Plt. Gubernur Aceh Cabut Sticker BBM

Akademisi: Kedepan Harus Teliti dan Berhati-hati Beri Masukan ke Pimpinan

Akademisi: Kedepan Harus Teliti dan Berhati-hati Beri Masukan ke Pimpinan
Penulis
Rubrik

Meulaboh | Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh Ir. Nova Iriansyah, MT, akhirnya mencabut program stickering BBM Solar dan Premium Subsidi pada kenderaan roda empat.

Pencabutan tersebut, sesuai surat Nomor 540/14661, tanggal 15 Oktober 2020. Surat pencabutan stickering pada kenderaan itu, juga ditujukan kepada Bupati/Walikota se-Aceh dan sales Area Manajer Retail Aceh PT. Pertamina (Persero).

Kebijakan ini disambut baik akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Rustam Effendi. “Kita apresiasi langkah Gubernur,” kata ekonom ini, melalui sambungan telpon, Jumat siang (16/10/2020).

Menurut Rustam Effendi, pencabutan stickering tentang bahan bakar minyak (BBM) itu, merupakan langkah yang tepat dalam merespon masukkan yang disampaikan sejumlah elemen masyarakat Aceh. Termasuk anggota DPR Aceh.

Sebab, lanjut pengamat ekonomi ini, pada musim pandemi daya beli masyarakat rendah. “Mungkin ini merespon persoalan di lapangan,” ujar Rustam Effendi.

Baca: Mr. Nova: Your Enemy is Your Close Friend

Begitupun, Rustam Effendi memberi saran, ke depan bawahan Gubernur Aceh, mulai dari tenaga ahli hingga penasihat khusus (Pensus) lebih berhati-hati mengkaji sesuatu dalam memberi masukan kepada Gubernur Aceh.

Selain Rustam Effendi, Teuku Kemal Fasya juga menilai. Dicabutnya kebijakan stickering kepada kenderaan di Aceh, membuktikan bahwa kebijakan tersebut ada kelemahan.

Baca: Mengaku Dirugikan dan Dipermalukan dengan Stiker BBM Subsidi, GERAM Gugat Plt Gubernur Aceh, Pertamina dan Hiwana Migas Rp1 Triliun Rupiah

“Artinya memang ada kelemahan dari kebijakan ini. Bagus juga pemerintah menyadari adanya suatu kekeliruan daripada kebijakan sticker itu,” kata Teuku Kemal Fasya, Jumat (16/10).

Antropolog ini juga sependapat dengan Rustam Effendi. Menurut Teuku Kemal Fasya, kebijakan penempelan stickering tersebut memang buru-buru dilakukan Pemerintah Aceh.

“Ketika dikeluarkan agak terburu-buru. Akhirnya menuai banyak risiko. Sticker itu juga dipakai mobil mewah-mewah,” kata Kemal Fasya.***

Komentar

Loading...