Usai Berita Penghadangan Angkutan Tiang di Nagan Raya

Akrim Teror dan Ancam Tembak Wartawan MODUSACEH.CO

Akrim Teror dan Ancam Tembak Wartawan MODUSACEH.CO
Akrim (Foto: Ist)
Penulis
Sumber
Reporter Banda Aceh

Banda Aceh | Takut, cemas dan gelisah. Itulah tekanan psikologis yang kini sedang dialami Aidil Firmansyah, wartawan Tabloid MODUS ACEH dan Portal Berita MODUSACEH.CO, liputan Aceh Barat dan Nagan Raya.

Bukan tanpa sebab, Aidil begitu dia akrab disapa, mengalami teror dan ancaman pisik dari  Akrim, Direktur PT Tuah Akfi Utama Aceh Barat, usai mewartakan masalah penghadangan angkutan tiang oleh warga Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisi, Kabupaten Nagan Raya.

“Benar, setelah saya dipanggil tadi malam dan dipaksa untuk membuat surat pernyataan. Kondisi psikologis saya tertekan,” ungkap Aidil kepada redaksi media ini di Banda Aceh,

Sebelumnya, Adil menulis berita dengan judul: Tak Bayar Kompensasi, Angkutan Tiang Pancang PLTU 3 dan 4 Dihadang Warga.

Isinya, persis pukul 02.00 WIB, Sabtu dini hari (4/1/2020). Puluhan warga Suak Puntong menyetop mobil pengangkut tiang pancang yang hendak masuk ke lokasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 3 dan 4. Akibatnya, kegiatan pembongkaran terhenti.

Baca: Tak Bayar Kompensasi, Angkutan Tiang Pancang PLTU 3 dan 4 Dihadang Warga

Nah, paska berita tadi,  pihak PT Tuah Akfi Utama mengaku dirugikan dengan berita tersebut, sehingga melalui sejumlah orang mencari Aidil.

Awalnya Direktur PT Tuah Akfi Utama, Akrim mengirim pesan melalui WhatApps (WA) kepada Aidil dengan sangat tendensius bahwa, berita yang dibuat terkesan berat sebelah.

Padahal sebelumnya, Aidil sudah berusaha untuk mencari nomor kontak pihak PT IOT dan PT Tuah Akfi Utama. Tujuannya,  meminta konfirmasi terkait diberita yang diwartakan media ini.

Akrim kemudian mengajak Aidil untuk bertemu dan membahas masalah itu. Persis pukul 23.50 WIB, Akrim kembali melayangkan WA untuk ajak bertemu.

“Sebab ada keraguan dan bilang sedang ada tamu dari pemerintahan di Street Kupi Meulaboh. Karena itu, saya sampaikan kepada Akrim, jika ada waktu bisa ketemu do Street Kupi saja,” jelas Aidil.

Namun, tak berapa lama kemudian, ada pihak Akrim yang datang ke Street Kupi dan bertemu Aidil. Namanya Wak Jal dan Yatno.

Setelah duduk dan berbicara dengan Aidil, mereka minta mendengarkan rekaman Muhammadi, seorang warga desa setempat yang menjadi narasumber berita tadi.

Entah merasa tak puas, mereka mengajak Aidil untuk berbicara dengan Akrim di kantornya, Suak Ribe, Johan Pahlawan, Aceh Barat.

Selanjutnya, usai berkoordinasi dengan teman temannya, Aidil menuju kantor Akrim bersama Deni Sartika (wartawan Harian Rakyat Aceh). “Awalnya mereka berjanji dan menjamin tidak ada bersikap bertindak kasar  kepada saya,” ungkap Aidil.

Tiba di sana sekitar pukul 01.02 WIB dan ternyata sudah ada beberapa orang yang menunggu kehadiran Aidil. Salah satunya Dani, wartawan media online AcehPortal.

Tiba di ruang Akrim, Aidil duduk dan tak seberapa lama kemudian, dia dikejutkan dengan senjata api jenis pistol, yang dikeluarkan Akrim dari laci mejanya dan diserahkan kepada anak buahnya.

“Bahkan leher saya sudah dipegang oleh anggota di sana dengan mengeluarkan kata yang tendisius dan mau memukul saya,” ujar Aidil.

Melihat kejadian itu, seketika ada beberapa orang yang melerai, karena sudah ada yang menjamin bahwa saya tidak akan disentuh selama berada di Kantor PT Tuah Akfi Utama.

Lantas, Akrim menyodorkan surat yang telah dibuatnya untuk di tanda tangan di atas materai. Isinya,  untuk melakukan duel dengan Aidil satu lawan satu. Namun Aidil  menolak.

Selanjutnya, mereka terus mengeluarkan berbagai kata kata kepada Aidil dan menuduh berita tersebut salah.

Dengan nada tinggi, Akrim juga bercerita bahwa selain pengangkutan tiang pancang, ada pekerjaan lain yang sedang menanti mereka.

