Terkait Aceh World Solidarity Cup (AWSC) 2017

Beredar Kabar Kejari Banda Aceh Minta Keterangan Mantan Kadispora Aceh dan M. Zaini Yusuf Cs

Beredar Kabar Kejari Banda Aceh Minta Keterangan Mantan Kadispora Aceh dan M. Zaini Yusuf Cs
Launching AWSC 2017 (Foto: tsunamicup.id)

Banda Aceh I Lama tak muncul ke permukaan. Diam-diam nama mantan Kadispora Aceh Musri Idris dan M. Zaini Yusuf, adik kandung mantan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, kini muncul kembali. Terutama di jajaran penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Banda Aceh.

Ini bukan tanpa sebab. Kabarnya, bertautan dengan alokasi dana pelaksanaan turnamen sepak bola International Aceh World Solidarity Cup (AWSC) 2017 silam.

Itu sebabnya, sejumlah pihak disebut-sebut sudah dimintai keterangan dan beberapa nama berikutnya akan menyusul.

Ada nama Musri Idris, mantan Kadispora Aceh, M. Zaini Yusuf (Bang M), Pembina AWSC dan Mohd Sa’adan Abidin Ketua Panitia AWSC. Termasuk staf PPTK Dispora Aceh saat itu.

Begitupun, hingga Kamis siang, media ini belum berhasil mengkonfirmasi jajaran Kejaksaan Negeri Banda Aceh, terkait kebenaran dari informasi tadi. Termasuk Musri Idris. Sementara M. Zaini Yusuf membenarkan adanya pemanggilan tersebut. Tapi, dia tak mau berkomentar lebih jauh.

Sumber media ini di Dispora Aceh menyebut, pemanggilan tadi terkait alokasi dana Aceh World Solidarity Cup (AWSC) 2017. “Namun, rincinya kami juga tidak tahu. Sebab, sangat tertutup ketika itu,” ungkap sumber yang tak mau ditulis namanya ini.

Sebelumnya atau seperti diwartakan Harian Serambi Indonesia, Sabtu, 25 November 2017. Ketua Panitia Aceh World Solidarity Cup (AWSC), Moh Sa’adan Abidin mengatakan. Alokasi dana tersebut berasal dari APBA 2017, Rp2,4 miliar.

Sedangkan anggaran yang dibutuhkan untuk turnamen bertaraf internasional itu mencapai Rp 6,8 miliar. Ini berarti, dana yang disediakan Pemerintah Aceh bersama DPRA hanya sekitar 30 persen dari total anggaran yang dibutuhkan.

Menurutnya, dana yang diplot melalui Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Aceh itu, antara lain, diperuntukkan bagi biaya obat-obatan, bahan dokumentasi, dan sekretariat Rp 70 juta, transportasi untuk empat tim peserta Rp 700 juta, akomodasi tim peserta Rp 400 juta, sound system Rp 40 juta, konsumsi panitia Rp 180 juta, jasa perangkat pertandingan Rp 315 juta, total hadiah Rp 540 juta, biaya publikasi Rp 50 juta, dan dana untuk voorijder sebesar Rp 30 juta.

20210121-saadan

Ketua Panitia Aceh World Solidarity Cup (AWSC) 2017, Moh Sa’adan Abidin (Foto: Serambi Indonesia)

Masih kata Sa’adan ketika itu, panitia juga mendapat suntikan dana dari pihak sponsor sekitar Rp 3 miliar.

“Tapi, anggaran yang tersedia juga belum cukup untuk memenuhi total anggaran yang dibutuhkan. Itulah salah satu alasan mengapa kami menjual tiket pada turnamen ini,” ungkap Sa’adan dia.

Selain itu, lanjut Sa’adan, total hadiah yang dialokasikan dalam APBA juga tak memenuhi standar minimum yang diterapkan dalam regulasi PSSI dan AFC untuk turnamen bertaraf internasional.

“Total hadiah yang kita usulkan sesuai anggaran yang tersedia yaitu Rp 540 juta. Sementara berdasarkan regulasi PSSI dan AFC, turnamen sejenis ini harus menyediakan hadiah total minimal Rp 1,3 miliar. Dari jumlah hadiah saja kita sudah kekurangan dana. Itu belum termasuk pengeluaran lain seperti untuk jasa panitia, baliho untuk publikasi, konsumsi dan akomodasi untuk tamu undangan, serta berbagai kebutuhan lainnya,” jelas Sa’adan.

Alasan lain pihaknya menjual tiket dalam even Aceh World Solidarity Cup, kata Sa’adan, karena berdasarkan aturan PSSI, even sepak bola seperti Liga 1, Liga 2, apalagi turnamen internasional, tidak dibenarkan menggratiskan tiket. “Sebab, jika digratiskan tiket, mungkin jumlah penonton akan membeludak, sehingga tak ada yang bisa menjamin keamanan,” ujar Sa’adan saat itu.

Nah, adakah pemanggilan tadi terkait salah satunya dengan penjualan tiket serta sumber dana dan pengunaannya? Kita tunggu saja, biar waktu yang menjawabnya.***

Komentar

Loading...