Penulis adalah Pimpinan Redaksi MODUSACEH.CO

Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda.

Raja Diqyanus, Anjing dan Ashabul Kahfi

Raja Diqyanus, Anjing dan Ashabul Kahfi
Ilustrasi.

SUATU hari, seekor anjing kampung pergi dari rumah tuannya. Dia berjalan tanpa arah hingga sampai di hutan rimba yang penuh dengan rusa serta binatang kecil lainnya. Termasuk ayam hutan dan kelinci, yang menjadi santapan paling nikmat bagi dirinya.

Sang anjing berpikir;  “aku ingin hidup bebas tanpa majikanku di hutan rimba ini, aku bisa berbuat apa saja, sesuka hatiku. Menguasai hutan dengan segala isinya”.  Lalu, dengan gagah anjing itu melangkah, masuk ke hutan rimba.

Benar saja, di sana sang anjing mendapatkan banyak teman. Dia bergembira dan bercerita pada binatang lain tentang kehebatan dirinya. Termasuk nyaris tanpa jeratan hukum rimba.

Tentu, sedikit dengan bumbu teror dan ancaman sehingga anjing merasa semakin kuat di antara teman-temannya.

Memang dasar anjing, tak lama kemudian terlihatlah tabiat sebenarnya. Anjing itu suka melakukan perbuatan jelek kepada teman-temannya.  Bahkan, menghasut  dan memfitnah, rekannya sesama binatang. Tujuannya, ingin menguasai semua yang ada di hutan tersebut.

Untuk memuluskan akal bulusnya, sesekali dia mengajak sejumlah anjing lainnya untuk mengong-gong dan menakuti binatang lainnya, untuk membenarkan perbuatannya tadi.

Cara itu mudah dilakukan. Dia cukup melempar beberapa tulang kecil kepada anjing lain yang sudah lapar. Maka, serentaklah para anjing tersebut mengong-gong dan membenarkan perbuatan anjing berakal bulus ini.

Maklum, anjing memang suka merasa sebagai binatang paling sempurna di alam semesta ini. Namanya juga ada dikisahkan dalam kitab suci Al-Qur’an.

Sejarah Islam mencatat, masa kerajaan Diqyanus, ada tujuh orang pemuda dan satu ekor anjing yang menyelamatkan diri, mempertahankan keimanannya. Peristiwa ini dikenal dalam Al-Qur’an sebagai Ashabul Kahfi (penghuni-penghuni gua Al-Kahfi).

Diqyanus adalah seorang raja kejam dan meminta seluruh rakyat untuk menyembah dirinya selain Allah SWT, yaitu berhala. Jika tidak, rakyat akan disiksa dan dibunuh.

Di tengah ancaman tersebut, tidak ada pilihan lain bagi seluruh rakyat, kecuali tunduk dan patuh pada Diqyanus. Tapi, berbeda dengan tujuh pemuda tadi, mereka memilih untuk melarikan diri dan bersembunyi dari kejaran utusan raja dalam gua Al-Kahfi.

Dalam surat Al-Kahfi ayat 10 sampai 26 diceritakan, ketujuh pemuda dan seekor anjing tersebut, tertidur dalam gua selama 309 tahun tanpa mereka sadari.

Tapi, kisah anjing kampung yang satu ini berbeda dengan yang tersebut dalam surat Al-Kahfi. Hingga suatu hari, para binatang yang ada di rimba itu dibuat resah dengan tingkahnya.

Terakhir, anjing itu mengadu domba binatang satu dengan lainnya, sehingga suasana di hutan rimba menjadi tidak tenang dan penuh intrik.

Singkat cerita, para penghuni hutan akhirnya mengirim satu ekor rusa sebagai utusan, menghadap sang raja yaitu harimau. Dia bercerita tentang semua persoalan yang menimpa rakyat (binatang lainya) di hutan rimba tersebut.

Harimau murka, dia tidak suka pada anjing kampung itu dan dengan hati panas serta emosi, harimau mencari anjing sombong tadi.

