Breaking News

Lhokseumawe

300 Kali Cambuk Untuk Pelaku Zina, Satu Gagal Karena Usai Melahirkan

300 Kali Cambuk Untuk Pelaku Zina, Satu Gagal Karena Usai Melahirkan
Algojo mengeksekusi cambuk seorang terpidana pelanggaran syariat Islam di Stadion Tunas Bangsa, Desa Mon Geudong, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe (Foto: antaranews.com)
Sumber
Kontributor Kota Lhokseumawe

Lhokseumawe I Mahkamah Syariah Lhokseumawe, Provinsi Aceh, beberapa waktu lalu memvonis bersalah dua pasangan non muhrim yang telah melakukan zina.

Akibatnya, mereka harus menerima hukuman cambuk masing-masing 100 kali atau total 300 cambukan. Ini sesuai dengan pemberlakuan hukum syariat Islam di Aceh.

Nah, terpidana yang terbukti melakukan pelanggaran syariah Islam adalah, Zulkhairi, Resky Munanda dan Lita Trisnawati. Mereka dihukum cambuk masing-masing 100 kali.

Sementara seorang terpidana atas nama Rosmawar tidak dapat menjalani eksekusi cambuk karena baru saja melahirkan.

Kontributor MODUSACEH.CO di Lhokseumawe melaporkan. Hukuman cambuk itu dipusatkan di Stadion Tunas Bangsa, Desa Mon Geudong, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, Selasa, 6 April 2021.

Kepala Subseksi Penuntutan Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Lhokseumawe Muhammad Doni Siddik kepada media pers di sana menuturkan. Hukuman cambuk tersebut merupakan dari dua perkara zina dengan empat terpidana, yakni dua laki-laki dan di perempuan.

Namun, kata Muhammad Doni Siddik, seorang terpidana atas nama Rosmawar tidak dapat menjalani eksekusi cambuk karena baru saja melahirkan.

"Terpidana atas nama Rosmawar baru saja melahirkan secara sesar pada 1 April 2021. Menurut surat dokter, terpidana baru dapat menjalani hukuman cambuk setelah 120 hari setelah melahirkan," kata Muhammad Doni Siddik.

Muhammad Doni Siddik mengatakan eksekusi cambuk terhadap terpidana Rosmawar tetap dilakukan pada pelaksanaan hukuman cambuk berikutnya setelah 120 hari melahirkan.

"Para terpidana secara sah meyakinkan bersalah melanggar Pasal 33 Ayat 1 Qanun Aceh Nomor 6 tahun 2014 tentang hukum jinayat," ungkap Muhammad Doni Siddik.***

Komentar

Loading...