APBA 2020 Untuk Siapa?

Anggota Komisi I DPR Aceh Fuadri; Si Manja Hanya “Manjakan” Aparatur, Rakyat Tetap Nomor Dua

Anggota Komisi I DPR Aceh Fuadri; Si Manja Hanya “Manjakan” Aparatur, Rakyat Tetap Nomor Dua
Fuadri, anggota Komisi I DPR Aceh (Foto: Ist)

Komisi I DPRA melakukan rapat kerja dengan sejumlah SKPA atau mitra terkait. Hasilnya, membuka “tabir gelap” tentang alokasi anggaran (APBA 2020. Ternyata, dana aparatur lebih besar atau 70 persen, sementara untuk publik hanya 30 persen. Berharap wakil rakyat tidak hanya diam dan Ha..ha..ha! Berikut laporan Muhammmad Shaleh.

MODUSACEH.CO | TAK satu jalan ke Roma. Agaknya, prinsip inilah yang sedang “dimainkan” anggota DPR Aceh. Ibarat kata, tak bisa masuk melalui pintu depan, lewat pintu belakang menjadi alternatif.

Nah, setelah sempat tarik ulur soal permintaan data APBA 2020 kepada Pemerintah Aceh melalui Setda Aceh (eksekutif). Akhirnya satu persatu data (DPA 2020) yang dibutuhkan tadi diperoleh. Salah satu caranya, melakukan rapat kerja dengan SKPA (mitra) terkait.

Tanggal 12-15 Mei 2020 misalnya, Komisi I DPRA melakukan rapat kerja dengan sejumlah SKPA atau mitra terkait. Hasilnya, wakil rakyat Aceh produk Pileg 2019 ini berhasil membuka tabir gelap tentang daftar angka (anggaran) daerah (Aceh) yang tertuang dalam “kitab suci” APBA 2020, yang nyaris tanpa pembahasan detil dan rinci ini.

Anggota Komisi I DPR Aceh Fuadri membenarkan adanya pertemuan tersebut. Dia mengaku terkejut dan kaget dengan fakta yang terungkap. “Begini, kami melihat data DPA 2020 yang selama ini kami minta tapi tidak pernah diberikan secara resmi oleh Pemerintah Aceh (eksekutif). Dan, sekarang baru kami dapatkan setelah melakukan rapat dengar pendapat dengan SKPA,” katanya dengan lugas.

20200528-apel

Apel ASN jajaran Setda Aceh (Foto: Ist)

Karena itu, politisi Partai Amanat Nasional (PAN) merasa perlu menyampaikannya kepada publik atau rakyat Aceh agar bisa terinformasikan secara terang menderang. “Perlu kami publikasikan kepada rakyat dan memang kami terus melakukan evaluasi secara mendalam,” katanya, Rabu, 27 Mei 2020.

Diakui mantan Wakil Bupati Kabupaten Aceh Barat (2007-2012) tadi. Hasilnya memang sungguh mengherankan. Pertama, penggunaan dana untuk aparatur terlalu membengkak, sementara untuk pelayanan rakyat sangat kecil. “Ya, menurut saya hanya sekitar 30 persen,” papar dia.

Karenanya, APBA 2021, kondisi miris ini jangan terjadi lagi. Maka, sangat perlu dievaluasi. “Dan sekali lagi, rakyat Aceh harus tahu bahwa APBA 2020, bukan produk kami atau hasil Pileg 2019 lalu. Tapi periode sebelumnya, yang disahkan dengan sangat tergesa-gesa,” kritik Fuadri.

Fuadri memang bukan asal ucap. Lihat saja Tunjangan Prestasi Kerja (TPK) seorang kepala dinas di jajaran SKPA. Jumlahnya Rp20 juta, sedangkan eselon tiga Rp10 juta. “Sebenarnya, bagi saya pribadi jumlah tersebut tidak masalah, tapi dengan catatan honor-honor lain dihilangkan semua, jangan ada lagi sehingga tidak ganda dan membengkak dan menjadi beban bagi anggaran daerah,” ulas dia.

