Pilkada Aceh 2017

Antara Kesehatan dan Fase Psikologis Bakal Calon

Antara Kesehatan dan Fase Psikologis Bakal Calon
Rubrik

Bakal calon gubernur incumbent dari jalur independen, dr. Zaini Abdullah mencoba meyakinkan masyarakat Aceh, bahwa usia senja dan kondisi kesehatannya, tak menghambat misinya untuk kembali maju sebagai orang nomor satu Aceh pada Pilkada 15 Februari 2016 mendatang. Tapi, dari pandangan mata dan  pakar psikologi menilai, di usia lansia selain fisik yang semakin melemah juga berdampak pada psikologi yang cenderung sensitif serta pelupa.

Lihat saja saat mengikuti tes baca Alquran di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Rabu, 28 September 2016, Abu Doto begitu dia akrab disapa tampak begitu lelah.  Jalannya juga agak bermasalah, sehingga harus mengunakan tongkat. Dia pun tak mampu untuk duduk bersila, sehingga panitia menyedia kursi untuk Abu Doto. “Wah, sayang juga Abu Doto harus mengunakan tongkat. Apa beliau sedang sakit,” bisik seorang warga Banda Aceh yang ikut menyaksikan acara tersebut pada media ini.

Diam-diam, tanda tanya dan keraguan warga tadi, sampai juga ke telingga tim sukses Abu Doto yang ikut nimbrung di masjid kebanggaan rakyat Aceh ini. Tak lama kemudian, Abu Doto berjalan tanpa alat bantu tersebut.

Kondisi ini rupanya tak berlansung lama. Saat dipanggil dewan juri (tim penilai) agar Abu Doto membacakan Alquran, orang nomor satu inipun harus dibantu ajudan pribadinya, Muzakir Hamid. Lalu, dia pun menuju meja dan kursi, untuk membaca Alquran, sesuai dengan ayat yang disyaratkan.

Sebatas ini, Abu Doto masih tak ada masalah, sedikit terkendala saat usai membaca dan kembali ke posisi semula, di barisan para bakal calon Gubernur-Wakil Gubernur Aceh lainnya, Abu Doto terpaksa dibantu untuk bangkit dari kursi. “Ya, tampak lelah sekali Abu Doto,” bisik salah seorang anggota tim sukses Muzakir Manaf-TA. Khaled pada media ini.

Benarkah kondisi kesehatan Abu Doto sempat menurun? Jawaban jamak sudah muncul dan beredar di media sosial (medsos) serta media pers. Hasbi Abdullah (adik kandung) Abu Doto dan Sekda Aceh Darmawan, membenarkan kondisi ini. “Abu hanya lelah dan perlu istirahat di Rumah Sakit dr. Cipto Mangkusumo Jakarta,” jelas Hasbi Abdullah. Walaupun sebelumnya, Karo Humas Pemerintah Aceh Frans Delian sempat mengeluarkan siaran pers yang menyebutkan bahwa Abu Doto dalam keadaan sehat wal afiat.

***

Lanjut usia dan sakit adalah sunatullah. Setiap manusia yang hidup, pasti menemui dan menjalani fase ini. Itu sebab sebabnya, ketika kabar Abu Doto kurang sehat berhembus di media pers (khususnya online), tak perlu panik dan disikapi secara berlebihan. Sebaliknya, tak perlu pula menepis dan lari dari kenyataan hidup tadi. Toh, pada akhirnya jalan dan tangan Tuhan lah yang berbicara. Minggu (31/7/2016), misalnya, dr. Zaini Abdullah bergegas menuju podium yang ditempatkan pada sudut kanan panggung. Hari itu, bersama bakal calon Wakil Gubernur Aceh Nasaruddin, dia mengelar  konferensi di bekas Hotel Aceh, Taman Sari Banda Aceh. Keduanya resmi berduet untuk memenangkan pertarungan pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh Periode 2017-2022.

Dalam orasi politiknya Abu Doto menceritakan kegetiran yang ia rasakan selama menjadi Gubernur Aceh, terutama terhadap kritikan pedas yang dialamatkan oleh media massa pada dirinya sebagai pucuk pimpinan, baik soal ketimpangan kebijakan maupun umurnya yang sudah lansia  (lanjut usia). Sehingga, banyak pihak menilai, seharusnya, Abu Doto sudah saatnya untuk istirahat dan menikmati masa tuanya bersama anak dan cucunya di rumah. “Banyak yang berkata secara langsung pada saya, semestinya pada usia ini saya sebaiknya mundur dari hiruk pikuk dunia politik,” ujarnya.

