Heboh Medan Magnet di Aceh Besar

Ah, Bupati Aceh Besar Mawardi Ali Bercanda

Ah, Bupati Aceh Besar Mawardi Ali Bercanda
Peneliti TDMRC dan dosen Fisika FMiPA Unsyiah melakukan penelitian lapangan terkait dengan adanya temuan medan magnet di Aceh Besar. Foto: aceh.tribunnews.com

Banda Aceh | Heboh medan magnet yang sempat heboh dan diviralkan Bupati Kabupaten Aceh Besar Ir Mawardi Ali, akhirnya reda. Ini sejalan dengan hasil temuan Dr Muksin Umar, ilmuan dan peneliti Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) serta dosen Fisika FMiPA, Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh.

Setelah dilakukan pengujian Senin 6 Januari 2020, hasilnya dapat dikatakan 100 persen tidak ditemukan adanya keberadaan medan magnet seperti yang beredar saat ini.

Sebaliknya, penyebab adanya mobil yang berjalan mundur dalam keadaan netral itu hanyalah fenomena yang disebabkan struktur tanah tak stabil.

“Kita sudah ke lokasi kemarin dan melakukan beberapa pengujian dengan alat-alat sederhana agar mudah dipahami masyarakat,” kata Dr Muksin Umar kepada MODUSACEH.CO melalui telepon selular, Selasa (7/1/2020).

Dijelaskannya, sehari setelah beredar kabar tentang adanya medan magnet tersebut, ia bersama tim segera menuju ke kawasan Jalan Bukit Radar Blang Bintang tembus ke Simpang Ie Suum, Kecamatan Mesjid Raya Aceh Besar.

Untuk membuktikan benar atau tidaknya ada medan magnet, Muksin menggunakan cara dan alat sederhana agar mudah dipahami dan masyarakat mampu melihat bagaimana pihaknya membuktikan sesuatu.

“Pertama kita lakukan adalah melihat permukaan bumi di daerah itu. Alat waterpass yang sering dipakai para tukang bangunan, kita letakkan di tempat yang cukup tinggi, itu terlihat jalannya miring, sehingga wajar mungkin turun dia, kemiringannya itu jelas terlihat dari bubblenya, sehingga wajar kalau mobil turun,” sebut Muksin.

Kemudian, menggunakan klinometer yaitu alat sederhana untuk mengukur sudut elevasi antara garis datar dan sebuah garis yang menghubungkan sebuah titik pada garis datar tersebut dengan titik puncak (ujung) sebuah objek.

Aplikasinya digunakan untuk mengukur tinggi (panjang) suatu objek dengan memanfaatkan sudut elevasi.

“Alat itu untuk mengukur kemiringan juga, ada 3 sampai 4 derajat kemiringan jalan tersebut, dan itu kita tunjukan di depan masyarakat, ada Dandim, ada Camat dan pihak Kepolisian,” ujarnya.

Jika ada tarikan yang kuat hingga sanggup membuat satu mobil dipadamkan dalam keadaan persneling netral, bisa mencapai 40 km per jam. Sebut saja medan magnet, tentu secara logika akan menarik setiap benda yang mengandung unsur logam di sekitarnya.

Lebih lanjut dikatakan, pihaknya menaruh paku payung untuk melihat ada efek atau tidak, tetapi tak juga reaksi terhadap paku payung tersebut.

“Ada dua jenis paku bayung, ada besar ada sedang, ada kecil, tidak ada dampak apa apa, jadi kita mengukur kuat medan magnetic,” tuturnya.

Biasanya, tambah Muksin, kalau ada gangguan medan magnetic, bisa liat dari alat ukur yang dibawa pihaknya, disebut teslameter, adalah pengukur medan magnet yang merupakan portable instrumen dengan menggunakan bagian probe untuk mengukur kepadatan fluks magnetik menggunakan masa gauss, tesla atau ampere/meter.

Posisi letaknya cukup tinggi, kata dia, dengan nilai yang diukur sampai micro tesla dan tidak ada perubahan yang signifikan, dan kemudian kita pakai katetometer mengukur dalam satuan nano tesla, tetap saja hasilnya sama.

“Jadi fenomena itu dikarenakan kemiringan struktur tanah, bukan karena tarikan medan magnetic yang ada di dalam bumi,” katanya menambahkan.

Wah, kalau begitu informasi heboh melalui media sosial yang disebarkan Bupati Aceh Besar Mawardi Ali hanya sebatas canda ya? Entahlah!***

Komentar

Loading...