Menuju Pileg 2019

Antara Adu Nasib dan Peluang Kerja

Antara Adu Nasib dan Peluang Kerja
Ilustrasi (Radar Gorontalo)

Menjadi anggota legislatif sepertinya masih primadona bagi mayoritas rakyat di Indonesia, termasuk Aceh. Namun, berdalih besarnya kuota dan sulitnya merekrut calon, sejumlah posisi justeru diisi keluarga dekat. Mulai dari istri, ayah, adik hingga anak. Bukti mandeknya perkaderan.

MODUSACEH.CO I Bergerak lurus ke depan, Pemilu Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) dilakukan secara serentak, 17 April 2019 mendatang. Maka, hanya ada waktu delapan bulan lagi yang tersisa. Itu sebabnya, baik partai politik (parpol) maupun calon anggota legislatif (caleg), sejak dari sekarang sudah mulai mengambil ancang-ancang.

Lihat saja, walau belum secara terang-terangan “menjual diri” kepada rakyat. Namun berbagai taktik dan strategi pencitraan, khususnya memperkenal diri, sudah mulai dilakukan. Ada yang mengelar pertemuan kader dan pendukung. Tapi, tak sedikit yang menampakkan dirinya melalui imsakiah ramadhan, baliho, spanduk ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha 2018. Termasuk, mengagas ide “perjuangan” di media sosial seperti facebook, instagram dan lainnya.

 Namanya juga usaha? Tentu, soal terpilih atau tidak, itu urusan lain. Yang penting maju dan ikut meramaikan konstestasi pesta demokrasi lima tahunan ini. Untuk Pileg 2019, ada 20 partai politik yang terdaftar sebagai peserta di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat, Jakarta. Ada 16 diantara parpol nasional. Sisanya, 4 partai politik lokal (parlok) yang khusus berada di Aceh. Antara lain, Partai Aceh (PA), Partai Nanggroe Aceh (PNA), Partai SIRA serta Partai Daerah Aceh (PDA).

Nah, entah karena banyaknya partai politik itu pula, disadari atau tidak, para petinggi partai menjadi kesulitan untuk menjaring para caleg berkualitas. Terutama di tingkat kabupaten/kota. Maklum, para caleg berkualitas tadi, biasanya sudah merapat lebih dulu ke partai-partai besar atau nasional, karena dinilai lebih menjanjikan. Apalagi, dengan aturan ambang batas  yang kian ketat. Sementara partai-partai gurem atau pendatang baru tapi berwajah lama, memang kurang begitu dikenal dan diminati masyarakat.

Itu sebabnya, partai-partai gurem pun terkesan asal comot dalam mendaftarkan para calegnya untuk bertanding di Pemilu 2019. Bahkan, ada daerah pemilihan (dapil) di Aceh, yang kosong alias tidak ada daftar calegnya.

20180826-daftar-caleg1

Ilustrasi (Lampung Post)

Potret ini tak aneh memang dan telah terjadi dari satu pileg ke pileg berikutnya. Ibarat dalam dunia kerja. Ada kesempatan maka semakin banyak pula orang yang bisa mengambil peluang itu, dan persaingan pun semakin longgar. Dengan kata lain, semakin kecil kualitas orang yang berminat, maka semakin sedikit pula orang yang terjaring, dan persaingan pun semakin ketat. Sebaliknya, jika penjaringan semakin ketat, maka orang-orang yang terpilih relatif lebih berkualitas.

Di sisin lain, selama postur kepartaian di negeri ini masih saja besar, maka selama itu pula akan bermunculan caleg-caleg yang tidak berkualitas. Karena peluang menjadi caleg terbuka lebar, maka orang-orang akan berduyun-duyun mendaftarkan diri. Menjadi caleg, seolah profesi yang diidam-idamkan serta peluang lowongan kerja baru, yang menyedot perhatian sekian banyak orang.

Kondisi ini mengkhawatirkan memang, apalagi jika tujuanya untuk mencari kerja. Terdapat semacam keinginan untuk mengubah nasib menjadi lebih baik. Atau mungkin saja untuk menerapkan aji mumpung yang telah mereka pelajari sejak era Orde Baru. Mumpung jadi anggota legislative dengan mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. (selengkapnya baca edisi cetak, beredar, Senin, 27 Agustus 2018).***

Komentar

Loading...