Iklan Sisi Lain Special Ramadhan

Dikonfirmasi Dugaan Terima Gratifikasi

Bupati Gayo Lues Muhammad Amru: Jangan Sebodoh Itu Jadi Wartawan!

Bupati Gayo Lues Muhammad Amru: Jangan Sebodoh Itu Jadi Wartawan!
Muhammad Amru, Bupati Gayo Lues (Foto:portalsatu.com)
Rubrik

Banda Aceh I Jika seorang kepada daerah sekelas bupati tak paham tentang tugas dan kerja jurnalis, mungkin itu biasa.

Tapi, apa jadinya bila seorang mantan wartawan yang kemudian mengadu nasib di jalur politik dan terpilih sebagai bupati, namun menjadi emosi saat dikonfirmasi? Apalagi sampai menyebut; jadi wartawan jangan bodoh!

Nah, perilaku tak elok inilah yang dilakukan Muhammad Amru, Bupati Kabupaten Gayo Lues saat dikonfirmasi media ini, terkait adanya dugaan penerimaan gratifikasi dari seorang pengusaha setempat.

Ceritanya begini, beberapa hari lalu, redaksi MODUSACEH.CO menerima satu informasi yang mengaku dari mantan tim sukses Muhammad Amur saat maju sebagai Bupati Gayo Lues pada Pilkada 2017 lalu.

Singkat cerita, diduga Amru begitu mantan wartawan salah satu media cetak lokal ini akrab disapa telah menerima gratifikasi dari seorang pengusaha setempat. Itu terkait “memuluskan” sejumlah proyek APBA dan APBK.

Sumber tadi juga menyebut beberapa aset yang kini diraih Amru. Misal,  sejak tahun 2018 lalu, memiliki satu unit rumah persinggahan di Kota Medan. Informasinya bukan milik pribadi tetapi disewa dengan uang pribadi.

Rumah tersebut juga digunakan sebagai tempat proses pemulihan kesehatan Amru, sambil mengatur penyelenggaraan pemerintahan pada periode Juni sampai Juli 2020 lalu.

Selain itu, dia juga melakukan pertemuan dengan beberapa pengusaha daerah pada rumah tersebut. Salah satunya tersebut nama Rabuddin (Direktur/Pemilik PT. Lembah Alas dan PT. Kuning Karya Abadi).

Kata sumber tadi, rumah itu berada sekitar Jalan Setia budi Kota Medan (luasnya sekitar 1.057 M2). “Berdasarkan informasi dari orang-orang dekat bapak dan beberapa pengusaha daerah ini. Rumah itu sudah dibelikan Rabuddin untuk Pak Amru tahun 2018,” ungkap sumber yang tak mau ditulis namanya ini.

Hanya itu, Amru juga memiliki aset yaitu Cafe Alur Batin yang didirikan tahun 2019. Cafe ini berada di Desa Gunyak, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues.  

“Berdasarkan keterangan dari pengusaha dan PNS Dinas PU-PR Gayo Lues, kegiatan pembangunan  infrastruktur, jalan dan jembatan APBK 2018 dilaksanakan Rabuddin sekitar Rp30 miliar lebih dengan menggunakan nama perusahaan beragam,” jelas dia.

Sementara itu, sumber lain mengungkap. Estimasi harga rumah yang diduga milik Bupati Gayo Lues (Muhammad Amru) itu berdasarkan keterangan dan perhitungan awal sekitar Rp4,5 sampai Rp5,5 miliar.

Hitungan sederhananya begini, karena NJOP tanah saja tanpa bangunan sekitar Jalan Setia Budi atau tepat di Jalan Kenanga II, Nomor 12/8, Kelurahan Tanjung Sari, Kecamatan Medan Selayang, Kotamadya Medan, per meternya Rp3 juta. Nah, luasnya 1.057 M2, ditambah nilai bangunan rumah.

