Setelah sekian lama sepi atau dua tahun pasca peledakan bom di Kantor Redaksi Tabloid Berita MODUSACEH, Beurawe, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh. Aksi teror kembali terjadi, Jumat malam, 20 Maret 2020. Kali ini, rumah pribadi Plt Kepala Unit Layanan Pengadaan (ULP) Aceh Sayid Azhary diledakkan dengan granat tangan orang tak dikenal (OTK). Tak ada korban jiwa dari peristiwa tersebut, namun memunculkan berbagai tanda tanya dan spekulasi dalam masyarakat, terutama kalangan dunia usaha. Salah satunya, benarkah terkait kasak kusuk proses pelelangan (tender) proyek yang kini berlangsung di Pemerintah Aceh? Berikut Liputan wartawan MODUS ACEH, Saiful Haris Arahas.

Benar, tadi selepas maghrib rumah Kepala ULP Aceh digeranat. Saat ini Tim Gegana dari Sat-Brimoda Polda Aceh sedang melakukan olah TKP

Kombes Pol Trisno Riyanto Kapolresta Banda Aceh

Jarum jam menunjukkan pukul 19.10 WIB, Jumat malam, 20 Maret 2020. Sejumlah warga Gampong Meunasah Baet, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Kabupaten Aceh Besar, baru saja usai melaksanakan shalat magrib berjamaah di beberapa masjid dan mushala, termasuk rumah pribadi.

Ada yang langsung pulang karena alasan membatasi diri, terkait penyebaran virus corona (Covid-19) yang melanda Kota Banda Aceh dan Provinsi Aceh. Tapi, tak sedikit yang memilih tetap ber’itikaf di rumah Allah ini, sambil berzikir dan membaca Al-Qur’an.

Itu sebabnya, untuk beberapa saat suasana Gampong Meunasah Baet nyaris sepi dari aktivitas warga. Begitupun, lima menit kemudian. Duumm! Satu ledakan besar terjadi dan terdengar hingga ratusan meter. Seketika warga di sana kaget serta terkejut.

Hai, pu su nyan kreuh that (hai, suara apa itu keras sekali),” kata seorang warga, bercerita pada media ini, Sabtu petang.

Menurut dia, ada yang buru-buru masuk dalam rumah dan warung kopi sekitar, karena takut.

Tapi, ada beberapa warga yang justru ingin tahu. Termasuk dirinya dan sejumlah jamaah di masjid dan mushala terdekat.

Benar saja, suara ledakan itu berasal dari rumah Sayid Azhary, Plt Kepala Unit Layanan Pengadaan (ULP), Pemerintah Aceh di Komplek Angkasa Gampong Meunasah Baet, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Kabupaten Aceh Besar.

Ternyata rumoh Sayid di tik granat (ternyata rumah Sayid dilempar granat),” ungkap sumber itu. Karena alasan keselamatan diri dan keluarganya, dia minta namanya tak ditulis.

Keuchik Gampong Meunasah Baet, H. Sabirin mengaku. Ledakan geranat di rumah Sayid Azhary terdengar cukup keras. “Terdengar sampai beberapa ratus meter hingga ke meunasah,” katanya.

Foto: MODUSACEH.CO/Saiful Haris Arahas

Seketika, tempat kejadian perkara (TKP) disesaki warga yang ingin melihat dari dekat. Tak lama kemudian, sejumlah anggota polisi dari Polda Aceh dan Polresta Banda Aceh tiba di TKP. Saat itu juga, garis polisi (police line) terpasang dan warga diminta tak mendekat.

Lalu, petugas Indonesia Automatic Finger Print Identification System (INAFIS) dan Gegana (penjinak bom serta bahan peledak) dari Sat-BrimobdaPolda Aceh dan Polresta Banda Aceh menyisir lokasi.

Hasilnya, kaca jendela kamar depan dan ruang tamu rumah Sayid Azhary pecah berserak. Selain itu, ditemukan satu granat tangan yang masih aktif atau belum meledak.

