Aceh Bisa Jadi Episentrum Gerakan Ekonomi Syariah Nasional

Aceh Bisa Jadi Episentrum Gerakan Ekonomi Syariah Nasional
Rubrik
Banda Aceh | Sebagai daerah yang memiliki kekhususan menerapkan syariah Islam, Aceh bukan saja berpotensi sebagai pangsa pasar potensial perbankan syariah. Tapi juga episentrum gerakan ekonomi syariah Nasional. "Tentu dengan dukungan semua stakeholder," kata Direktur Utama BNI Syariah Imam Teguh Saptono saat berbicara melalui sambungan telepon di acara Bincang-bincang Bersama Jurnalis dan Launching Jurnalis Ekonomi Syariah, di Ballroom Hermes Palace, Banda Aceh, (Senin, 22/8/ 2016).

Aceh, kata Imam, pernah mengecap saat-saat kejayaan ekonomi syariah. Khususnya, jika dikaitkan dengan sejarah kesultanan Aceh yang mengalami perkembangan ekonomi yang luar biasa.

Secara nasional, Aceh juga merupakan daerah yang berperan besar dalam kemerdekaan republik, khususnya dari segi sumber daya modal. Karena itu, Aceh memang sangat layak menjadi episentrum perekonomian syariah yang bisa mempengaruhi nasional. Apalagi, kata Imam, didorong dengan upaya konversi Bank Aceh menjadi syariah. "BNI Syariah menganggap konversi ini hal penting, karena dalam skala besar dengan total aset di atas Rp 10 triliun," katanya. Keberhasilan konversi Bank Aceh menjadi Bank Umum Syariah (BUS) ini bahkan bisa mendorong pertumbuhan rasio perbankan syariah nasional terhadap konvensional yakni dari 4,8 persen menjadi 5,1 persen.
Itulah sebabnya, kata Imam, hal ini penting direalisasikan. Sebab, market share perbankan syariah saat ini sedang sangat lesu, jauh di bawah pertumbuhan konvensional. "Itulah sebabnya, pegiat-pegiat ekonomi syariah perlu dukungan semua stakeholder dan peran jurnalis Aceh dibutuhkan untuk mewujudkan itu," katanya.

Kepala Devisi Keuangan dan Koodinator Jaringan BNI Syariah, Wahyu Aprianto mengatakan, sepanjang lima tahun terakhir, kinerja perbankan syariah mengalami perlambatan.

Pertumbuhan pertahun terus menurun sejak 2011. "Pada 2015 bahkan hanya tumbuh 15,5 persen.  Pada 2014, malah di bawah konvensional," kata Wahyu. Rasio pembiayaan bermasalah (non-performing financing/NPF) bank syariah juga ikut membengkak, malah di atas konvensional. Padahal sebelumnya, sepanjang 2006-2010, perbankan syariah tumbuh signifikan di atas konvensional yakni antara 20 sampai 50 persen. Sedangkan konvensional hanya 8-19 persen sepanjang 2006-2010. 

"Apa yang menyebabkan ini? Meski sudah dilakukan modifikasi program, jaringan dan sebagainya, tetap saja. Namun ada satu hal yang mungkin lupa. Kita lupa esensi dari perbankan syariah: menghindari orang itu dari riba," katanya.

Menurut Wahyu, tahun-tahun 
sebelumnya, Bank Umum Syariah cenderung berorientasi pada pengembangan aset dan laba. "Karena itu kita sudah instrospeksi soal ini," katanya.

Dan peluang untuk tumbuh ini juga masih sangat terbuka. Contoh, kata Wahyu, saat ini tercatat ada 800 ribu jemaah umrah, dan 200 ribu jemaah haji. Keberadaan entitas ini adalah berpotensi ekonomi yang bisa dikembangkan. Bukan semata-mata untuk penempatan dana-dana mereka di Bank Syariah.

"Mereka biasanya punya kesadaran baru setelah pulang dari ibadah haji. Ini modal untuk mengembangkan 
perekonomian syariah," kata Wahyu.*

Komentar

Loading...