APBA 2020 dan "Citra Kuasa" Nova

APBA 2020 dan "Citra Kuasa" Nova
Pengesahan APBA 2020 (Foto: acehportal.com)
Rubrik
Sumber
Pimpinan Redaksi MODUSACEH.CO

Badan Anggaran DPR Aceh menilai. Pembagian anggaran yang dikelola Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA), yang dilakukan Tim Anggaran Pemerintah Aceh (TAPA), masih tetap menggunakan sistem Plafon Oriented bukan Program Oriented.

MODUSACEH.CO | Artinya, setiap SKPA diberi jatah pagu tanpa memperhatikan Program dan Kegiatan Prioritas, serta kurang mencermati RPJM Aceh Tahun 2017–2022 yang memuat Visi-Misi Gubernur Aceh, dan Rencana Kegiatan Pemerintah Aceh sebagai dokumen acuan perencanaan tahunan. Termasuk RTRW Aceh yang ada.

Akibatnya, progress pembangunan infrastruktur, sumber daya manusia, dan pemanfaatan sumber daya alam di Aceh menjadi tidak terarah.

***

Tampil percaya diri di Hari Ulang Tahun dan Reuni Akbar ke-60, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), 28 September 2019 lalu. Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh Nova Iriansyah dengan bangga mengaku. Pengesahan Anggaran Pendapatan dan Balanja Aceh Tahun 2020, Rabu (25/9/2019), merupakan momentum untuk mempercepat pembangunan di Aceh.

Menurut dia, pengesahan APBA lebih awal bukanlah sebuah mitos atau sesuatu yang tidak mungkin terwujud. Itu sebabnya, berbagai puja puji menyertai dirinya dari para pengawa di sekitar kursi kekuasaannya.

20191009-nova

Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah (Foto: Serambi)

Dia menjelaskan, pengesahan APBA 2020 yang dilakukan tersebut merupakan awal dari langkahnya mewujudkan kesejahteraan masyarakat Aceh.

Karena itu, Nova mengajak semua pihak termasuk perguruan tinggi negeri dan swasta umumnya dan Unsyiah khususnya, untuk bersama sama berkontribusi membangun Aceh.

Katanya, Pemerintah Aceh membuka diri dan memberi ruang kepada semua pihak, generasi muda untuk ikut serta membangun Aceh.

“Mari kita manfaatkan momentum ini untuk saling berkolaborasi sehingga upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat di provinsi ini bukan lagi sebuah fatamorgana, tapi sebuah kenyataan yang akan terwujud,” katanya yakin.

Ia juga berharap, alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah menjadi lokomotif serta pionir untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Aceh.

Nah, apa yang diucapkan Nova tentu wajar-wajar saja. Apalagi bila diselaraskan dengan proses pencitraan dirinya sebagai  penguasa “tunggal” Aceh, paska tertangkap Irwandi Yusuf oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Nyaris, kendali pemerintahaan berada di tangannya.

Itu sebabnya, ditengah realita realisasi APBA 2019 yang boleh disebut masih karut marut, dia dengan lugas mulai  memformulasikan dirinya dengan pencitraan, yang kalau mau jujur bisa disebut; masih semu!

Memang, secara sederhana, pencitraan atau citra merupakan rupa, gambar atau gambaran dari sosok maupun entitas yang ingin diciptakan kepada pihak luar.

Citra juga memiliki arti kesan mental atau bayangan visual yang ditimbulkan dari sebuah kata, frasa, atau kalimat.

Ketika citranya bisa meyakinkan publik dan memberi ekspetasi baru tentang hal-hal yang didambakan publik. Maka figur atau entitas akan memiliki peluang besar untuk meraih simpati publik.

Bahkan, bukan mustahil akan menyimpan pesan terselubung demi kepentingan politik tertentu, terutama pada Pilkada Aceh 2022 atau 2024 mendatang.

Tapi yang menjadi  masalah adalah, dalam kenyataannya banyak figur dan pimpinan politik. Termasuk kepala daerah yang terjebak pada orientasi miopik (pragmatis, mementingkan diri sendiri, atau kelompoknya/partai saja).

Sehingga citra politik yang dibentuk justeru menjadi citra yang artifisial atau tanpa realita dan dialektika. Begitukah? (selengkapnya baca edisi cetak).***

Komentar

Loading...