Akrim Status Tersangka, “Tim Lobi” Untuk Damai Bergerak

Akrim Status Tersangka, “Tim Lobi” Untuk Damai Bergerak
Tgk Zahili dan T.Herizal mendatangi ibu Aidil di Meulaboh (Foto: Ist)
Penulis
Rubrik
Sumber
Reporter Banda Aceh

Banda Aceh | Sepertinya Akrim, Direktur PT. Tuah AKFI UTAMA, tak patah arang dan mudah menyerah. Meski telah ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Polres Aceh Barat di Meulaboh.

Namun, berbagai upaya dan tawaran untuk berdamai, terus dilakukan banyak pihak. Termasuk menawarkan sejumlah dana kompensasi kepada keluarga Aidil Firmansyah, wartawan MODUS ACEH, yang mendapat teror serta ancaman pembunuhan dari Akrim, Minggu dini hari lalu.

Disebut-sebut, mereka adalah bagian dari Tim Akrim dalam menjalankan usaha dan bisnisnya.

Nah, entah ada perintah dari Akrim atau inisiatif sendiri, yang pasti sejumlah orang terus bergerak, mencari cara dan jalan untuk berdamai.

Mereka tak henti menghubungi Ketua IJTI Aceh Munir serta Pimpinan Redaksi MODUS ACEH, H. Muhammad Saleh.

“Ya, ada sejumlah oknum KPA dan PA dari Aceh Utara, Nagan Raya dan Aceh Barat yang bertemu dan menghubungi saya serta minta kasus tersebut diselesaikan dengan cara berdamai,” ungkap H. Muhammad Saleh.

Namun, ajakan itu ditolaknya. "Untuk saat ini, jangan bicara soal damai. Aidil belum pulih dari trauma berat. Selain itu, damai atau tidak, sangat tergantung pada Aidil sebagai korban. Kedua, kawan-kawan wartawan yang bergabung dari berbagai organisasi wartawan. Karena itu, saya tidak bisa putuskan sendiri. Tapi, sejauh ini kami sudah putuskan untuk tetap lanjut ke pengadilan," tegas Shaleh, begitu dia akrab disapa.

Begitupun, ada  juga di beberapa grup media sosial (medsos) khususnya WhatsApp (WA) jurnalis di Meulaboh, yang tetap menulis kata dan kalimat bertendensi provokasi.

Misal, mengajak Aidil untuk berdamai dan jangan mau “diperalat” oleh pimpinan media ini serta organisasi wartawan yang kini mendukungnya.

Kecuali itu, si pengirim dan pembuat pesan tadi, juga menyentuh psikologi Aidil dengan kalimat agar Aidil memikirkan kondisi kesehatan ibundanya.

“Kami akan menanggung semua biaya pengobatan ibu dan Aidil akan kami pekerjakan pada perusahaan Akrim,” tulis satu pesan WhatsApp (WA) yang masuk ke redaksi media ini.

Tak hanya sampai di sini, sekira pukul 16.00 WIB, Kamis kemarin, beberapa orang mendatangi rumah Aidil di Meulaboh, Aceh Barat. Diduga, mereka adalah tim atau “anak buah” Akrim.

Sumber media ini yang juga tetangga dekat Aidil mengungkapkan. Saat itu, ibunda Aidil sedang di rumah.

Tiba-tiba, di depan pintu sudah berdiri beberapa pria. Dua diantara dikenal dengan nama Tgk Zahidin asal Bakongan, Kabupaten Selatan dan Teuku Herizal, warga Meulaboh.

Saat itu, keduanya mengetuk pintu rumah dan mengucapkan; Assalamu’alaikum! Namun, ketika ibu Aidil balas bertanya, mereka tak menjawab: “Siapa,” tanya ibunda Aidil.

Saat dibuka pintu, tanpa dipersilakan masuk, dua pria tadi langsung masuk dan duduk di lantai.

Kehadiran mereka, rupanya diketahui sejumlah tetangga dan seketika Ketua Tuha Peut Gampong bersama abang dan perangkat desa lainnya, beranjak ke rumah Aidil.

Selanjutnya, terjadilah dialog. Tgk Bakongan meminta keluarga (ibunda) Aidil agar kasus yang menimpa anaknya versus Akrim itu, diselesaikan secara kekeluargaan, dengan menawarkan sejumlah kompensasi uang dan pekerjaan untuk Aidil di perusahaan Akrim.

Merasa ada yang tidak beres, ibunda Aidil sempat shock, namun dapat dikendalikan setelah sejumlah warga, abang dan tokoh desa setempat berkumpul di rumah Aidil.

Kepada Tgk Zahidi dan T. Herizal, ibunda Aidil dengan tegas mengatakan. Dirinya tak bisa memutuskan untuk perdamaian. Sebab, perkara tersebut sudah ditangani pimpinan MODUS ACEH, IJTI dan AJI serta sejumlah kawan-kawan Aidil di Meulaboh dan Banda Aceh.

“Dia itu anak saya, darah daging saya. Saya tidak terima diperlakukan anak saya seperti itu. Karenanya, biarlah proses hukum berlanjut. Sebab, kasus ini pun sudah ditangani pimpinan Aidil di Banda Aceh,” tegas ibu Aidil.

Pertemuan tersebut kabarnya sempat tegang, setelah Tgk Zahidi dan Herizal mengeluarkan kata-kata kurang enak: “kalau tak ada jalan damai secara kekeluargaan, berarti akan ada perang saudara,” kata Tgk Zahidi, diaminkan T. Herizal.

Di Banda Aceh, Pimpinan MODUS ACEH, Ketua IJTI, Pengurus AJI dan LBH Banda Aceh, terus melakukan pertemuan. Tujuannya, membahas langkah hukum terhadap Aidil.

“Kami mencium mulai ada yang tidak beres dengan proses hukum di Meulaboh. Ada rencana, kami akan mencabut laporan di sana dan melaporkan kasus ini ke Polda Aceh,” tegas H.Muhammad Saleh atau akrab disapa Shaleh ini.

Selain itu, kabarnya Pengurus AJI Indonesia (pusat), telah memanggil Pengurus AJI Banda Aceh ke Jakarta, membahas kasus ini secara lebih detail dan serius.***

 

Komentar

Loading...