Demo di Kantor Wali Kota Lhokseumawe

Aksi Damai Ormas Islam Tuntut Suadi Yahya Berantas Maksiat

Aksi Damai Ormas Islam Tuntut Suadi Yahya Berantas Maksiat
Aksi demo Ormas Islam di Kantor Walikota Lhokseumawe (Foto: Din Pasee

Lhokseumawe | Ratusan anggota Front Pembela Islam (FPI) dan ormas Islam lainnya, menggelar aksi damai di halaman Kantor Wali Kota Lhokseumawe, Senin (25/11/2019). Mereka menuntut janji Walikota Lhokseumawe Suadi Yahya, membrantas maksiat yang kian merajalela.

Seratusan massa berpakaian serba putih, terdiri dari para santriwan dan santriwati yang tergabung dalam Ormas Islam, menuntut janji Suadi Yahya yang pernah menandatangani kesepakatan bersama, untuk membrantas maksiat dan menegakkan syariah Islam.

Bahkan mendesak pejabat di jajaran Pemko Lhokseumawe agar segera menertibkan tempat wisata dan tempat umum lainnya, yang rawan terjadinya maksiat.

Aksi damai ini dimulai Pukul 11.00 WIB, membuat aparat kepolisian dan petugas Satpol PP/WH, bersiaga fsn membentuk barisan pagar betis di pintu masuk kantor wali kota setempat.

Salah seorang penggerak Ormas Islam sekaligus Pimpinan Dayah Darul Mujahidin, Teungku Muslim At-Thahiri mengatakan. Wali Kota Lhokseumawe Yahya Suadi Yahya sudah melakukan penandatanganan kesepakatan bersama, Selasa (23/10/2019) lalu, di Mesjid Islamic Center.

Kesepakatan itu berisi janji walikota akan serius membrantas maksiat dan menegakkan syariat Islam. Pasca kesepakatan itu, justru yang terjadi malah pembiaran perbuatan maksiat diberbagai tempat umum dan terbuka.

"Selama ini, pemerintah justru terkesan membiarkan maksiat kian merajalela di sejumlah tempat wisata seperti Waduk Pusong, Kuliner Boom, Pantai Rancong, Pantai Ujung Blang, Goa Jepang dan lainnya," kata Tgk Muslim.
Ironisnya lagi, Waduk Jeulikat milik pribadi walikota Suadi Yahya justru telah menjadi sarang maksiat tanpa ada yang menegur atau bertindak.

"Karena maksiat kian merajalela tanpa ada upaya menertibkan. Maka kami datang kemari untuk menagih janji Suadi Yahya selalu walikota yang akan memberantas maksiat. Jangan menjadi orang munafik dan harus tepati janjinya brantas maksiat," paparnya.

Hal serupa juga disampaikan salah seorang pimpinan dayah yaitu Abi Ahmad Sulaiman.

Dalam orasinya, Abi mengatakan kedatangan ormas Islam dengan niat baik dan damai serta hanya ingin menagih janji walikota dan memperingatkannya agar tidak membiarkan maksiat merajalela.

Abi menegaskan pihaknya tidak akan memberi limit waktu yang panjang bagi pemerintah untuk memberantas maksiat.

Karena upaya paling kecil dapat dilakukan dengan pemasangan spanduk dan famplet bertuliskan larangan berbuat maksiat dan yang bukan muhrim tidak boleh berduaan.

Namun hal itu pun tidak dilakukan dan pengusaha warnet, cafe dan tempat wisata juga sama sekali tidak dipanggil untuk diberi peringatan keras.

Apabila dalam waktu dekat ini, wali kota dan jajaran pemerintahannya tidak juga memenuhi janji berantas maksiat. Maka Ormas Islam yang sudah menempuh cara damai, akan mengambil tindakan langsung dilapangan.

"Kalau wali kota tidak memenuhi janjinya, maka kami akan turun tangan sendiri untuk memberantas maksiat diberbagai tempat yang menjadi sarangnya," tuturnya.

Wakil Walikota Lhokseumawe Muhammad Yusuf dan Sekda Kota Lhokseumawe T. Adnan menemui ormas Islam untuk menyambutnya dan memenuhi semua tuntutan.

Wakil Walikota menuturkan, Wali Kota Lhokseumawe Suadi Yahya tidak berada ditempat karena sedang menjenguk ibunya yang sakit dan di rawat di Rumah Sakit PT. Arun.

Karena mendapat respon positif, akhirnya massa langsung membubarkan diri dengan aman.***

Komentar

Loading...