Besok, Buku Adnan Ganto Diluncurkan di Banda Aceh

Besok, Buku Adnan Ganto Diluncurkan di Banda Aceh
Penulis
Rubrik

Banda Aceh | Setelah lama dinanti, buku yang berjudul "Di Buloh Blang Ara, Keputusan Sulit Adnan Ganto" akhirnya  diluncurkan di Hermes Hotel, Lambhuk, Banda Aceh, Minggu pagi, (23/07/17). Berdasarkan undangan yang beredar, sejumlah tokoh nasional dikabarkan hadir untuk membedah buku tersebut, misal, Prof. Dr. Mahfud MD, Prof. Dr. Yusni Saby dan Prof. Dr. Humam Hamid.

Sang penulis, Nezar Patria, dalam akun Facebook-nya sedikit menceritakan isi buku tersebut. Tulis Nezar Patria, nama ayah Adnan Ganto adalah Hasan Basri Ganto. Dia adalah lelaki sederhana. Separuh hidupnya dihabiskan menjadi seorang tentara, meneruskan semangat anti kolonial dari ayahnya, Hasan, dan bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat, yang kemudian menjadi Tentara Nasional Indonesia. Ia kelak pensiun dengan pangkat kopral dan menjadi petani kecil di Buloh Blang Ara, Kabupaten Aceh Utara.

Masih menurut Nezar Patria, Hasan Basri Ganto adalah putra dari Husin Lahuda, seorang pejuang dari Buloh Blang Ara. Lahuda terkenal sebagai lelaki kuat berwajah keras. Ia berperan sebagai Panglima Sagoe dari Laskar Aceh yang berperang melawan Belanda. Pada masa itu, perlawanan rakyat Aceh terhadap Belanda sangat membara. Meski Belanda mengumumkan Sultan Aceh terakhir telah ditangkap, tapi perlawanan bersenjata oleh gerilyawan yang setia pada kerajaan Aceh tetap berlanjut. Bahkan pada tahun 1911, ketika Teungku Maad di Tiro, putra dari pahlawan nasional Teungku Chik di Tiro, gugur di Pidie, perlawanan juga tak surut.

Di Buloh Blang Ara, banyak cerita menyebut Husin Lahuda sebagai seorang jawara. Ia terampil berkelahi dan bernyali tinggi. Ia juga sangat membenci Belanda. “Mereka adalah kaphe (kafir) yang mau merebut tanah kita,” ujar Husin seperti kerap dikutip oleh Hasan, Ayah Adnan, yang selalu mendengar kisah perjuangan Lahuda dari ibunya. Dengan tangannya, Husin Lahuda membunuh banyak prajurit Belanda. Penguasa Belanda di Aceh Utara amat membencinya. Ia menjadi orang yang sangat dicari, hidup atau mati. Belanda menyebarkan banyak pasukan dan mata-mata untuk mengejarnya.

Nah, suatu hari pada tahun 1914, Husin Lahuda tertangkap. Belanda mengepungnya di sebuah tempat di Aceh Utara. Lahuda lalu dibawa ke Kota Lhokseumawe. Penangkapannya membuat geger warga kota itu. Seperti ingin segera membayar lunas dendam mereka pada Lahuda. Esok harinya, Belanda menggiring lelaki itu ke sebuah lapangan. Persisnya di halaman sebuah rumah sakit umum. Satu tiang didirikan, lalu tepat pada saat menjelang siang, Lahuda digiring ke tiang itu dan dibawa ke depan regu tembak.

Faridah, istri Lahuda, saat itu sedang hamil tua. Belanda memaksa perempuan dengan kandungan delapan bulan itu ke lapangan. Ia sengaja digiring ke sana untuk melihat hukuman mati atas suaminya. Di tiang itu, Lahuda berdiri dengan tegar. Ia sendirian, di hadapannya, berdiri satu regu tembak kompeni dengan senapan membidik ke jantungnya.

Dikisahkan, Lahuda menyambut peluru Belanda yang menghujam tubuhnya tanpa rasa gentar. Sang istri, dengan keimanan kuat atas perjuangan suci melawan para kaphe berusaha tabah. Air matanya tumpah begitu melihat tubuh suaminya lunglai di tiang itu dengan bersimbah darah. Lahuda gugur sebagaisyahid. Perlawanannya dikenang warga di Buloh Blang Ara dan Aceh Utara.    

Sebulan setelah Lahuda meninggal, istrinya melahirkan seorang bayi lelaki. Ia awalnya hanya diberi nama Hasan Basri, tapi para keluarga dan kerabat meminta agar ditambahkan kata Ganto di belakang namanya. Ganto dalam bahasa Aceh berarti “pengganti” atau "ganti". Hasan Basri Ganto hadir ke dunia sebagai pengganti Lahuda yang ditembak mati oleh Belanda.

Hasan Basri Ganto memang mengikuti jejak Lahuda. Ia tumbuh menjadi pemuda yang cakap dan sehat dan seperti memenuhi janji pada almarhum Ayahnya yang tak sempat ia lihat seumur hidupnya. Hasan bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat, sejak saat itu nama Ganto melekat pada namanya. Ia kadang dipanggil sebagai Teungku Ganto. Nama itu juga diwariskan kepada sembilan anaknya, termasuk putranya yang pertama, Adnan Ganto.***

Komentar

Loading...