Semua rakyat binatang kaget melihat sang raja (harimau) marah seperti itu. Maklum, mereka tidak pernah menyaksikan dia bersikap demikian. Sebab, bila rakyatnya memiliki masalah,  justeru sang raja (harimau) yang menjadi penengah.

Saat bertemu anjing tadi, harimau meraung sangat kuat dan mengerikan. Dia marah besar. Anjing itu takut. Dia sadar dengan semua tingkahnya. Ada niat untuk melarikan diri, namun dia sudah tak mampu lagi.

Keringat dingin keluar dari sekujur tubuhnya. “Ampuni aku wahai raja. Aku tak akan mengulanginya lagi,” kata anjing.

Tapi, harimau yang sudah kadung marah menghardiknya; "pergilah sebelum aku makan dirimu hidup-hidup. Aku tak sudi punya rakyat sepertimu".

Dengan hati berkecamuk, anjing kampun itupun lari terbirit-birit, meninggalkan hutan rimba. Tragisnya, sang anjing kecil yang selama ini membela anjing kampung tadi, tertunduk lesu dan terdiam seribu bahasa, di balik pohon besar dan rindang. Mereka pun takut kepada harimau.

Seperti halnya manusia, janganlah suka mengancam, teror serta berbuat kasar kepada orang lain. Apalagi untuk satu “tulang” jika tak elok di sebut; paket proyek. Janganlah ketika berada dalam puncak atau disamping kekuasaan, lalu bisa berbuat seenaknya.

Dalam kaidah jurnalistik ada dikenal facts are sacred (fakta itu suci). Inilah pelajaran dasar yang harus dijunjunjung tinggi seorang wartawan profesional. Selain itu, dikenal pula Jurnalisme Watchdog. Bermakna, jurnalisme ibarat “anjing penjaga” dari kebenaran fakta, data dan peristiwa secara lugas, terbuka dan jujur kepada publik.

Termasuk tentang kejadian dan sepak terjang para pejabat pemerintah, swasta dan masyarakat, terutama yang menuntut adanya perubahan sosial, politik, budaya dan ekonomi. Maupun menjaga kedamaian dan ketentraman satu daerah atau negara.

Noam Chomsky, filsuf dan kritikus kebijakan Amerika Serikat pernah menggambarkan kerja insan pers yang dianggapnya jauh dari nilai dan perannya. Apalagi di era digital saat ini. Sadar atau tidak, telah menuntut pers untuk bertransformasi.

Berbagai tantangan kemudian muncul, tak hanya mendorong industri media menghasilkan berita berkualitas, tapi juga menjamin peningkatan pageviews (tampilan halaman) atau clickers dari suatu laman media daring.

Nah, jika diksi ‘’berkualitas’’ merujuk pada ajaran elemen jurnalisme Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Maka, yang menjadi perhatian adalah, apa yang disebut sebagai truth atau kebenaran data, fakta dan peristiwa dari sebuah karya jurnalistik.

Fakta itu sendiri sebenarnya ada yang baik, positif, atau normatif dan ada pula fakta sebaliknya.

Karena itu, bila wartawan menemukan suatu peristiwa yang berdimensi di luar skala normatif, maka itu adalah berita emas. Contoh, bila ada anjing menggigit manusia, itu berita biasa dan berkualitas rendah. Tak layak ditulis. Tetapi jika manusia menggigit anjing, itu baru peristiwa menarik.

Lantas, bagaimana dengan kasus yang menimpa Hidayat, seorang wartawan media daring Indojayanews.com? Dia memang bukan Bob Woodward dan Carl Bernstein, dua wartawan The Washington Post, Amerika Serikat dalam film The All President Man, yang berhasil membongkar skandal Watergate.

Bukan pula Lowell Bergman (Al Pacino), seorang jurnalis dan produser acara 60 Minustes pada televisi CBS di negeri Paman Sam, yang berhasil mengungkap material biokimia dan kecurangan dalam komposisi produk rokok di perusahaan tembakau Brown & Williamson (B&W). Salah satu dari tujuh perusahaan tembakau raksasa di Amerika. Kisah nyata ini bisa ditonton pada film The Insider.

