Terkait Ancaman, Ujaran Kebencian dan Senjata Api Ilegal

Akhir Pertualangan Yahdi

Akhir Pertualangan Yahdi
Yahdi dan anggota kelompoknya (Foto: facebook)
Rubrik

Banda Aceh | Kini, cerita dan kisah Yahdi Ilar Rusydi, seorang pria yang menamakan kelompoknya Pembebasan Kemerdekaan Atjeh Darussalam/Atjeh Merdeka (PKAD/AM) dan (Teuntra Islam Atjeh Darussalam (TIAD), berakhir sudah.

Ini sejalan dengan keberhasilan personel Satuan Tugas Kelompok Kriminal Bersenjata (Satgas KKB) Polda Aceh, menciduk dua tersangka yang diduga sebagai pembuat dan penyebar video rasial dan ancaman terhadap warga non Aceh.

Hasilnya, satu pucuk senjata api laras pendek rakitan dan sejumlah seragam loreng, berhasil diamankan sebagai barang bukti (BB).

Kepala Bidang Humas Polda Aceh Kombes Pol Ery Apriyono di Banda Aceh, Kamis, mengatakan kedua tersangka berinisial YIR dan RG. Keduanya diduga menyebarkan video rasial melalui media sosial.

"Kedua tersangka ditangkap di sebuah rumah di Gampong Cot Raboh Baroh, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, Kamis (7/11) sekira pukul 10.25 WIB. Keduanya langsung dibawa ke Polda Aceh di Banda Aceh," kata Kombes Pol Ery Apriyono, saat temu pers di Mapolda Aceh, Kamis kemarin.

Hari itu, dia didampingi Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Aceh Kombes Pol T Saladin dan sejumlah pejabat utama Polda Aceh. Kombes Pol Ery Apriyono mengungkap. Penangkapan kedua tersangka berdasarkan penyelidikan video rasial yang mereka sebarkan melalui media sosial Facebook.

"Kedua tersangka menyebarkan video rasis dan ujaran kebencian. Dalam video tersebut, mereka mengancam warga luar Aceh agar keluar dari Aceh sebelum 4 Desember 2019. Jika tidak mereka melakukan tindak kekerasan," kata Kombes Pol Ery Apriyono.

Terkait dengan motif, perwira menengah Polri itu menyebutkan masih dalam pengembangan. Namun, berdasarkan hasil pemeriksaan awal, tersangka sengaja membuat dan menyebarkan video melalui facebook untuk menarik perhatian dengan tujuan pembebasan kemerdekaan Atjeh Darussalam.

20191108-yahdi2

Kepala Bidang Humas Polda Aceh Kombes Pol Ery Apriyono (duduk tengah) didampingi sejumlah pejabat Polda Aceh memberikan keterangan penangkapan dua tersangka pembuat dan penyebar video rasial di Polda Aceh, Banda Aceh, Kamis, 7 November 2019 (Foto: antara.com).

Kedua tersangka selain dijerat Pasal 45A Ayat (2) jo Pasal 28 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang UU Nomor 11 Tahun 2018, tentang informasi dan transaksi elektronik, juga diancam Pasal 1 Ayat (1) UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951 karena kepemilikan senjata api ilegal.

"Kedua tersangka terancam enam tahun untuk UU ITE serta penjara 20 tahun, seumur hidup, dan hukuman mati untuk UU Darurat karena kepemilikan senjata api," kata Kombes Pol Ery Apriyono.

Selain senjata api rakitan dan seragam loreng, polisi juga menyita enam butir peluru, satu akun facebook, sejumlah telepon genggam, paspor, buku rekening bank, ATM, enam lembar bendera kelompok mereka, serta sal hitam putih kotak-kotak.

Terkait senjata api rakitan tersebut, Kombes Pol Ery Apriyono belum bisa menyebutkan apakah sudah digunakan untuk kejahatan atau tidak. Sebab, kepolisian masih mendalami motif tindak pidana yang dilakukan tersangka.