Disampaikan bahwa, apabila pekerjaan tersebut gagal didapatkan karena berita yang ditulis Aidil, maka dia akan mendapat konsekuensi yang cukup menakutkan, yaitu dibunuh langsung oleh Akrim.

20200105-surat-aidil

Surat pernyataan yang ditulis Akrim dan dipaksakan kepada Aidil untuk menandatanganinya (Foto: Ist)

“Bahkan bukan hanya dengan dia, menurut Akrim, Din Minimi juga akan mencari saya apabila proyek itu gagal didapatkan mereka,” jelas Aidil.

Perbincangan berlanjut, dalam keadaan tertekan, Aidil terus dipaksa untuk menanda tangani surat untuk duel satu  lawan satu dengannya.

“Saya hanya terdiam dan menolak tawaran itu. Ketika membicarakan soal berita saya coba menjelaskan, namun terus mendapat tekanan dan ancaman bahwa saya akan kena imbas secara fisik, bisa dipukul dan bahkan dibunuh,” papar Aidil dengan perasaan takut.

Masih kata Aidil. “Ucapan yang saya ingat saat malam itu dan disampaikan Akrim adalah; kaleh ka kalon ata loen koen (pistol), ngen nyan kupehabeh kah, kalau deh kah di Meulaboh dipat mantong, ku mamoh kah, ku pehabeh kah, lon kedro yang pehabeh kah. Jino lebeh get kah gadoh dari Meulaboh selama 1 bulen, han habeh kah ku peuget. (sudah kamu lihat punya aku kan (pistol), dengan ini aku habisi kamu jika terlihat di Meulaboh. Dimana saja, ku makan kamu, ku habisi kamu dan aku sendiri melakukannya. Sekarang, lebih baik kamu menghilang dari Meulaboh selama satu bulan, kalau tidak aku habisi kamu),” ancam Akrim.

Pembicaraan terus berlanjut, sesekali rekan Akrim bersama oknum Komite Peralihan Aceh (KPA) Nagan raya, kalau tidak salah namanya Tgk Pidie,  ikut mencela Aidil.

Karena semakin alot, lalu datang Fitriadi Lanta, wartawan Cakra Donya. Pembahasan kembali dilanjutkan dan Aidil pun terpaksa membuka rekaman kepada mereka.

Setelah mendengar rekaman tadi, Fitriadi Lanta menyampaikan bahwa saya hanya salah tangkap dari hasil rekaman dan berkata bahwa berita yang ditulis Aidil terkesan tendisius. Tak jelas, sejauhmana pemahaman dan ilmu jurnalistik yang dimiliki Fitriadi Lanta, sehingga dia bisa berkesimpulan demikian.

Nah, dalam keadaan tertekan dan seorang diri di sana, Aidil berkata kepada Fitriadi Lanta. “Bang jangan panasin lagi, tolonglah,” kata Aidil. Namun tetap tak digubris, dan Aidil terus berulang kali mendapat ancaman secara fisik apabila masih berada di Meulaboh.

Karena pembahasan begitu panjang, Akrim akhirnya membuat pernyataan dengan cara ditulis tangan. Isinya, Aidil akan mengklarifikasi berita di MODUS ACEH dan dia harus mengakui bahwa itu fitnah.

“Anehnya, kepada saya juga diminta untuk membuat klarifikasi pada tiga media yaitu, Serambi Indonesia, Harian Rakyat Aceh dan MODUS ACEH. Saya berpikir, kenapa berita di dua media ini urusan saya. Tapi, karena dibawah ancaman, akhirnya pernyataan tadi saya tanda tangani juga,” ungkap Aidil.

Nah, apabila tanggal 5 sampai satu pekan ke depan Aidil belum membuat peryataan klarifikasi kepada media itu, Akrim mengancam akan memberikan konsekuensi kepada Aidil. Termasuk dibunuh oleh Akrim. “Namun disurat hanya dibuat siap menerima konsekuensi apa pun,” jelas Aidil.

“Surat pernyataan itu kemudian saya foto dan saya langsung pergi dari kantor Akrim. Sejauh ini saya masih waspada dengan ancaman yang saya dapat,” ujar Aidil.

Tak hanya itu, Minggu (5/1/2019), sekira pukul 14.00 WIB, Akrim masih mengirim WA kepada Aidil, mempertanyakan soal klarfikasi berita tersebut.

Merasa tidak aman dan terancam, Aidil akhirnya melaporkan masalah ini ke Polres Aceh Barat. Namun, entah karena hari libur, petugas piket di sana tampak kosong. “Lagi istirahat dan makan siang,” kata salah seorang petugas di sana.

Lepas dari semua tindakan tadi, sumber media ini di Aceh Barat dan Nagan Raya mengungkapkan. Keberanian Akrim bertindak “ala mafia” itu, tak lepas dari dukungan oknum pejabat aparat keamanan dan penegak hukum di sana.

Termasuk oknum Forkab dan KPA setempat. “Sehingga dia bebas melakukan sesuka hatinya, karena merasa bisa mengatur banyak pihak di sini,” ungkap sumber media ini.***

Komentar

Loading...