Penggagas Komunitas Seniman NU, Penulis Buku dan Naskah Drama. Aktif Menulis Opini di Media Daring

Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda.

Belajar Hidup dari Pohon Jati

Belajar Hidup dari Pohon Jati
Foto: Pohon Jati/lipi.go.id

Kehadiran manusia di dunia adalah untuk belajar dan memanfaatkan alam untukkebutuhan hidupnya.

Agama diturunkan bagi mereka yang berakal dan berpikir. Tidakmenghendaki kaum yang apatis terhadap prosesi dialektika kehidupan manusia beserta fenomena alam di sekitarnya.

Alam adalah objek bagi manusia yang memegang teguh prinsip antroposentrisme atau egoisme yang memandang manusia sebagai pusat alam semesta. Sehingga tidak menghiraukan nasib selain  dirinya.  

Prinsip  tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal keserakahan manusia di muka bumi. Seharusnya mengekspolrasi ketersediaan alam, malah dijadikan ajang ekspoitasi memperkaya diri.

Deforestasi, pembuangan sampah sembarangan, produksi limbah dan polusi, reklamasi adalah sebagian dari banyak perilaku manusia yang memperlakukan bumi sebagai likuidasi di dalam bisnis.

Banyak negosiasi antara kepentingan ekonomi dan lingkungan hidup. Para   negosiator pada umumnya gagal untuk menemukan perdagangan yang saling menguntungkan karena ada asumsi dimana kepentingan mereka  secara langsung menentang kepentingan pihak lain.

Alam rela dikorbankan karena watak manusia yang terlanjur mengabaikan kehidupan masa depan.

Filosofi Pohon Jati

Sebelum berkembangnya agama-agama samawi (Yahudi, Nasrani, dan Islam), masyarakat Jawa  begitu  menggandrungi pohon jati karena  memiliki kekuatan  dan keawetan prima dalam hitungan abad, sedangkan daun jati banyak digunakan untuk pembungkus makanan di masa lalu.

Kayunya yang berkualitas tinggi membuat jati  diminati banyak orang yang kemudian menjadi komoditas unggulan dibidang  kehutanan.

Penggunaan kata   jati bermakna sejati, atau sebenarnya (asli, murni, tulen, bukan palsu) yang  dijadikan filosofi bagi kehidupan orang Jawa.

Menurut sejumlah ahli botani,  jati adalah spesies asli di  Burma, yang menyebar ke Semenanjung India, Muangthai, Filipina, dan Jawa. Biji merupakan awal mula (dasar) tumbuhnya pohon jati.  

Dalam merancang kehidupan, manusia yang menghendaki adanya perkembangbiakan terbaik. Kemudian  dalam tradisi Jawa ada istilah bibit, bebet, bobot, sebagai prasyarat mengawinkan dua sejoli.  

Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya adalah ungkapan bahwa untuk menghasilkan produk yang bagus harus didasari dari produk yang bagus juga.

Demikian yang menjadi jati sebagai bahan berkualitas dengan harga yang berkelas.

Pohon Jati bisa tumbuh pada tanah yang tandus. Bertahan hidup pada lokasi dengan curah hujan yang sangat rendah, sedangkan  di  tempat  yang memiliki  curah hujan tinggi pertumbuhannya menjadi kurang baik.

Pelajaran bagi manusia untuk bersikap adaptif pada setiap kondisi. Manusia dituntut fleksibel menghadapi problematika kehidupan. Tidak sombong ketika sedang di atas dan tidak putus asa ketika sedang dibawah.

Banyak manfaat dari pohon jati seperti batangnya untuk  furniture, ranting untuk bahan bakar, daunnya untuk bungkus makanan, hingga serangganya (ulat jati, kepompong dan belalang) bisa dimakan karena mempunyai kadar protein yang sangat tinggi.

Demikian halnya dengan manusia yang dianugerahi banyak keahlian jika tekun mengasahnya. Manusia modern banyak yang malas untuk mengembangkan potensi dalam dirinya.

Pesatnya kemajuan teknologi membuat manusia menjadi robot-robot digital yang tidak peka terhadap kondisi lingkungan sekitar. Untuk sampai masa tebang jati membutuhkan waktu paling tidak 40 tahun, bahkan di Jawa Timur dan Jawa Tengah daur jati mencapai 60 tahun dan ada yang 80 tahun.

Sebuah pesan bahwa manusia bijak harus ikhlas mengorbankan diri untuk orang lain (generasi setelahnya). Menghilangkan sikap angkuh dan serakah yang bertujuan untukmemanjakan dirinya sendiri.

Jati adalah simbol bahwa kita yang menanam, sedangkangenerasi mendatang yang akan memanen. Menjadi pribadi yang ikhlas, meski tidak pernah menikmati hasilnya.

Pelajaran selanjutnya adalah sikap bersabar dan tidak tergesa-gesa. Manusia modern selalu berharap instan apapun yang dikerjakannya. Ibarat bertani padi, pagi menanam berharap sore memanen.

Butuh 3-4 bulan untuk panen dengan berbagai proses yang dijalani. Ketika berhasil melampui segala permasalahan dan solusi  bertani, maka manusia akan menuai hasilnya.

Menekuni aktivitas yang dicintai, maka uang akan datang mencari. Dalam sekala nasional, masyarakat selalu menuntut terjadinya perubahan segera. Mencemooh kebijakan yang dianggap basa-basi karena tidak instan dirasakan masyarakat.

Pohon jati mengajak manusia untuk berpikir panjang sebelum mengambil kesimpulan. Pohon jati mengajarkan kehidupan yang sejati. Menemukan jati diri berdasarkan pengetahuan  dan  pengalaman hidup masing-masing.  Tidak terikat dan  dipengaruhi oleh  faktor lain yang  bisa mengubah  perilaku manusia  menjadi menyimpang  dari kesejatiannya.  

Ada banyak tempat di Indonesia yang menggunakan diks jati. Menandakan bahwa ada keluhuran yang sarat filosofis dari pohon jati.***

Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi!
Rubrik

Komentar

Loading...