Nasib Petani Karet di Aceh Barat

Bertahan Hidup Ditengah Himpitan  

Bertahan Hidup Ditengah Himpitan  
Petani Karet (Foto: Ilustrasi/ jurnalasia.com)
Penulis
Rubrik

Jatuhnya harga pasaran getah karet basah di pasar global, telah memakan banyak korban. Salah satunya warga Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, yang umumnya berprofesi sebagai petani karet. Mereka menjerit, karena harga kiloan karet semakin merosot dan hanya bertahan diangka Rp 6 ribu per kilogram. Sebelumnya, sempat mencapai Rp 26 ribu rupiah per kilogram.

MODUSACEH.CO | Kondisi ini semakin melarat, di tengah himpitan ekonomi yang justru semakin sulit. Maklum, harga bahan pokok kian melambung tinggi, dan tak sesuai dengan penghasilan yang mereka terima dari hasil menderes atau menyadap karet.

Itu sebabnya, banyak petani karet di Aceh Barat yang merubah fungsi kebun karet menjadi kebun jengkol, sawit dan lainnya. Namun muncul persoalan, masyarakat tidak lagi berpenghasilan tetap.  Butuh waktu lama untuk panen tanaman tadi, sementara pohon karet telah habis ditebang. 

Seterusnya, banyak pengumpul karet, agen hingga toke terpaksa gulung tikar karena terus merugi akibat harga karet tak kunjung membaik. Mereka terpaksa beralih profesi menjadi kuli bangunan, supir truck, hingga petani padi dan berhenti menjadi pembeli getah karet basah.

***

Walau masih berjarak dua puluh meter, bau getah karet basah sudah terasa begitu menyegat di hidung saya. Tak susah menebak dari mana asal bau tersebut. Sebab, dari tempat saya berdiri terlihat seorang pria tua, sedang duduk di depan gubuk reot sambil memegang sebilah pisau sadap karet.   

Memakai baju lengan pendek dan celana selutut agak kusut, pria tua tadi terlihat lelah karena baru pulang dari kebun karet. Dia merebahkan kepalanya pada dinding gubuk. Sesekali menarik nafas panjang, sambil fokus mengarahkan kedua matanya pada dua putri kecil yang saat itu bermain tanah.

Ya, namanya Syampilin. Usianya memang sudah tidak lagi muda. Lima bulan mendatang, beranjak 73 tahun. Namun jika dibandingkan dengan teman seumuran di lingkungannya tinggal, Gampong Leubok, Kecamatan Sama Tiga, Kabupaten Aceh Barat, Aceh, staminanya masih terbilang bagus.

Bicaranya juga lancar. Apalagi kalau diajak berdiskusi soal menadah getah karet basah, bidang yang sudah ia geluti lebih dari separuh hidupnya. Yahwa Pilin, begitu ia disapa, sangat antusias sekali. Inilah, salah satu potret petani karet yang masih bertahan ditengah harga jual yang kian merosot.

Begitupun, Yahwa Pilin belum mau ‘pensiun’, alias masih ‘bergelimang’ kotoran getah karet basah, yang baunya sangat menyengat. Dia masih menyadap getah meski menempuh perjalanan lima kilometer berjalan kaki ke kebun dari tempat ia tinggal.

Ketika saya ditemui beberapa hari lalu, Yahwa Pilin mengenakan kaos berkerah warna putih. Baju itu terlihat tidak asli putih lagi, karena dibanjiri bintik- bintik getah karet basah di sekujur tubuhnya.

“Bek duek toe lon. Lon khieng bee (jangan duduk dekat saya. Saya bau jorok sekali),” sapa Yahwa Pilin, saat saya mencoba mendekat, di depan gubuk miliknya, Selasa pekan lalu.

Dia mulai bicara dalam bahasa Aceh. Yahwa Pilin mengaku telah menekuni pekerjaan sebagai penyadap getah karet basah, sejak lima puluh tahun lalu. Kira-kira, saat umurnya masih 20-an.

