Breaking News

Dibalik Ceramah Abu Mudi Soal Pemimpin Perempuan

Andai Tak Ada Keuchik Zainal

Andai Tak Ada Keuchik Zainal
Banda Aceh | Sejak Jumat malam (7/10/2016) lalu, perhatian para netizen di Aceh bahkan Indonesia, nyaris tersita. Ini terkait tausiyah (ceramah) pimpinan dayah atau Pesantren MUDI MESRA Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh, Haji Hasanoel Basry atau akrab disapa Abu Mudi. Tapi jangan salah sangka dulu. Bukan soal  aswaja versus wahabi. Apalagi perebutan tongkat serta azan dua kali. Termasuk rukun kutbah Jumat. Sebaliknya, soal kepemimpinan perempuan (wanita) dalam Islam.
 
Malam itu, Abu Mudi yang juga Ketua Himpunan Ulama Dayah (HUDA) Aceh ini, mengisi pengajian bulanan di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Acara tersebut, juga disiarkan secara langsung Radio Republik Indonesia (RRI) Banda Aceh. Nah, dalam pengajian tadi, muncullah sesi tanya jawab mengenai kepemimpinan dalam Islam. Seorang jamaah kemudian bertanya pada Abu Mudi. Apakah boleh perempuan jadi pemimpin? Dengan tegas Abu Mudi mengatakan: haram! “Ureung inong yang mencalonkan diri sebagai pemimpin, nyan dosa (perempuan yang mencalon diri sebagai pemimpin, itu dosa), kata Abu Mudi dalam bahasa Aceh.
 
Tak hanya itu, Abu Mudi juga menyebutkan. “Dipilih dan orang yang memilih juga dosa,” ujarnya dalam rekaman video yang berdurasi satu menit, empat belas detik tersebut. Tentu, jawaban tadi bukan tanpa dalil. Seterusnya, Abu Mudi mengupas berbagai dalil dalam Alquran dan hadist.
 
Sebatas ini, adakah yang salah dari pernyataan Abu Mudi yang rekamannya tersebar luas di media sosial (medsos) facebook maupun youtube? Tentu saja tidak. Sebagai ulama, sudah kewajiban Abu Mudi untuk menjawab dan menjelaskan setiap pertanyaan dari ummat atau jamaah. Namun yang janggal adalah, terkesan atau diduga pertanyaan itu sudah berbau politis. Bisa jadi, pertanyaan itu muncul dari jamaah yang mendukung salah satu pasangan bakal calon (balon) Walikota dan Wakil Walikota Banda Aceh yang akan bertarung dalam arena Pilkada 2017 mendatang yaitu: Aminullah Usman-Zainal Arifin atau akrab disapa Keuchik Zainal yang kini masih menduduki di kursi Wakil Walikota Banda Aceh. “Malam itu saya sengaja hadir dan mendengar sendiri. Saya tidak menyalahkan Abu Mudi. Tapi, ada kesan dan diduga, pertanyaan itu sengaja di setting oleh salah satu pasangan calon,” ungkap salah satu jamaah yang tidak mau disebutkan namanya.
 
Pasangan calon yang dimaksud sumber tadi adalah, Zainal Arifin atau Keuchik Zainal. Sumber itu tambah curiga, sebab Keuchik Zainal ikut memberi sambutan dan mengikuti pengajian bulanan tadi hingga selesai. “Andai tak ada Keuchik Zainal di situ, tentu orang akan berpikir lain. Tapi, karena posisinya sebagai calon Wakil Walikota dan Bu Illiza juga calon Walikota Banda Aceh, maka banyak jamaah dan saya bertanya-tanya serta curiga, tentang pertanyaan tadi. Sekali lagi, saya tidak menyalahkan Abu Mudi, tapi saya menduga, pertanyaan itu muncul memang sudah direncanakan sejak awal, karena Bu Illiza adalah calon terkuat untuk saat ini,” ungkap sumber yang juga PNS di Pemko Banda Aceh, pendukung Hj. Illiza  Sa’aduddin Djamal- Farid Nyak Umar. 

Dia juga mengaku sebagai jamaah rutin yang mengikuti pengajian bulanan, termasuk zikir akbar. "Harusnya, pengajian seperti itu, apalagi di Masjid Raya Baiturrahman, janganlah dijadikan arena politik. Itu picik namanya. Saya sudah rutin mengikuti pengajian dengan narasumber berbagai ulama di Aceh. Tapi baru malam itu, pengajian seperti ini. Harusnya panitia pelaksana lebih sensitif. Termasuk memberitahu pada narasumber untuk tidak menjawab secara rinci, jika ada pertanyaan seperti itu. Andai tak ada Pilkada di depan mata, saya kira itu tak soal," kritik sumber tadi.

Berbeda dengan pembicaraan warung kopi katanya, itu lebih bersifat biasa dan tak memiliki pengaruh psikologis bagi rakyat atau ummat. " Saya sampaikan saran juga  pada manejemen (pengurus) Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, untuk lebih hati-hati dan selektif. Jangan sampai rumah Allah itu dijadikan arena untuk menaikkan dan menjatuhkan seseorang. Sekali lagi, saya tidak menyalahkan Abu Mudi, tapi orang-orang yang sengaja mengambil kesempatan dan kegiatan keagamaan seperti itu," ungkapnya. Awalnya, media ini menilai persoalan tersebut adalah hal biasa. Apalagi jelang Pilkada 2017. Namun, sejumlah email (surat elektronik) dan pesan singkat  (SMS), masuk ke redaksi yang mempertanyakan kecurigaan tadi. Begitupun, hingga malam ini, MODUSACEH.CO belum memperoleh konfirmasi dari Zainal Arifin, terkait kehadirannya pada pengajian tersebut. Ada-ada saja!***

Komentar

Loading...