Terkait Kasus Teror dan Pengeroyokan Wartawan

Beredar Kabar, Polres Aceh Barat Tahan Akrim

Beredar Kabar, Polres Aceh Barat Tahan Akrim
Ketua Fortil, Akrim bersama sahabat dekatnya yang juga Ketua PWI Aceh Tarmilin Usman (Foto: Ist)

Meulaboh | Satu kabar “mengembirakan” kalangan wartawan di Aceh, khususnya Kabupaten Aceh Barat, beredar luas sejak Minggu malam kemarin. Disebut-sebut, Satuan Reserse Kriminal (Sat. Reskrim) Polres Aceh Barat, telah menahan Akrim, Direktur PT. Direktur PT. Tuah Akfi Utama bersama seorang anak buahnya T. Herizal.

Penahanan ini, sejalan dengan status tersangka yang disandang keduanya. Ini terkait kasus pengeroyokan T. Dedi Iskandar, wartawan LKBN ANTARA, Liputan Kabupaten Aceh Barat dan Nagan Raya.

Kasat Reskrim Polres Aceh Barat, Iptu Muhammad Isral membenarkan penahanan tersebut. Katanya, keputusan itu dilakukan pihaknya, sesuai petunjuk Kejaksaan atas pelaku pengeroyokan wartawan ini.

”Petunjuk dari kejaksaan, mereka ditetapkan tersangka dari hasil pengembangan kasus untuk melengkapi berkas di Kejaksaan Negeri (Kejari) Meulaboh,” kata Iptu Muhammad yang dikonfirmasi media ini, Minggu malam kemarin.

Dua tersangka tersebut yakni, Akrim dan Teuku Erizal yang juga melaporkan Dedi Iskandar atas kasus penganiayaan. Saat ini mereka sudah ditahan di rutan Mapolres Aceh Barat untuk diminta keterangan lebih lanjut.

Keduanya dikenakan Pasal 170 KUHP. Isinya, barang siapa dengan terang-terangan dan secara bersama-sama menggunakan kekerasan terhadap orang atau barang, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.

”Saat ini kami sedang meminta keterangan dari keduanya. Sejauh ini ada empat tersangkat kasus pengeroyokan,” jelas Iptu Muhammad. Ini berarti masih ada dua tersangka lainnya yang belum ditahan.

Nah, keempat tersangka tadi adalah, Umar Dani (40), warga Dusun Pemuda, Desa Lango, Kecamatan Pante Ceureumen, Darmansyah alias Mancah (32), warga Desa Paya Peunaga, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat. Akrim dan T. Herizal.

“Hari ini, Umar Dani juga sudah ditahan,” sebut sumber media ini di Polres Aceh Barat.

Sekedar mengulang, Dedi dikeroyok Akrim dan kawan-kawan ketika sedang mewawancarai Kepala Sub.Bagian Humas Polres Aceh Barat di Warung Kopi Elnino, Desa Drien Rampak, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, Senin 20 Januari 2020 sekira pukul 12.15 WIB.

Akibat pengeroyokan tersebut, korban Teuku Dedi Iskandar terpaksa menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Nyak Dhien, Meulaboh, hingga enam hari. Anehnya, Dedi juga ditetapkan sebagai tersangka atas laporan Teuku Herizal, yang diduga telah mencekik dirinya pada peristiwa itu. Padahal, saat itu Dedi hanya membela diri.

Tak hanya itu, Akrim yang juga Ketua ForumTiga Wilayah (Fortil) ini, juga telah melakukan teror serta ancaman pembunuhan dengan senjata api terhadap Aidil Firmansyah, wartawan MODUSACEH.CO liputan Aceh Barat. Perkara ini juga sedang berjalan di Polres Aceh Barat.

Sementara itu,  Direktur Eksekutif The Jokowi Center Teuku Neta Firdaus dalam rilisnya memberi apresiasi terhadap kerja aparat Kepolisian Polres Aceh Barat.

“Saya baru saja mendapatkan info bahwa tersangka (Akrm dan Hrzl), pelaku pengancaman wartawan dan pengeroyokan Ketua PWI Aceh Barat di Meulaboh, hari ini (Minggu, 23/02/2020) sudah ditahan di Polres Aceh Barat,” tulis Teuku Neta, Minggu malam.

20200224-neta

 Direktur Eksekutif The Jokowi Center Teuku Neta Firdaus bersama Presiden Joko Widodo (Foto: antara)

Menurut Teuku Neta, informasi ini menjadi berita melegakan untuk semua pihak, terutama insan pers yang sudah dua bulan tidak merasa nyaman  karena dicengkram rasa ketakutan. “Publik menilai bahwa penahanan dua tersangka tersebut merupakan progress kinerja terbaik penyidik Polres Aceh Barat diawal tahun 2020. Saya memberi apresiasi,” sebut Teuku Neta.

Dia menilai, sikap tegas Polres Aceh Barat mengindikasikan bahwa jajaran ini tidak pernah kendor/toleran terhadap aksi premanisme dan menahan otak pengacau di Kabupaten Aceh Barat selama ini dan sangat meresahkan.

“Ini merupakan bentuk komitmen Polres Aceh Barat untuk selalu menjaga kesejukan, kenyamanan, keamanan dan kedamaian di Bumi Teuku Umar,” tulis dia.

“Marwah pers yang sempat “diganggu/dibungkam” oleh aksi premanisme, Insya Allah saat ini mulai bangkit kembali, semua berkat kerja baik aparat Polres Aceh Barat, dengan harapan pers dalam era demokrasi, menjadi wadah ekspresi rakyat, tempat komunikasi, pengawasan, menyuarakan kebenaran, menyebar berita yang baik, mendidik, mencerdaskan masyarakat, menegakkan keadilan dan memberantas kebatilan harus terus dilanjutkan,” lanjut Teuku Neta dalam rilisnya ini.***

Komentar

Loading...