"Polda Aceh terus mengembangkan kasus ini guna mengungkap motif tersangka dan siapa saja yang terlibat dalam pembuatan maupun penyebaran video rasial dan ujaran kebencian tersebut, kata Kombes Pol Ery Apriyono.

Sebelumnya, penduduk Aceh yang berasal dari luar daerah memang sempat takut dan resah. Ini terkait dengan permintaan kelompok tadi untuk segera meninggalkan provinsi di ujung utara pula Sumatra itu.

Rekaman video tersebut memang sempat viral dan mengundang perhatian banyak pihak di Aceh maupun Indonesia. "Jangan salahkan kami untuk mengambil satu tindakan terhadap orang-orang yang memang tidak berkepentingan di Aceh Darussalam," katanya.

Perintah tersebut disampaikan seorang pria yang menamakan kelompoknya Pembebasan Kemerdekaan Atjeh Darussalam/Atjeh Merdeka (PKAD/AM) dan (Teuntra Islam Atjeh Darussalam (TIAD).

Melalui sebuah video yang diunggah akun Facebook Yahdi Ilar Rusydi Smh, Selasa (17/9/2019), pria itu berbicara di depan kamera, mengungkapkan perintahnya. Di samping kiri dan kanannya, berdiri lima pria yang menutupi wajahnya menggunakan kain serban dan kacamata hitam.

Hanya satu pria di tengah yang menampakkan parasnya. Namun, mereka semua sama-sama mengenakan seragam hijau loreng-loreng. Pria tersebut memerintahkan warga dari luar Aceh untuk segera pergi untuk sementara waktu, tetapi diberi kesempatan bersiap-siap sampai tenggat waktu 4 Desember 2019.

Alasannya, mereka ingin menyelesaikan permasalahan di Aceh tanpa campur tangan penduduk dari luar Aceh. PKAD/AM dan TIAD bahkan mengancam orang-orang yang tidak menuruti perintahnya. Berikut transkrip lengkap ucapan dari perwakilan kelompok tersebut di video:

"Hari ini bertepatan dengan 18 Muharram, sebagai bangsa yang mempunyai adat budaya dan etika di dalam bernegara, maka kami bangsa Aceh Darussalam menyerukan kepada seluruh bangsa-bangsa yang ada di Aceh Darussalam saat ini untuk keluar dari Aceh Darussalam selain daripada bangsa Aceh Darussalam. Yang merasa diri bukan bangsa Aceh Darussalam kami persilakan untuk sementara waktu untuk keluar dari negeri kami karena kami ingin menyelesaikan persoalan bangsa kami untuk mendirikan hukum Allah di bumi Aceh Serambi Mekah. Maka dari itu kami atas anama PKAD/AM Pembebasan Kemerdekaan Aceh Darussalam/Aceh Merdeka dan TIAD, Tentara Islam Aceh Darussalam, menyerukan kepada seluruh bangsa selain bangsa Aceh Darussalam untuk keluar dari Aceh Darussalam sementara waktu. Kami berikan masa tenggang waktu paling lama 4 Desember 2019, dan bila pada tanggal tersebut orang-orang yang tidak berkepentingan dan berkenaan dengan Aceh Darussalam tidak keluar, maka jangan salahkan kami untuk mengambil satu tindakan terhadap orang-orang yang memang tidak berkepentingan di Aceh Darussalam," ancam kelompok ini.

“Bila perkara menyangkut Aceh Darussalam sudah selesai, kami persilakan kepada bangsa-bangsa yang lain untuk masuk lagi kembali ke negeri Aceh Darussalam, mengingat hal tersebut adalah menentukan dari segala hal, terutama menyangkut kedaulatan Aceh Darussalam. Kami tidak mau bangsa lain ikut campur dalam penyelesaikan hak kedaulatan kami bangsa Aceh Darussalam," ancam mereka ketika itu.***

Komentar

Loading...