Sumber media ini menyebut, saat kejadian Sayid sedang tidak berada di rumah. Yang ada hanya istri dan anak-anaknya. Bahkan, istrinya baru sebulan melahirkan putri ketiga.

Menurut pengakuan warga setempat di lokasi kejadian, dalam kurun waktu satu bulan terakhir, tidak ada aktifitas apa pun di depan rumah Sayid. Bahkan, saat pergi ke kantor, Sayid lebih memilih keluar-masuk melalui pintu belakang. Dan pintu depan rumahnya selalu dalam keadaan terkunci (gembok).

Selain itu, sehari-hari atau saat berkantor, Sayid juga mendapat pengawalan tertutup (Pamtup) dari anggota salah satu satuan intelijen di Aceh. “Tapi, apakah pengawalan itu juga berlaku di rumah dan malam itu, kami tidak tahu,” ungkap sumber tadi.

Dijelaskan Keuchik H. Sabirin, sepengetahuan dirinya, salah satu rumah yang berada di depan rumah Sayid Azhary, ada memasang kamera pengintai (CCTV). Jika CCTV itu aktif, maka sangat berguna bagi pihak kepolisian dalam melakukan proses identifikasi, mencari tahu dan memburu si pelaku.

Muncul dugaan, pelaku pelemparan granat tadi (OTK) dua orang pria. Mereka ke lokasi, mengunakan sepeda motor. Keduanya, masuk melalui Jalan Irigasi (dari arah selatan) dan keluar melalui arah utara. Jalan itu terhubung menuju jalan raya atau T. Iskandar.

Grafis MODUS ACEH.

Nah, entah serius ingin “mencelakakan” Sayid dan keluarganya atau sebatas teror psikologis, terkait masalah proses lelang atau tender proyek APBA 2020 yang kini sedang berlangsung. Yang pasti, paska kejadian tersebut, berbagai asumsi beredar dan berkembang di masyarakat. Sebab,  pelaku melempar dua buah geranat tangan ke arah kamar depan rumah Sayid Azhary. Satu meledak dan satu lagi gagal dan jatuh di taman.

Kabarnya, istri dan anak-anak Sayid sempat trauma. Sayangnya, Sayid Azhary sendiri masih memilih diam alias tidak bicara.

Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Trisno Riyanto membenarkan peristiwa tersebut. “Benar, tadi selepas maghrib rumah Kepala ULP Aceh digeranat. Saat ini Tim Gegana dari Sat-Brimoda Polda Aceh sedang melakukan olah TKP,” kata Trisno malam itu.

Tapi, dia tak mau buru-buru mengambil kesimpulan terkait motif kejadian ini. “Nanti dulu lah ya, sekarang kita olah TKP dan kita lakukan identifikasi dulu. Nanti akan kita informasikan lagi,” katanya, menjawab pertanyaan awak media.

Tak lama kemudian, Kapolda Aceh Irjen Pol. Wahyu Widada datang ke TKP. Dia memerintahkan, penyelidikan dan penyidikan peristiwa tersebut, diambil alih tim penyidik Polda Aceh. “Ya, sudah ditarik ke Polda Aceh Bang,” jelas seorang perwira di Polresta Banda Aceh, Sabtu siang.

Soal kaitan dengan proses lelang proyek, sejauh ini memang masih samar-samar dan kabur. Karena itu, biarlah polisi bekerja dan mengungkap kasus ini secara terang menderang. Makanya, siapa pun pelaku dan otak dibalik peristiwa ini, harus diproses secara hukum dan bertanggungjawab.

Memang, sejak 1 Maret 2020 lalu, sempat beredar kabar melalui pesan WhatAspp (WA) dan media sosial (medsos). Nama Sayid ikut terseret dalam pusaran proses lelang sejumlah proyek APBA 2020 di Pemerintah Aceh, yang diperankan seorang pengusaha papan atas Aceh berinisial M. Dia merupakan sohid dekat Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah.

