Breaking News

Berharap Nova Sehat dan Menanti KPK Kembali

Berharap Nova Sehat dan Menanti KPK Kembali
Foto: Dok. MODUSACEH.CO

Proyek Multi Years, Pembangunan Gedung Oncology, Pengadaan Kapal Aceh Hebat 1,2 dan 3 serta Alokasi Anggaran Refocusing Covid-19 tahun 2020, menjadi sasaran utama penyidik KPK di Aceh. Berharap tak ada yang lolos dari jaring lembaga anti rasuah ini!

MODUSACEH.CO I SETELAH beberapa hari berada di Kota Banda Aceh, Ibukota Provinsi Aceh. Jumat, 25 Juni 2021, sejumlah penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Jakarta, akhirnya meninggalkan tanah rencong.

Untuk sementara, tugas mereka melakukan klarifikasi, meminta keterangan dan penyelidikan terhadap sejumlah pejabat Aceh (kecuali Gubernur Aceh Nova Iriansyah) karena masih terpapar Covid-19. Ini, terkait sejumlah laporan dugaan tindak pidana korupsi yang semakin menahun dan massif terjadi di Aceh.

Dan, dalam waktu tak terlalu lama, penyidik anti rasuah ini pun akan kembali ke Aceh dengan peningkatan status; penyidikan. 

Jika keputusan ini benar-benar terjadi, maka sejumlah tersangka sudah dihadapan mata. Begitupun, belum jelas, siapa saja yang “untung” dan “buntung” alias ditetapkan sebagai tersangka hingga akhirnya bermalam di Hotel Prodeo Gedung Merah Putih, Jakarta.

Di Banda Aceh sendiri, desakan dan dukungan terhadap KPK untuk menuntaskan berbagai kasus yang ada terus bergulir.  Mulai dari pernyataan di media pers dan media sosial dari berbagai elemen hingga grafity di sejumlah ruas jalan dan fasilitas publik. 

Nah, lepas dari adanya berbagai penilaian pro dan kontra dibalik berbagai aksi tersebut. Tapi bolehlah dikata; inilah satu salah puncak dari “kemarahan” rakyat Aceh terhadap dugaan perilaku koruptif pejabat dan pimpinan daerah ini.

Setidaknya, ada empat kasus besar yang dibidik KPK. Mulai dari pengadaan Kapal Aceh Hebat 1,2 dan 3. Proses lelang proyek Multi Years, Pembangunan Gedung Oncology RSUZA Banda Aceh hingga alokasi dan pengunaan dana refocusing Covid-19 tahun 2020 lalu.

Dari empat paket “jumbo” tadi, tak kurang belasan triliun dana APBA yang terserap dan tersedot bagi “pesta pora” pejabat culas dan para kroninya ini.

Foto: Ist

Itu sebabnya, sederet nama seperti Bustami Hamzah (mantan Kadis BPKA), Azhary (mantan Kepala Bappeda Aceh dan Plt Kepala BPKA), Setda Aceh Taqwallah serta Kadis Perhubungan Aceh Junaidi. Termasuk mantan Direktur RSUZA Banda Aceh, dr Azharuddin SpOT, K-Spine FICS, sudah dimintai keterangan dan klarifikasi.

Sumber media ini di Jakarta menyebut. Sebenarnya, penyidik KPK juga akan mensasar Gubernur Aceh Nova Iriansyah. Hanya saja, karena masih dinyatakan positif Covid-19, niat itupun akhirnya tertunda untuk sementara waktu.

“Sabar saja, semua ada aturan, prosedur dan mekanismenya. Mereka tetap menganut azas praduga tak bersalah. Tapi, tak akan meleset jika memang terbukti secara hukum,” tegas seorang sumber media di Jakarta. Sumber ini dikenal dekat dengan penyidik KPK.

Sekilas, proses ini memang biasa. Apalagi setelah terjadi perubahaan terhadap UU KPK, yang mengharuskan penyidik untuk menjalani tahapan; klarifikasi, penyelidikan serta baru kemudian penyidikan dan penetapan tersangka. Itu pun harus dilakukan secara terbuka alias transparan.

Tentu, langkah tadi tak jauh berbeda dengan tahapan yang dilakukan penyidik Polri serta Kejaksaan. Berbeda sebelumnya. Para penyidik lebih memainkan tugasnya secara senyap. Termasuk penyadapan dan tiba-tiba langsung; operasi tangkap tangan (OTT).

Pertanyaannya kemudian adalah, siapakah diantara pejabat Aceh yang akan dijerat KPK? Tentu hanya waktu yang bisa menjawabnya. Maka bersiap-siaplah.***

Komentar

Loading...