APBA 2020 dan Hikayat "Membeli Kucing Dalam Karung"

APBA 2020 dan Hikayat "Membeli Kucing Dalam Karung"
Foto: Ilustrasi/google
Sumber
Pimpinan Redaksi MODUSACEH.CO

MODUSACEH.CO | Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) memang telah mengesahkan Qanun Aceh tentang, Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) tahun anggaran 2020, Rabu, 25 September 2019.

Anggaran sebesar Rp 17,279 triliun lebih ini, diputuskan dalam paripurna pandangan akhir fraksi. Hasilnya, semuanya menyetujui jumlah APBA yang diusulkan Pemerintah Aceh. Eeuh, amin..........! tanda setuju.

Fantastis? Ya, sebab total APBA 2020 meningkat sebesar Rp 175 miliar lebih dari jumlah APBA 2019 yang hanya Rp 17,104 triliun. Kini naik menjadi Rp 17,279 triliun.

Sebatas ini, tentu tak soal. Selain itu, dokumen yang berisi angka-angka alokasi APBA 2020 itu pun, sudah singgah di Kemendagri untuk mendapat pengesahan.

Namun, hingga kini tak jelas, apakah seluruh plot anggaran tersebut, sepenuhnya disepakati Jakarta (Kemendagri) atau ada segmen atau bagian yang perlu mendapat koreksi atau pembahasan ulang di Aceh.

Lepas dari semua itu, tiga anggota DPR Aceh, Muhclis Zulkifli (Fraksi Partai Amanat Nasional), Sulaiman (Fraksi Partai Aceh) dan Irawan Abdullah (Fraksi Partai Keadilan Sejahtera), justeru minta agar Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (RAPBA) 2020 yang telah disahkan DPRA Periode 2014-2019, dibahas ulang.

Menarik? Mungkin saja. Sebab, siapa nyana, wakil rakyat produk Pileg 17 April 2019 lalu ini, justeru lebih jeli dan teliti.

Bisa jadi, salah satu alasan adalah; bagaimana mereka bisa melakukan pengawasan jika tak ikut membahasnya.

Tentu menarik, tiga legislator dari daerah pemilihan Banda Aceh, Sabang dan Aceh Besar itu menilai. Pengesahan RAPBA 2019, terburu-buru dilakukan. Bahkan terkesan pembahasan RABPA 2020, juga kejar tayang.

Saya kok jadi ingat lirik lagu; Si Komo Lewat, Ciptaan Kak Seto.

"Macet lagi, jalanan macet. Gara-gara si Komo lewat. Pak polisi jadi binggung. Orang-orang ikut binggung. Macet lagi, macet lagi. Gara-gara si Komo lewat. Jalan Thamrin, Jalan Sudirman. Katanya berkeliling kota".

Nah, mereka tak sependapat, bila pembahasan RAPBA 2020 kejar tayang alias dengan cara balap-balapan. Sementara, realisasi APBAP 2019 saja, masih terkesan terseok-seok.

"Kami tidak tahu mau menjawab apa jika ditanya masyarakat. Apakah ada dialokasikan untuk Dayah dan program lainnya, karena kami tidak tahu apa-apa, tidak ikut membahasnya," tegas Muchlis Zulkifli, Selasa, 29 Oktober 2019 di Banda Aceh.

Karena itu pula, banyak pihak menilai. Pengesahan APBA 2020 yang menurut Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah sebagai “prestasi” dan tercepat di Indonesia ini. Tak ubahnya ibarat: membeli kucing dalam karung!

Dan, bukan mustahil ada kaitannya dengan praktik “jual beli atau berdagang” atau dalam istilah ekonomi disebut; transaksional.

Karena itu wajar bila tiga dari 81 anggota DPR Aceh produk Pileg 2019 lebih jeli dan kritis. Sebab, seorang “pembeli” memang harus meneliti secara detil barang yang hendak dibeli. Jangan sampai apa yang dibeli tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Kiasan ini terus meluas tidak hanya dalam perdagangan tetapi juga politik. Misal, keputusan dan kebijakan yang diambil seorang pemimpin. Salah satunya, ya pengesahan APBA 2020, yang mulai menimbulkan reaksi ini.

Cerita tradisional tadi merupakan “projecting expectations through narrative” (memproyeksikan harapan melalui narasi). Maka maklum saja jika “si pendongeng” cerita bisa saja sedang mengingatkan kepada para pelaku jual beli untuk menggunakan karung agar tidak tercakar.

Itu sebabnya sekali lagi,  “bagai membeli kucing dalam karung” juga bermakna: “memilih dan memutuskan sesuatu tentu ada akibatnya”.

Jika melihat realita pengesahan APBA 2020 lalu, maka ada dua tujuan seseorang (pemimpin) atau sekelompok orang (di sekitar kekuasaan) yang memang gemar membeli kucing dalam karung.

Pertama, untuk "dipelihara" dan kedua, ada kebijakan dengan keputusan terselubung dan sarat dengan maksud serta tujuan tertentu pula.

Secara psikologi sosial, istilah membeli kucing dalam karung muncul dari seseorang/sekelompok orang, yang pernah mendapat pengalaman buruk saat membeli kucing dalam karung.

Sehingga dia memberi nasihat kepada orang lain supaya atau jangan melakukan kesalahan yang sama dengannya. Maka tersebarlah nasihat: jangan membeli kucing dalam karung!

Nasihat ini kemudian diperluas maknanya dengan tujuan berbeda (dikaitkan dengan hal lain dalam kehidupan masyakarat dan politik) sehingga menjadi peribahasa.

Saya berasusmi dan berkhayal, orang yang menciptakan peribahasa; bagai membeli kucing dalam karung”, sebenarnya adalah seorang pemikir.

Nah, dalam kontek tiga anggota DPR Aceh tadi, setidaknya mereka telah mengamati dan mencermati bahwa; pengesahan APBA 2020, tak lepas dari praktik jual beli kucing dalam karung.

Sebab, “andai saja kucing itu dibeli dalam karung (tanpa diperlihatkan terlebih dahulu), bisa saja si pembeli mendapatkan kucing yang tidak sesuai dengan keinginannya”.

Begitulah setidaknya dengan pengesahan APBA 2020, yang digadang-gadang Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah. Alamak! (selengkapnya baca edisi cetak).***

Komentar

Loading...