberi jawaban pasti. Namun setelah beberapa hari berselang, Magfirah kembali menghubungi Rahma dan mengaku dapat mengurus. Magfirah meminta uang jutaan rupiah untuk setiap orang yang ingin jadi pegawai. 

"Bisa saya sisipkan untuk PNS, segera diantarkan berkas bersama uangnya sejumlah perorang Rp 7,5 juta. Kalau lulus uang tidak dikembalikan, kalau tidak lulus uang akan dikembalikan tanpa ada pemotongan apapun," kata Magfirah.

Sehari berselang, Rahma mengantar uang ke Magfirah. Korban Rahma datang bersama dua korban lainnya yaitu Iis Jamilah dan Win Junaidi. Pertemuan berlangsung di rumah kos Magfirah di Desa Paya Cut Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen. Uang yang diserahkan waktu itu berjumlah Rp 21 juta serta tiga berkas dokumen sebagai persyaratan. 
Baca juga: Duh! Ibu Ditahan, 3 Bayi Kembar Ikut Menginap di Penjara Aceh

Usai menyerahkan uang, ketiga korban pulang ke kampung halamannya di Aceh Tengah. Sebulan berselang, pada November 2016, terdakwa Magfirah mengirim SMS ke Rahma dan memberitahu bahwa Rahma diterima sebagai PNS di Rumah Sakit Santa Maria Pekan Baru Riau. SK Rahma dijanjikan bakal keluar Februari 2017. 

Tak lama berselang, Magfirah kembali menghubungi Rahma jika dirinya dapat mengurus kepindahan dari Riau ke Aceh. Syaratnya harus menyetor uang Rp 4 juta/orang. Korban tertarik dengan tawaran tersebut dan kembali menyerahkan uang kepada terdakwa sebesar Rp 12 juta. 

Dua bulan kemudian, Magfirah lagi-lagi menghubungi Rahma dan memintanya mencari orang-orang yang mau menjadi PNS. Kala itu, Rahma berhasil mengumpulkan empat orang yiatu Mahmuddin, Heri, Ira dan Sabrianto. Keempatnya asal Aceh Tengah dan Bener Meriah. 

Berkas keempat korban diserahkan pada Magfirah pada Maret 2017. Mereka juga mengirim uang via bank sebesar Rp 11 juta. Beberapa bulan berselang, tepatnya pada Mei 2017, Rahma menghubungi Magfirah untuk memastikan kapan SK-nya keluar dan dijanjikan bakal keluar pada Juli 2017. 

Setelah Juli lewat, Rahma menghubungi Magfirah untuk menanyakan kepastian. Mereka akhirnya bertemu di rumah kos terdakwa di Bireuen. Dalam pertemuan tersebut, Magfirah mengakui penerimaan PNS tersebut tidak ada dan dia mengaku ingin mengembalikan uang korban di rumah orangtuanya di Bener Meriah. 

Rahma selanjutnya mendatangi rumah orang tua terdakwa sesuai jadwal yang sudah ditentukan. Namun sampai di sana, terdakwa tidak berada di tempat. Kasus tersebut akhirnya dilaporkan ke Mapolres Bireuen. Akibat perbuatan terdakwa, Rahmawati mengalami kerugian materil sejumlah Rp 75 juta. Para korban pun melaporkan Magfirah ke polisi.

Dalam perjalanannya, Magfirah melahirkan 3 bayi kembar pada 29 Agustus 2018. Dua pekan setelahnya, Polres Bireuen menahan Magfirah. 3 Bayi kembar pun ikut dibawa ke rutan karena masih menyusui.

Setelah itu, polisi melimpahkan kasus tersebut ke Kejaksaan Negeri Bireuen. Setelah berkas dinyatakan lengkap, proses penahanan ada di tangan jaksa. Kini, tiga bayi kembar itu masih di rutan, sambil ibunya menjalani proses hukum.***

Komentar

Loading...