Dia mengaku, perkerjaan itu terpaksa dilakukan karena tidak mempunyai pekerjaan lain, dan telah turun-temurun dikerjakan dalam keluarganya, baik ayah, ibu, kakak, adiknya, dan anak-anak serta cucunya. “Bukan hanya keluarga saya, sekitar 99 persen warga di sini sebagai penyadap karet,” ucap kakek delapan cucu ini.

Menurutnya, menyadap karet merupakan pekerjaan sehari-hari warga di sana. Karena dalam waktu lima hari, hasil sadapan sudah bisa dikumpulkan dan dipanen untuk dijual. Hasilnya, untuk membeli semua keperluan sehari-hari.

Yahwa Pilin mengaku, orang seusianya di wilayah tersebut sudah tidak lagi menderes karet. Namun, tidak dengan dirinya, Yahwa Pilin terpaksa terus mengerjakan pekerjaan tersebut, karena tidak mau bergantung pada siapapun, termasuk pada anak dan cucunya.

Terlebih, empat orang anaknya telah memiliki keluarga masing-masing dan hidup dalam keadaan tidak berkecukupan. Jika dia tidak berkerja, maka tidak bisa menghidupi empat cucunya yang tinggal bersama dia dan istri.

“Walaupun harga jual karet sekarang sangat murah, namun, pekerjaan menyadap karet tetap saya kerjakan karena tidak bisa melakukan pekerjaan lain. Jadi, mau tidak mau, pekerjaan itu tetap saya kerjakan, meskipun penghasilan kadang tak cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Menurutnya, pekerjaan menyadap getah karet basah sudah tidak menjanjikan lagi saat ini. Sebab, selain harga sangat murah, batang-batang karet sudah sangat tua sehingga tetesan getah yang keluar sangat sedikit. Ditambah, para pembeli banyak yang sudah berhenti membeli karet, sehingga, saat sudah dipanen harus menunggu beberapa hari untuk bisa dijual.

Dia menceritakan, luas kebun karet miliknya sekitar setengah hektar atau punya 100 batang karet. Dalam satu hari, dia hanya mampu menderes 50 hingga 70 batang, dan menghasilkan kurang lebih lima kilogram getah karet basah.

Biasanya, dalam rentan waktu lima kali menderes, hasil getah yang di tadah dalam tempurung kelapa, baru dikumpulkan dan dibentuk dalam tong cetakan untuk dipanen dan di jual. Namun, setelah dipanen tidak bisa langsung dijual karena harus menunggu air kering.

“Sudah harganya sangat murah, susah sekali menemukan para pengumpul. Makanya, kadang sudah beberapa hari kita panen baru datang pengumpul, jadi mau bagaimana lagi, seperti inilah kehidupan kami disini,” ungkap Yahwa Pilin sambil kepalanya menunduk ke bawah.

“Petani lain sudah banyak menebang pohon karet dan menaman sawit serta tanaman lain. Karena mereka sudah tidak percaya lagi harga karet akan naik. Tapi, saya tidak. Saya berpikir kalau saya juga menebang pohon itu, saya kerja apa? Jadi, walau harga karet tidak seberapa, saya tetap kerja menderes, setidaknya cukup untuk beli beras,” kisahnya sambil menarik nafas panjang.

Yahwa Pilin berharap, sejumlah pihak dari instansi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Barat, mau turun ke Gampong (desa) melihat kondisi masyarakat, sehingga bisa melakukan langkah-langkah dalam upaya meningkatkan kembali harga jual getah karet basah.

“Pada siapa lagi kita berharap, seharusnya pemerintah (Pemkab Aceh Barat) mencari solusi. Jangan duduk saja di kantor, mereka digaji untuk melayani masyarakat. Kami, masyarakat tetap akan menderes karet untuk menyambung hidup, karena tidak punya pekerjaan lain,” harapnya. (selengkapnya baca edisi cetak, beredar mulai, Senin, 31 Desember 2018).***

Komentar

Loading...