Tapi sebut Fuadri, eksekutif beralasan bahwa semua itu memakai sistim; Si Manja (sistim manajemen kerja). “Nah, sistem ini sempat dikritik kawan-kawan di dewan. Ada rumor, Si Manja itu hanya untuk membuat aparatur semakin manja dan sejahtera, sementara rakyat masih merana dan menderita. Kami usulkan nama tersebut diganti,” tegas Fuadri.  

Kenapa? “Ironisnya, begitu kami lihat dan pelajari, banyak sekali terdapat honor-honor lain, selain yang sudah termuat pada Si Manja. Terjadi penambahan nilai honor dan tunjangan bagi aparatur sehingga menambah beban anggaran daerah,” kata Fuadri kesal.

Begitu, dia mengaku dapat memahami adanya sederet tunjangan bagi pejabat atau aparatur Pemerintah Aceh yang termuat dalam Si Manja. Namun, harus tetap ada alat ukur atau parameter dari alokasi dana rakyat tadi.

“Bukan tak boleh, tapi semuanya harus terukur. Misal, jika aparatur melakukan kegiatan di setiap SKPA, maka bisa dinilai dan diukur kinerjanya dan harus dihitung serta sesuaikan dengan tunjangan (prestasi kerja) yang mereka lakukan. Dan itu, harus diintergrasikan dalam Si Manja,” usul dia.

20200528-asn

Foto: Gatra.com

Sebab, selain yang terdapat dalam sistem Si Manja. Ternyata ada tunjangan atau honor lain. “Makanya, jangan muncul honor atau tunjangan lain.  Ada pula TPK dan honor lainnya. Ini yang kami tidak setuju,” ucap Fuadri.

Belum lagi belanja untuk kepentingan aparatur. Contoh, mobil dinas, alat-alat kantor, komputer, perbaikan kantor dan segala macam lainnya. “Sehingga dana yang tersisa untuk rakyat sangat sangat sedikit. Itu yang kami kritisi sebagai kajian awal, sehingga ke depan dengan adanya refocusing saat ini, eksekutif dan legislatif bisa menyusun langkah lebih baik lagi”.

Itu sebabnya, untuk APBA 2021, Fuadri mengajak pimpinan dan rekan-rekannya di DPR Aceh, untuk lebih jeli dan kritis dalam membahas dan mengevaluasi anggaran yang ada. “Wajib dievaluasi penggunaan anggaran (APBA 2021). Mana yang boleh dan tidak serta dilanjutkan maupun yang mana memang harus kita sesuaikan kembali,” saran dia.

Artinya, dievaluasi kembali supaya penggunaan dana untuk rakyat (publik) bisa diperbesar lagi. “Bukan mentok pada angkat sekitar 30 persen dan 70 persen dikuasai aparatur. Pemikiran saya seperti itu, mudah-mudahan teman-teman di komisi (DPRA) lain juga sepakat,” ujar Fuadri.

Dari pantauan media ini di Gedung DPR Aceh. Rapat kerja Komisi I DPR Aceh dengan mitra (SKPA) terkait dari Selasa hingga Jumat itu, berlangsung relatif tajam. Setiap SKPA diundang dan disesuaikan dengan jadwal pembahasan secara berbeda.

Misal, Badan Kepegawaian, BPSDM, Biro Pemerintahan, Biro Umum, Sekda Aceh dan lainnya (lihat tabel). “Yang nggak hadir hanya Kesbangpol,” ungkap Fuadri.

“Pada pertemuan dengan BPSDM misalnya, memang kami melihat anggaran 2020 untuk beasiswa baru sangat kecil, hanya untuk seratusan orang. Sedangkan yang lain untuk membiayai penerima beasiswa sebelumnya. Jadi, memang angkanya mereka plot sekitar Rp62 miliar dari Rp150 miliar,” jelas dia.