“Jadi, tidak mungkin disewa, kalaupun demikian biaya sewa per tahun bisa mencapai Rp70 sampai Rp100 juta. Memakai dana siapa,” tanya seorang tokoh pemuda di sana.

Mengenai Cafe Alur Batin. Disebut-sebut menggunakan material kayu hutan (bukan kayu tusam/pinus yang mayoritas digunakan sebagai bahan material oleh cafe lain di Gayo Lues). Ditambah interior dan peralatan cafe yang diperkirakan menghabiskan total dana sekitar Rp900 juta hingga Rp1 miliar.

Aset lain adalah, rencananya Amru sedang mendirikan Klinik/Rumah Sakit Alur Batin di Kota Banda Aceh, yang kini masih dalam tahap pembangunan dan pengurusan perizinan.

Klinik/Rumah Sakit tersebut diperuntukan untuk lokasi praktek dr. Indah Ammalia (anak kandung Amru)  yang saat ini sedang mengambil spesialis saraf (neurologist).

Tentu, sebatas ini memang tak jadi soal. Namun, menjadi menarik bila melirik total kekayaan Amru berdasarkan penelusuran yang dilakukan melalui elhkpn.kpk.go.id tahun 2018 lalu.

Nah, posisi Amru menjadi bupati “terkaya” ketiga di Aceh. Ironisnya, Gayo Lues merupakan kabupaten termiskin kedua di Aceh.

Terkait munculnya nama Rabuddin, lagi-lagi wartawan media ini gagal melakukan konfirmasi. Hingga kini belum terhubung dengan pengusaha tersebut. Beberapa nomor telpon seluler yang dihubungi, menjawab tidak aktif.

Lantas, apa kata Amru? Inilah yang menarik. Orang nomor satu di Gayo Lues ini pun terkesan arogan dan “angkuh” saat dikonfirmasi. “Ada hal yang mau kami konfirmasi, mau dikirim surat konfirmasi melalui WhatsApp (WA) kami tidak punya,” jelas wartawan media ini.

“Ya, langsung saja masalah apa,” jawab Amru balas bertanya. “Ya, kami ada menerima laporan masyarakat (sumber) terkait dugaan gratifikasi,” lanjut media ini. Langsung disambung Amru. Gratifikasi siapa?

Nah, begitu disinggung soal status kepemilikan rumah di Medan. Amru kembali memotong wawancara. “Gini saja, datang saja ke rumah saya, saya kebetulan di Medan biar kita klarifikasi. Bahwa itu rumah sewa,” tegas dia.

“Nanti suruh saja dari tim mu datang mengecek rumah itu, bahwa rumah itu sampai sekarang masih saya sewa. Kebetulan nggak punya rumah,”jelas Amru. 

Dananya dari pribadi ya? “Suruh turun tim dari mana saja, mencek rumah saya itu,” tantang Amru. “Masalah cafe,” lanjut media ini. “Masa saya nggak boleh punya dan dipersoalkan. Bolehlah, biaya pendiriannya cuma Rp100 juta,” jawab Amru.

“Terkait rencana membangun rumah sakit atau klinik di Banda Aceh,” kejar media ini. “Klinik apa? Jangan dikhayal-hayalkan orang, rumah sakit apa yang mau saya buat. Klinik apa yang saya buat. Oh, jangan sebodoh itulah jadi wartawan. Kata-katanya jangan percaya. Saya juga bekas wartawan,” kata Amru dengan suara tinggi.

“Kami sudah menghargai Anda. Karena itu, kami lakukan konfirmasi, validasi dan verifikasi sehingga tidak menimbulkan fitnah.  Tapi, jika Anda katakan jangan bodoh jadi wartawan, ini jelas arogan dan melecehkan profesi wartawan. Anda sendiri juga mantan wartawan,” balas media ini dan kemudian menghentikan konfirmasi. (selengkapnya baca edisi cetak).***

Komentar

Loading...