Breaking News

Bustami Hamzah, Mundur atau Dipaksa Mundur?

Bustami Hamzah, Mundur atau Dipaksa Mundur?
Foto: Dok. MODUSACEH.CO

Mundurnya Bustami Hamzah dari kursi Kepala Badan Pengelola Keuangan Aceh (BPKA) dan Komisaris Utama (Komut) PT.Bank Aceh Syariah, telah menyita berbagai perhatian publik. Baik melalui media maenstream maupun media sosial seperti grup WhatAspp (WA).

DISKUSI warung kopi yang muncul adalah, bukan hanya sebab musabah Bustami mundur atau memang “dipaksa mundur”. Tapi, ada yang lebih menukik lagi yaitu soal; loyalitas terhadap kekuasaan atau pemimpin!

Ini terlihat dari unggahan saling berbalas pantun di media sosial facebook (FB), antara loyalis di sekitar Nova Iriansyah versus Bustami Hamzah dan “kaum” atau sohib dekatnya.

Maklum, ada yang menyebut dan menilai, mundurnya Bustami sebagai bentuk tidak loyalnya dia sebagai aparatur sipil negara (ASN) terhadap Gubernur Aceh, Nova Iriansyah.

Memang, pertanyaan dan jawaban itu sebenarnya tidak mudah dijawab. Sebab, ukuran (parameter) untuk mengukur tingkat loyalitas seseorang kepada pemimpin begitu tidak jelas alias abu-abu, ambigu, dan masih bisa diperdebatkan.

Lantas, apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan loyalitas? Dalam Kamus Bahasa Indonesia, loyalitas berasal dari kata Bahasa Inggris, loyality yang mengandung beberapa arti yakni: kepatuhan, ketaatan, komitmen, pengorbanan dan kesetiaan. 

Di dunia profesi dan birokrasi juga sering dikenal frasa “loyalitas terhadap profesi”. Dalam politik muncul pula istilah; dedikasi, loyalitas dan tidak tercela.

Ambil contoh, seorang guru yang setia pada tugas dan tanggungjawabnya. Sebagai karyawan, setia terhadap tugas dan tanggungjawabnya. Seorang politisi, setia dan patuh pada aturan dan pimpinan partai politiknya.

Itu sebabnya,  untuk bisa setia terhadap profesi, setiap orang  dibutuhkan juga komitmen dan pengorbanan yang juga sudah tercakup dalam arti kata loyalitas. 

Alasannya, tidak akan ada kesetiaan jika tidak dibarengi dengan komitmen dan pengorbanan dari orang yang mengemban profesi tertentu. Inilah salah satu syarat yang membuat seseorang disebut sebagai profesional.

Orang yang setia kepada profesi akan membuatnya dikenal sebagai pribadi yang profesional pada bidangnya. Mengapa? Karena loyalitas pada profesilah yang memacu seseorang untuk berusaha memberikan yang terbaik kepada masyarakat dari profesi yang dia geluti. 

Loyalitas pada profesi juga akan menuntut seseorang untuk belajar terus-menerus mengembangkan diri, meningkatkan kapasitas diri pada bidangnya, sehingga semakin dikenal dan profesional atau menjadi ahli pada bidangnya.

Lantas, bagaimana dengan loyalitas kepada pimpin? Inilah yang jadi soal. Sebab, dibutuhkan ekstra hati-hati untuk membedakan antara loyalitas kepada profesi di satu sisi, dengan loyalitas kepada pimpinan di sisi lain. 

Artinya, sah sah saja menunjukkan loyalitas kepada pimpinan asalkan tidak "mengangkangi" profesionalisme profesi.

Maksudnya, jika kepemimpinannya kemudian menghambat seseorang untuk menjadi profesional dalam bidangnya, maka bukan hal tabu jika seseorang akan lebih memilih untuk loyal kepada profesi daripada pimpinannya.

Dalam kontek ini, loyalitas kepada pemimpin tidaklah mutlak diperlukan untuk menunjang profesionalisme seseorang. Jadi, untuk bisa profesional tidak mutlak perlu dukungan kesetiaan terhadap pimpinan. Dan bisa jadi, inilah yang ditunjukkan Bustami Hamzah terhadap Nova Iriansyah.

Mengapa? Karena bisa saja, seorang pemimpin tidak benar-karena dia manusia biasa yang kebetulan dipercayakan untuk memimpin sementara waktu. Selain itu, memiliki ambisi serta nafsu untuk memperkaya diri sendiri, keluarga serta kawan-kawan dekatnya.

Dari sisi kemanusiaan, bisa saja seorang pemimpin keliru dalam mengambil kebijakan terkait jabatan/instansi/perusahaan yang dipegangnya.

Nah, di sinilah pentingnya kehati-hatiaan dalam menerapkan loyalitas kepada pemimpin. Sebab, bisa saja jatuh dalam lubang "kesetiaan buta" atau tindakan Asal Bapa Senang (ABS). 

Inilah yang terkadang tidak membuat orang yang dipimpin menjadi kritis terhadap pemimpinnya yang keliru dan salah. Bahkan dalam hal tertentu, bisa saja "kesetiaan buta" terhadap pemimpin, justeru menjerumuskan seseorang untuk menjadi tidak profesional dalam bidangnya. Dan tidak mustahil akan terjerat hukum pula.

Contoh nyata ya posisi Bustami Hamzah yang juga Kepala BPKA. Sebagai seorang “Bendahara Pemerintah Aceh”, ia dituntut untuk profesional dengan bersikap loyal terhadap profesi yang diembannya. 

Disudut lain, dia pun harus mengikuti perintah, kemauan dan jika tak elok disebut; “syahwat” pemimpinnya dalam ini Gubernur Aceh Nova Iriansyah. Misal, “mengatur” berbagai tata kelola keuangan daerah, membuat laporan keuangan hingga melakukan ‘transaksi pat gulipat’ pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA). Jika benar, sebagai bawahan tentu Bustami tertekan menghadapi situasi tersebut. 

Yang jadi soal kemudian adalah, bagaimana jika Bustami Hamzah menolak semua perintah itu dan justeru memiliki agenda tersendiri untuk mengalokasikan sejumlah anggaran daerah (APBA) kepada para koleganya? Konon, semua itu tertuang pada daftar anggaran; apendix?

Pilihan tentu ada dua, memang dia dicopot dari jabatannya karena tidak loyal kepada pemimpin atau diminta (paksa) mundur karena sudah terlalu jauh bersikap dan bertindak, sehingga menganggu “jatah” pimpinannya tadi.

Karena itu, jika asumsi pertama tadi benar, maka ketika Bustami Hamzah lebih memilih untuk loyal terhadap profesi daripada loyal Nova Iriansyah, maka wajar adanya bila dia mundur. Karena loyalitas kepada pemimpin tetap membutuhkan sikap kritis! 

Sebaliknya, jika kemunduran Bustami karena memang dipaksa mundur oleh Gubernur Aceh Nova Iriansyah, karena sudah terlalu “maju” dan menganggu kenyamanan sang Gubernur. Maka, inilah konsekwensi logis yang harus dia terima. (selengkapnya baca edisi cetak).***

Komentar

Loading...