Dibalik Bantuan Dana Untuk OKP di Aceh

Andi Sinulingga: Sejatinya OKP dan Mahasiswa Jangan Mau Dihargai Cuma Rp100 Juta

Andi Sinulingga: Sejatinya OKP dan Mahasiswa Jangan Mau Dihargai Cuma Rp100 Juta
Andi Harianto Sinulingga (Foto: Dok. MODUSACEH.CO)
Rubrik

Banda Aceh I |Pengamat politik nasional asal Aceh Andi Harianto Sinulingga menilai. Bantuan dana Rp100 juta dari Pemerintah Aceh kepada sejumlah organisasi kepemudaan (OKP) dan mahasiswa di Aceh, merupakan keputusan yang tidak mendidik dan bijak.

Sebab, sejatinya, OKP dan organisasi mahasiswa itu mandiri.

“Tidak menerima fasilitas politik dari pemerintah, apalagi berupa uang. Sebab, bisa jadi uang segar itu sulit di pertanggung-jawabkan,” begitu pendapat Andi Harianto Sinulingga, salah seorang pengamat politik nasional asal Aceh.

Itu disampaikan saat dikonfirmasi media ini, Minggu petang melalui telpon seluler dari Banda Aceh.

“Setidaknya begitu pengalaman saya selama puluhan tahun di organisasi kepemudaan,” ungkap Andi yang juga politisi Partai Golkar itu.

Kata dia. “Organisasi kepemudaan dan mahasiswa harus jadi problem solver (pemecah masalah) bukan justeru membuat masalah baru bagi rakyat. Apalagi dalam situasi rakyat yang sulit begini, meringankan beban anggaran pemerintah yang di dapat dari pajak rakyat banyak,” ucap dia.

Menurut Andi, organisasi pemuda justeru bisa membuat program kerakyatan dengan cara bekerjasama dengan para kontraktor (pengusaha) besar yang untungnya diperoleh dari proyek APBA maupun APBN yang juga jumlahnya besar.

“Coba minta sisihkan keuntungan itu untuk program kerakyatan. Coba lihat dengan jeli dan  pakai mata hati. Dalam situasi sulit begini, ada segelintir orang bisa menikmati banyak keuntungan dari proyek-proyek pemerintah. Mereka tambah kaya di tengah rakyat banyak hidupnya semakin susah saat situasi pandemi begini. Begitu situasinya sekarang ini, dan coba lihat dari jauh agar bisa jelas dan terang,” kritik Andi.

Sebelumnya, Gubernur Aceh Nova Iriansyah melalui Surat Keputusan Gubernur Aceh Nomor 426/1675/2020, menetapkan 100 organisasi masyarakat (Ormas), OKP dan mahasiswa, mendapatkan bantuan dana hibah dari Pemerintah Aceh.

Mayoritas dana yang dikujurkan Rp100 juta per organisasi sehingga menguras dana daerah hingga Rp 9.597 miliar. Kabarnya, dana tadi untuk penanganan corona virus disease (Covid-19) di Aceh tahun 2019.

“Karena itu, saran saya, jika pun sudah memang begitu, anak-anak muda yang berhimpun dalam organisasi kepemudaan tidak usah menjadi bagian dari realitas ini. Apalagi cuma dihargai Rp100 juta rupiah. Semoga nyinyir saya itu tidak dianggap lucu oleh tokoh organisasi pemuda di Aceh,” jelas Andi.

Lantas, apakah bantuan tadi sebagai jawaban atas peran yang sudah dimainkan OKP di Aceh? Tanya media ini.

“Jawaban saya sepertinya belum, masih jadi anak manja yang berharap dan minta belaian kasih sayang pemerintah terus. Kalau pidato sih selalu bilang mau berjuang untuk rakyat, tapi biayanya pakai uang rakyat juga,” sindir Andi.

Harusnya kata Andi, Pemerintah Aceh tidak menyalurkan dana segar, tapi dalam bentuk program. Dan, disinilah harusnya OKP berperan dan menjadi jembatan penghubung antara kelompok masyarakat yang mau melaksanakan pelatihan seperti disinfektan, handsanitizer dan lainnya.

Nah, sejumlah OKP tadi melakukan pendampingan dan edukasi (pembelajaran) dan mengkontrol agar pembiayaan yang memakan uang rakyat itu jelas manfaatanya kembali kepada rakyat, bukan justeru digunting oleh elit-elit OKP yang mengatasnamakan rakyat,” ungkap Andi.***

Komentar

Loading...