Dibalik PT. Trans Continent Angkat Kaki dari KIA Ladong (selesai)

Abdullah Puteh: Perginya Ismail Rasyid Pelajaran Pahit Buat Pemerintah Aceh

Abdullah Puteh: Perginya Ismail Rasyid Pelajaran Pahit Buat Pemerintah Aceh
Armada PT.Trans Continent sedang mengangkut dan mengeluarkan seluruh peralatan dari KIA Ladong (Foto: Ist)
Rubrik

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan KIA Ladong, digadang-gadang Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah sebagai benih pertumbuhan ekonomi baru di  Aceh. Kehadiran PT. Pembangunan Aceh (PEMA), 5 April 2019, diharapkan menjadi ujung tombak. Faktanya? Semoga tak  menjadi benalu bagi anggaran daerah!

"Kita di Aceh sering bergerak kurang cepat atau tidak bisa lari kencang. Semua kita anggap landai, enteng dan tidak fokus. Padahal, Aceh hari ini butuh lari kencang, karena ada stimulus yaitu dana Otsus. Faktanya, Aceh malah sebagai daerah termiskin di sumatera (data BPS),” begitu kata Abdullah Puteh, anggota DPD RI asal Aceh.

Pendapat ini disampaikan Bang Puteh, begitu dia akrab disapa, menjawab konfirmasi media ini, Minggu siang, terkait keputusan Ismail Rasyid, COE PT.Trans Continent untuk angkat kaki dari Aceh. “Suka atau tidak, image (citra) yang terbangun saat ini adalah, Aceh tidak layak untuk investasi,” sebut mantan Gubernur Aceh ini.

Bang Puteh mengaku, dirinya ikut prihatin dengan kondisi tersebut. Alasannya, karena Kawasan Industri Aceh (KIA) Ladong di Kabupaten Aceh Besar, menjadi salah satu harapan bagi pertumbuhan ekonomi Aceh.

“Sebetulnya dengan munculnya Ismail Rasyid semakin menyakinkan rakyat dan investor dalam dan luar negeri untuk menanamkan modalnya di Aceh.Sebab, dia  pengusaha nasional dan bisa masuk serta diterima dengan baik di Aceh. Posisi dia bisa menjadi lokomotif di masa depan bagi pengusaha Aceh (investor) Aceh di level nasional dan internasional,” ujar Bang Puteh.

Itu sebabnya nilai Bang Puteh, pulangnya Ismail Rasyid ke Aceh dapat menjadi taruhan untuk kemajuan Aceh ke depan. Apalagi dia bisa menjadi pelopor dari investasi ikutan lainnya. “Namun sayang, mungkin saja berbagai persyaratan yang dia minta dan telah disepakati bersama PT. PEMA tidak semua dipenuhi sehingga dia harus meninggalkan Aceh,” ucap Bang Puteh.

Sebenarnya menurut Bang Puteh, ini kesempatan terbaik bagi Aceh. Didukung dana Otonomi Khusus (Otsus), harusnya Pemerintah Aceh bersama PT. PEMA bisa mengambil langkah-langkah atau bisa lari lebih cepat, apalagi  ada dukungan dari pengusaha Aceh yang juga anak Aceh sendiri.

“Tapi saya tidak menyalahkan siapa-siapa. Saya berharap Ismail Rasyid bisa kembali ke Aceh. Walau kadang-kadang sudah ada harapan seperti itu, tapi tetap saja pemerintah daerah berjalan lamban dan tidak focus,” kritik Bang Puteh.

Begitupun, mantan Ketua DPP KNPI ini mengaku tak heran dengan iklim investasi di Aceh. “Perusahaan yang go nasional dan internasional tidak ada Aceh, hanya pabrik semen, yang lain sudah tutup seperti PT. AAF dan PT. KKA. Kalau pun ada PTP di Langsa juga sarat masalah.Termasuk rencana Pabrik Semen Laweung yang hingga kini belum tuntas,” ujar Bang Puteh.

Harusnya sebut Bang Puteh, ada satu institusi di Aceh yang bisa merespon dengan cepat hal-hal seperti ini. Termasuk Gubernur Aceh. “APBA itu harus berpihak juga pada pertumbuhan ekonomi Aceh, tapi saya lihat masih kurang. Karena itu, mari sama-sama kita dorong, termasuk DPR Aceh dan Pemerintah Aceh,” ajak Bang Puteh.

Menjawab masalah air bersih dan listrik masih menjadi persoalan klasik di KIA Ladong. Menurut Bang Puteh, harusnya PT.PEMA memfasilitasi itu. “Karena modal dari Pemda Aceh, karena itu harus turun bersama dan membangun manajemen yang baik atau manajemen building. Tapi sekali lagi, ini sering terlupa atau dilalaikan,” ulas Bang Puteh.

Karena itu, perginya Ismail Rasyid dari Aceh bisa menjadi pelajaran pahit buat semua, terutama Pemerintah Aceh. Sebab, bukan hanya soal investasi tapi juga image (pencitraan). Bayangkan putra Aceh sendiri harus pergi, bagaimana bisa menyakinkan investor luar.

20200517-bang-puteh

“Siapa saja pemimpin daerah di Aceh, saat ini harus berpikir bagaimana menumbuhkan ekonomi rakyat. Supaya kemiskinan hilang, karena itu keperpihakan kepada dunia usaha dan pertanian harus lebih. Bila tidak status Aceh termiskin di Sumatera bisa naik taraf menjadi termiskin di Indonesia. Tentu sangat memalukan karena kita ada dana Otsus,” ungkap Bang Puteh.

Bang Puteh juga mengulang cerita saat pimpinan DPD RI Periode 2019-2024 La Nyalla Mattalitti datang ke Aceh. Banyak harapan dan permintaan agar dana Otsus Aceh tidak dipotong, dikurangi dan berakhir.

“Tapi ketika itu beliau bertanya; arah pengunaan dana Otsus selama ini bagaimana? Termasuk kritik dari Presiden Joko Widodo saat di Bireuen beberapa waktu lalu. Ada atau tidak, mendorong peningkatan ekonomi rakyat, sehingga kemiskinan bisa berkurang jika tidak bisa hilang di Aceh,” ulas Bang Puten.

Itu sebabnya kata Bang Puteh, di tingkat pusat akan ada panitia khusus (Pansus) dana Otsus seperti untuk Papua. Dan, bagi Aceh ada beberapa temuan mendasar. “Umumnya para eksekutif di tingkat lokal, kurang peduli pada peningkatan dan pertumbuhan ekonomi rakyat sehingga keberpihakan APBA tidak tergambarkan di situ. Padahal APBA adalah kunci untuk perputaran dana tadi. Penyebabnya adalah, karena pemerintah daerah kita belum ada perencanaan yang terarah dan pas,” kritik Bang Puteh.

Berulangkali, Bang Puteh mengaku tidak ingin menyalahkan siapa-siapa atau karena kondisi. Tapi sebutnya, tidak bisa juga selalu menyalahkan kondisi. “Meski melakukan lompatan-lompatan, kita sudah tinggal 30 tahun sementara daerah lain sudah jauh bergerak maju,” katanya, mengakhiri pembicaraan.***

Komentar

Loading...