Dayat, begitu orang memanggilnya, hanya seorang wartawan muda. Namun, keberanian Dayat, melaporkan H. Makmur Budiman ke Polda Aceh dengan dugaan perbuatan pengancaman, membuat nama Dayat seketika mencuat.

Tentu ini bukan tanpa sebab, Dayat mengaku dan menduga, ancaman yang dia terima, terkait berita yang ia tulis. Ya,  soal pengranatan rumah pribadi Plt. Kepala ULP Pemerintah Aceh, Said Azhary serta benang merah mengenai penyaluran kredit dari PT. Bank Aceh Syariah (BAS), Rp98 miliar kepada H. Makmur Budiman.

Termasuk soal dugaan praktik pat gulipat  penguasa pada sejumlah proyek Pemerintah Aceh yang termaktub dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) 2020.

Mengaku keselamatan diri dan keluarganya terancam, Dayat melaporkan Ketua Kadin Aceh H. Makmur Budiman ke Polda Aceh. Dua pekan lalu, pengusaha papan atas ini, memenuhi pangilan penyidik, untuk dimintai keterangan.

Menjadi wartawan memang tak gampang. Maklum, inilah salah satu profesi yang butuh mental sebagai modal utama. Profesi ini, mengharuskan seorang jurnalis mencari berita dan investigasi berbagai kasus.

Namun bukan tanpa godaan dan resiko. Jika mau bernegosiasi, tentu bisa kaya mendadak. Sebaliknya, resiko ancaman, teror, penganiayaan serta kematian bisa datang sewaktu-waktu dan kapan saja.

Entah itu sebab, para sutradara film ternama dunia, juga tak luput perhatiannya untuk mengangkat berbagai kisah nyata para jurnalis ke film layar lebar. Mulai dari cerita perang teluk, kasus politik hingga konspirasi para mafia narkoba dan pengusaha.

Tapi sekali lagi, apa yang dialami Hidayat bukanlah kisah fiksi film layar lebar atau sinetron. Tapi, cerita nyata yang siap mengancam siapa saja. Termasuk media ini.

Bayangkan, sejak kehadirannya, 16 April 2003 silam. Tabloid Berita Mingguan MODUS ACEH, telah mengalami berbagai teror dan kekerasan. Misal, tahun 2013 dan 2018, kantor redaksi media ini mengalami teror bom dan granat dari orang tak dikenal (OTK). Namun, hingga kini tak satu pun berhasil diungkap polisi.

Selain itu, ada pimpinan partai politik nasional di Aceh, yang mengirim seorang anak muda (katanya kurang waras), untuk menghancur kaca dan pintu kantor redaksi. Anak muda ini ditangkap dan dibawa ke pengadilan.

Tapi, Majelis Hakim PN Banda Aceh, membebaskannya dengan alasan kurang waras.

Belum lagi, praktik kriminalisasi yang dilakukan salah satu organisasi profesi (wartawan) yang berkolaborasi dengan penguasa dan pengusaha daerah terhadap pimpinan media ini.

Itulah resiko yang harus dihadapi, disaat berdiri tegak, mengungkap fakta, data dan peristiwa apa adanya. Di sisi lain, kekuasaan dan uang, mampu memberangus fakta suci serta truth atau kebenaran dari karya jurnalistik, yang sesungguhnya adalah milik publik.

Nah, akankah kasus dan laporan Hidayat ke Polda Aceh menjadi pintu masuk untuk mengungkap berbagai tabir gelap; teror, ancaman dan kekerasan yang terjadi selama ini di Aceh? Atau hanya sebatas pemberi harapan palsu (PHP) di tengah besarnya harapan rakyat di Bumi Serambi Mekah? Biarlah waktu menjawabnya. Selengkapnya baca edisi cetak, Senin, 13 April 2020.***

Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi!
Rubrik

Komentar

Loading...