Sementara untuk belanja lain-lain juga cukup besar. Apalagi dengan adanya wabah virus corona (Covid-19). Banyak anggaran yang dipotong atau digeser. Tapi ironisnya, untuk pengadaan mobil dan rehabilitasi kantor, hampir setiap tahun terjadi.

“Karena itu, jika DPRA tidak jeli dan loss, artinya banyak sekali anggaran terserap untuk aparatur, bukan untuk rakyat. Makanya kita minta teman-teman di DPRA juga harus jeli dan bisa memposisikan bahwa anggaran yang ada harus kita prioritaskan lebih besar untuk kepentingan rakyat,” tegas dia kembali.

Contohnya, ada belanja tidak langsung dan langsung. Artinya, tidak langsung itu untuk aparatur seperti; gaji  dan tunjangan-tunjangan. Termasuk TPK, tunjangan jabatan dan lainnya. Itu satu blok, artinya tidak diganggu dan memang hak aparatur.  

Begitupun, ketika dibuka belanja langsung. Ternyata ada lagi anggaran untuk honorium kegiatan. Pengadaan-pengadaan seperti; kertas, labtop, komputer, kendaraan, pembangunan kantor, rehab kantor, termasuk perjalanan dinas.

“Jadi, untuk masyarakat harusnya di belanja modal, ternyata belanja modal itu pun nggak sepenuhnya untuk pelayanan masyarakat, masih ada yang terbelah lagi di situ. Makanya “kue” untuk rakyat itu jadi sedikit,” sebut Fuadri heran.

 Fuadri mengaku masih yakin bahwa semua itu bukan kerja Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah. Tapi, perilaku yang dimainkan para aparatur di bawahnya. “Gubernur tentu tidak dapat apa-apa juga di situ, yang “main” para aparatur dan pejabatnya,” duga politisi asal Pantai Barat ini.

Alumni Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh ini mengaku miris dengan praktek dan perilaku tersebut.

“Yang berdarah-darah orang lain, yang berperang Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sehingga ada dana Otonomi Khusus (Otsus), tapi yang menikmati justeru bukan rakyat Aceh dan korban konflik. Ini sungguh tak adil,” ucap dia.

Menurut Fuadri, fakta miris ini sudah terjadi sekian lama, karena memang pemerintah pusat memberikan ruang. Artinya, ada kode nomor rekening yang masih tersedia dan dibolehkan.

“Sementara kalau kita bandingkan dengan kabupaten/kota, memang anggarannya sedikit, tentu mereka juga nggak bisa berani seperti provinsi. Jika mereka lakukan, habislah anggarannya,” sebut Fuadri.*

Inilah DPA SKPA Mitra Kerja Komisi I DPRA

Biro Organisasi                                                                                   

Rp5.054.780.208.-

Biro Hukum                                                                                         

Rp12.741.522.294.-

Biro Umum/Sekretariat Daerah Aceh                                               

a. Rp303.697.911.728.-

b. Rp119.906.388.307.-

Biro Humas dan Protokol                                                                   

Rp17.594.529.654.-

Biro Tata Pemerintahan                                                                     

Rp7.554.506.637.-

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan                                                 

Rp120.939.579.976.-

Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong Aceh               

Rp50.240.032.803.-

Dinas Pertanahan Aceh                                                                       

Rp15.175.364.899.-

Badan Kepegawaian Aceh                                                                 

Rp39.034.013.956.-

BPSDM Aceh                                                                                         

Rp150.204.615.208.-

Diskom Info dan Persandian                                                             

Rp73.560.167.748.-

Dinas Registrasi Kependudukan                                                       

Rp22.747.848.490.-

Sekretariat DPR Aceh                                                                           

Rp151.301.615.709.-

Data: Komisi I DPR Aceh

Komentar

Loading...