Iklan Sisi Lain Special Ramadhan

Peringatan 16 Tahun Bencana Tsunami Aceh

Apresiasi Nova dan Kondisi Monumen “Thanks to The World”

Apresiasi Nova dan Kondisi Monumen “Thanks to The World”
Monumen “Thanks to The World” (Foto: Muhammad Saleh)
Rubrik

MODUSACEH.CO | Seperti biasa, setiap pekan sedikitnya tiga kali saya menyempatkan diri untuk berolah raga ringan yaitu; jogging di Lapangan Blang Padang, Kota Banda Aceh. Salah satunya, Minggu pagi, 27 Desember 2020.

Maklum, selain murah alias gratis, inilah olah raga yang masih pantas saya lakukan di usia kepala 50-an lebih. Tapi, kesempatan olah raga jalan cepat yang saya lakukan tadi pagi, tak begitu lepas dan lugas. Berbeda dari biasanya.

Ada yang menganjal di kepala. Ini tak lepas dari kondisi terkini Monumen “Thanks to The World” atau ucapan terima kasih Aceh kepada dunia, yang telah membantu tenaga dan dana rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh, paska gempa dan tsunami Aceh, 26 Desember 2004 silam.

Nah, usai melakukan tujuh putaran. Tiba-tiba kaki saya terhenti, persis di depan pintu masuk Pendopo Wakil Gubernur Aceh yang hingga kini masih didiami Gubernur Aceh Nova Iriansyah.

20201227-prasasti2

Foto: Muhammad Saleh

Sambil menarik nafas pajang dan melakukan pendinginan. Ingatan saya pun tertuju pada peringatan 16 Tahun Bencana Gempa dan Tsunami Aceh yang diperingati Pemerintah Aceh di Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh, Sabtu, 26 Desember 2020.

Itu sebabnya, dari berbagai pernyataan Gubernur Aceh Nova Iriansyah, satu ucapan yang melekat di otak saya adalah, Pemerintah Aceh memberikan apresiasi kepada 53 negara yang telah membantu Aceh.

"Tercatat tidak kurang dari 53 negara yang telah berkontribusi untuk rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pascabencana," kata Nova kemarin.

Pernyataan itu, sekaligus menepis asumsi negatif banyak orang selama ini bahwa “Bangsa” Aceh tidak bisa berterima kasih. Nyatanya, Nova dengan lantang mengucapkan itu.

Bahkan, atas nama rakyat Aceh, Nova Iriansyah menyampaikan penghargaan sebesar-besarnya kepada warga nasional dan komunitas internasional atas solidaritas dan dukungan dalam rangka rehabilitasi dan rekontruksi pascatsunami di Aceh.

Itulah satu peristiwa besar yang terjadi pada 26 Desember 2004 lalu, yang telah meluluh-lantakkan Bumi Serambi Mekkah.

Ada sekitar 230 ribu jiwa menjadi korban dalam peristiwa itu, sehingga membuat banyak masyarakat nasional dan internasional memberikan perhatian sekaligus membantu Aceh untuk terus bangkit.

Kata Nova, sebagai bentuk apresiasi kepada negara-negara pendonor, pemerintah membuat sebuah monumen bertuliskan “thanks to the world” dan prasasti “thank you and peace” yang lengkap dengan nama dan bendera negara di kawasan Lapangan Blang Padang, Banda Aceh.

“Untuk semua itu, sekali lagi atas nama pribadi dan Pemerintah Aceh kami mengucapkan terima kasih,” kata Nova.

Tentu tak ada yang salah dari ucapan Nova. Tapi, tahukah dia nasib monumen tersebut saat ini? Atau hanya sebatas menerima masukan dari staf atau dinas terkait, dibalik teks pidato yang telah disusun dan rangkai dengan rapi?

Sebab, andai Nova tahu bagaimana nasib monumen ini, tentu dia bisa sedikit “malu” dengan kenyataan yang ada.

“Kasihan ya Pak, kok ndak dirawat. Harusnya dicat kembali sehingga tidak seperti ini,” ujar Umar (40), seorang warga Banda Aceh, menjawab pertanyaan saya.

Menurut Umar, deretan prastasi yang melingkari Lapangan Blang Padang itu memang benda mati. Tapi, posisi dan letaknya memiliki arti sejarah panjang dan penuh makna bagi Aceh, Indonesia dan dunia. Itu sebabnya dia menilai tak wajar bila dibiarkan begitu saja, tanpa ada perbaikan.

“Ah, pemimpin kita cuma bisa bicara pencitraan, sementara dia sendiri tidak peduli. Buktinya, prasasti ini dibiarkan kondisinya seperti itu. Tidak terawat. Bahkan, untuk mencat kembali pun sulit,” kritik Umar.

Tak jauh berbeda dengan Shanty (35), warga Jakarta yang kini sedang berlibur bersama keluarga di Banda Aceh.

Dia sengaja memilih liburan ke Bumi Serambi Mekah saat pandemi Covid-19 akhir tahun 2020, salah satu tujuannya untuk mengenang bencana besar tersebut.

Dia mengaku, ada saudaranya yang menjadi korban (syahid) dari bencana terbesar di dunia ini.

“Aduh, kasihan ya Pak. Maunya dicat kembali sehingga anak-anak saya bisa membaca dengan jelas. Sayang sekali dan terkesan dilupakan begitu saja,” ucap dia.

“Itu pendopo Wakil Gubernur Aceh  ya Pak? Tanya Bambang (45) suami Shanty.

“Betul,” jawab saya singkat. “Hanya beberapa meter saja ya. Harusnya pemimpin Aceh datang dan lihat kondisi seperti ini,” sindir Bambang dengan raut wajah serius.

Mendapat pernyataan seperti itu, saya hanya terdiam. Mulut bagai terkunci dan tak mampu berargumentasi. Sebab, selain Pendopo Wagub Aceh, sekitar Lapangan Blang Padang juga ada rumah dinas Ketua DPR Aceh dan Pendopo Wali Kota Banda Aceh.

20201227-prasasti3

Foto: Muhammad Saleh

Sambil berlalu untuk pulang, pikiran saya pun membenarkan pernyataan Umar, Shanty dan Bambang.

Bisa jadi, Gubernur Aceh Nova Iriansyah lebih sering ke rumah istri keduanya Yuyun Afarah di Jalan Turi, Cot Masjid Kota Banda Aceh dari pada sekedar melihat kondisi Lapangan Blang Padang, yang hanya beberapa langkah dari pendoponya.

Dan ternyata, 53 prasasti  untuk dunia yang dia memberi apresiasi, nasibnya tak seindah puja puji dari mulut seorang pemimpin negeri Tanah Rencong ini.

Bisa jadi, proyek ini tak ada “fee” Entahlah!

Komentar

Loading...