Tapi, Abu Doto punya pikiran berbeda, meski sadar usia sudah diambang senja, dia tak bergeming dan tetap mencalonkan diri kembali menjadi Gubernur Aceh. Alasanya kata Abu Doto,  bukanlah karena dia haus kekuasaan, melainkan ingin melanjutkan amanah almarhum Wali Nanggroe, Hasan Ditiro untuk menjaga perdamaian di Aceh. “Saya hanya ingin menjaga wasiat terakhir Wali Nanggroe Aceh, Paduka yang mulia Tengku Muhammad Hasan Ditiro untuk menjaga perdamian. Salah satu yang bisa menjamin itu adalah kursi Gubernur Aceh,” kata Abu Doto, yang disambut haru massa pendukungnya.

Tentu, tak ada yang salah dari kapasitas niat sucinya itu. Namun, untuk posisi seorang Gubernur Aceh, usia Abu Doto yang diambang senja memang menjadi perhatian khusus banyak pihak. Soalnya, kakek berusia 76 tahun itu kerap bersikap mudah tersinggung, pelupa, dan ucapan yang relatif tak lagi teratur.

Wartawan media ini sempat mengalami sendiri sikap sensitif Abu Doto. Saat itu, gara-gara mengajukan pertanyaan yang menukik dan membuat sang gubernur tak nyaman, seusai menyerahkan LKPJ Gubernur Aceh tahun 2015 di DPRA beberapa waktu lalu. Akibatnya, bukan jawaban yang didapatkan, tapi wajah memerah dan tatapan tajam dari sang gubernur. “Padahal saya hanya bertanya, dan sedikit lebih dalam,” cerita wartawan media ini.

***

Dalam Ilmu kesehatan, usia memang sangat berpengaruh terhadap prilaku dan kinerja seseorang, apalagi untuk kapasitas kepala daerah yang berjibun masalah. Dunia medis membagikan klasifikasi pertumbuhan usia dengan beberapa fase, dan setiap fase-fase itu ada tugas-tugas yang harus diselesaikan. Untuk fase anak-anak, yang berkisar dari nol hingga 18 tahun. Tugasnya adalah berbahasa, berteman baikdengan sesama jenis maupun berbeda jenis, dengan lingkungan. Kemudian tahap remaja, tugas seorang anak adalah berkenalan dengan lawan jenis, bersosial dan punya banyak teman. Selanjutnya tahap dewasa, seseorang mulai suka pada pekerjaan dan pasangan hidup. Sementara di fase tua, terhitung sejak usia  65 sampai ia meninggal, dalam fase ini psikologinya adalah menikmati sisa hidup dengan keluarga dan beribadah.“Karena pada fase ini secara fisik dan psikologi seseorang kembali menurun, dan tak jarang berprilaku seperti anak-anak,” demikian pendapat Yusniar, M.Psi, psikolog dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Meuraxa, Banda Aceh pada media ini beberapa waktu lalu.

Menurut Yusniar, manusia yang berumur di atas 70 tahun sampai ia meninggal, memiliki kecendrungan fisiknya menurun drastis dari orang dewasa. Begitu juga dengan kondisi psikologisnya yang tak lagi stabil, karena kedua elemen ini saling berkaitan satu sama lain. Akibatnya, orang yang sudah berusia 70 tahun tingkat sensitifnyalebih tinggi. “Tidak hanya itu, lumrahnya logika kognitif orang yang berusia lansia juga menurun ketimbang remaja maupun dewasa. Karena orang tua itu ibarat ranting yang tua dan cepat patah, namun ada juga orang tua yang logikanya tetap masih tajam, karena sering diasah, walaupun tak sebagus saat ia masih berusia dewasa. Namun, ada juga orang yang semakin tua semakin bijaksana itu karena pikirannya tenang karena ibadah dan dia banyak membaca,” tambah Yusniar.

Yusniar juga menjelaskan, orang tua yang sensitif adalah yang kurang bahagia, karena diusia tua mereka cenderung lebih suka diperhatikan, maka saat perhatian itu tidak didapatkan lagi, maka akan bersikap seperti anak-anak. “Jadi kalau mereka tidak mendapat perhatian, mereka akan sensitif  jadi ada istilahnya seperti sangkar kosong,” nilai Yusniar.

Dalam berfikir, orang yang berusia lanjut cenderung pelupa, dan tidak lagi produktif dalam melahirkan pemikirancemerlang, meskipun ada beberapa orang, walaupun sudah berusia lanjut tapi otaknya masih produktif dalam berfikir. “Itu karena otaknya selalu diasah, namun kenyataan itu hanya terjadi pada beberapa orang saja,” tambah Yusniar.

Jadi menurut Yusniar, sejak umur beranjak 65 tahun ke atas, sebaiknya tidak lagi disibukkan dengan pekerjaanmelainkan menikmati hari tua dengan bersosialisasi kembali baik dengan anak, cucu maupun menantu sertameningkatkan kualitas ibadah. “Secara psikologis sebaiknya jangan ada lagi beban pikiran yang berat, nikmati sajalah hidup ini dengan beribadah kepada Allah SWT,” saran Yusniar.***

Komentar

Loading...