Terkait Laporan Forkab Aceh

Azhari Cage Beri Keterangan Sebagai Saksi di Polda Aceh

Azhari Cage Beri Keterangan Sebagai Saksi di Polda Aceh
Azhari Cage (Foto: MODUSACEH.CO)
Penulis
Rubrik
Sumber
Reporter Banda Aceh

Banda Aceh | Sejak pagi hingga saat ini, Jumat (4/10/2019) sore. Azhari Cage, mantan Ketua Komisi I DPR Aceh masih berada di Mapolda Aceh. Dia memenuhi panggilan dari penyidik Polda Aceh.

Dia dimintai keterangan sebagai saksi, terkait kasus dugaan penghinaan bendera negara. “Lanjut kembali setelah shalat dan makan siang,” jelas Cage pada media ini, Jumat siang.

Kepada media ini, Azhari Cage membenarkan jika dirinya hadir ke Polda Aceh, memenuhi panggilan penyidik sebagai saksi untuk dimintai keterangan.

Sebelumnya, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Forkab Aceh, Polem Muda Ahmad Yani (Forkab) Aceh, melaporkan anggota Azhari Cage ke Polda Aceh, Senin, 19 Agustus 2019.

Forkab menilai, Azhari Cage telah melakukan perbuatan pidana, sesuai Pasal 56 UU 24 tahun 2009 tentang bendera, bahasa, lambang negara serta lagu kebangsaan.

Alasannya, karena diduga mengupayakan mengibarkan bendera bintang bulan dan upaya menurunkan bendera merah putih di Gedung DPRA, saat aksi demontrasi mahasiswa, 14 Agustus 2019.

Gayung bersambut, penyidik dari Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Aceh, akhirnya memanggil Azhari Cage.

“Untuk kepentingan pemeriksaan dalam rangka penyidikan tindak pidana, perlu memanggil seseorang untuk didengar keterangannya,” tulis surat, Nomor: SP.Gil/702/X/RES.1.24/2019/Subdit-I Resum, tanggal 1 Oktober 2019 ini.

Sementara itu, Juru Bicara (Jubir), Dewan Pimpinan Aceh (DPA) Partai Aceh (PA), H. Muhammad Saleh membenarkan pemanggilan tersebut. "Benar, saat ini saudara Azhari Cage masih di Mapolda Aceh," jelas H. Muhammad Saleh.

Menurut Shaleh, begitu dia akrab disapa, DPA Partai Aceh (PA), sangat menghargai dan menghormati proses yang saat ini sedang berjalan di Polda Aceh.

Hanya saja sebut  Shaleh, proses tersebut benar-benar berjalan secara profesional dan tetap menganut azas praduga tak bersalah.

“Untuk itu, secara internal DPA Partai Aceh (PA) juga telah membentuk tim investigasi. Selain melakukan pendampingan hukum kepada saudara Azhari Cage. Kami juga sedang mengumpulkan saksi dan alat bukti, terkait tuduhan yang diarahkan Ketua Forkab Aceh,” sebut Shaleh.

Misal jelas Shaleh, beberapa tuduhan yang diarahkan Forkab Aceh dalam laporannya ke Polda Aceh sumir dan kabur atau terlalu mengada-ada.

Contohnya, Azhari Cage dituduh berusaha untuk mengibarkan bendera Bulan Bintang dan ingin menurunkan Bendera Merah Putih.

“Buktinya, hingga “kerusuhan” terjadi di Gedung DPR Aceh, Banda Aceh, bendera Bulan Bintang tidak berkibar pada tiang bendera dan Bendera Merah Putih tetap berkibar utuh,” ungkap Shaleh.

Terkait Pasal 66 Jo Pasal 24 Huruf a, Undang-Undang RI No: 24 Tahun 2009, tentang bendera dan lambang negara serta lagu Kebangsaan Jo Pasal 53 ayat (1) KUHpidana yang dilaporkan Forkab Aceh. Menurut Jubir PA, H. Muhammad Saleh, juga terlalu berlebihan.

“Andai tuduhan itu benar, tentu aparat keamanan dan kepolisian yang saat itu berada di lokasi akan mengambil langkah pencegahan serta hukum secara tegas. Tak perlu menunggu adanya laporan dari Forkab Aceh. Namun faktanya, itu tidak terjadi saat aksi demontrasi mahasiswa tersebut.

Selain itu, saat aksi demontrasi terjadi,  Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Forkab Aceh, Polem Muda Ahmad Yani, juga tidak berada di lokasi kejadian. "Jadi, laporan Polem sangat tendensius dan provokatif," kata H. Muhammad Saleh.

“Jadi, sejauh apa validasi dan akurasi dari laporan Polem Muda kepada Azhari Cage, sementara dia tak berada di lokasi atau melihat sendiri. Karena itu, kami menduga, ada pihak yang sengaja mengunakan Forkab untuk melaporkan Azhari Cage,” ulas Shaleh.

Itu sebabnya harap Shaleh, Kapolda Aceh Irjen Pol. Rio S. Djambak dapat melihat persoalan ini secara jernih, terutama kondisi perdamaian Aceh yang sangat kondusif. Termasuk mencari jalan tengah untuk menyelesaikan masalah ini. 

"Beliau bukan hanya sebatas Kapolda Aceh. Tapi sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari rakyat dan tokoh Aceh. Jenderal Rio S. Djambak sudah lama bertugas di Aceh, sehingga kami yakin sangat memahami karakter serta kondisi psikologis rakyat Aceh," jelas Shaleh.

Sebaliknya, hingga saat ini DPA Partai Aceh (PA) belum mendapat konfirmasi, baik secara langsung maupun pemberitaan media pers, terkait laporan yang dilakukan Azhari Cage atas pemukulan dirinya, yang patut diduga, dilakukan oknum polisi dari Polresta Banda Aceh.***

 

Komentar

Loading...