Foto: MODUSACEH.CO/Saiful Haris Arahas

Walau belum tentu benar, tapi sebagai Kepala ULP, posisi Sayid tentu tak bisa lepas begitu saja dan kait mengkait dengan rumor maupun isu yang beredar tadi. Apalagi, Sayid sendiri belum pernah memberikan keterangan secara resmi kepada media pers, mengenai tudingan sepihak dan tidak mendasar ini.

Teranyar, nama M yang juga pengusaha tajir ini, ikut dikaitkan dengan proses pencairan kredit di PT. Bank Aceh Syariah (BAS) senilai Rp98 miliar (ada yang menyebut Rp108 miliar). Termasuk, memenangkan lelang proyek tahun jamak (multy years), pembangunan Gedung Oncology di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh, yang dinilai secara tidak wajar.

Bau tak sedap ini pun akhirnya memancing alibi penyidik dari Kejaksaan Tinggi Aceh untuk memprosesnya. Dan, Rabu, 11 Maret 2020, Sayid Azhary memenuhi panggilan penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Aceh. Dia dimintai keterangan mengenai proses lelang proyek pembangunan Gedung Oncology Centre tersebut.

“Betul, Pak Sayed Azhari sudah dipanggil untuk dimintai keterangan. Dia dipanggil karena telah menandatangani surat dan menugaskan anggota Pokja untuk melakukan lelang online pembangunan Gedung Oncology Centre di RSUZA,” ungkap Munawal Hadi, Kepala Seksi Penerangan Umum dan Humas Kejati Aceh, saat dikonfirmasi media ini, Kamis petang di Banda Aceh.

(Baca: Proses Tender Gedung Oncologi RSUZA, Kasi Penkum dan Humas Kejati Aceh: Benar, Kami Telah Memanggil Kepala ULP Sayid Azhari).

Sebelumnya, penyidik dari Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dir.Reskrimsus) Polda Aceh, kabarnya juga sudah dua kali memanggil M, tapi tak hadir. Alasannya sakit alias tidak sehat. Namun, sumber ini memastikan akan memanggil M untuk ketiga kalinya.

“Ya, baru pada tahap meminta keterangan atau klarifikasi. Kami sudah dua kali memanggilnya, tapi belum hadir juga. Kami akan panggil kembali untuk ketiga kalinya. Begitupun, kami tetap menganut azas praduga tak bersalah,” ungkap seorang sumber di Polda Aceh.

Foto: MODUSACEH.CO/Saiful Haris Arahas

Selain itu, sumber ini pun membenarkan, jika salah satu staf Bank Aceh Syariah (BAS) berinisial Mah, juga sudah dimintai keterangan. Kabarnya, ketika itu Mah sebagai Kepala Bidang Pembiayaan di Bank Aceh Syariah. “Betul, dialah yang mencairkan kredit tersebut. Begitupun, Anda bisa cek kembali,” sebut sumber media ini di Bank Aceh.

Masih menurut sumber di Polda Aceh. Dia memastikan, Kapolda Aceh Irjen Pol. Wahyu Widada serius menanggani kasus dugaan pencairan kredit kepada M ini (bukan kredit macet). Tapi, soal azas kepatutan dan kelayakan.

“Yang kami kejar, apakah pencairan kredit Rp98 miliar itu sudah sesuai aturan dan azas kepatutan. Tim penyidik bidang pencucian uang sedang mempelajari secara mendalam kasus ini. Jika terbukti akan kita teruskan hingga pengadilan. Bila tidak, maka kita tutup. Saya pastikan, Pak Kapolda serius dan tidak main-main dalam kasus ini,” ungkap sumber tersebut.

Benarkah? Lantas, bagaimana dengan peristiwa pengranatan rumah Sayid Azhary? Berhenti sampai di sini atau terus berlanjut? Biarlah waktu yang menjawabnya.***

Satuan Gegena Polda Aceh melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) pasca ledakan bom rakitan di kantor media Modus Aceh, Banda Aceh, Sabtu (30/6/2018). Kasus teror menggunakan bom itu menyebabkan sebagian kaca pecah dan diduga motifnya terkait pemberitaan. (ANTARA FOTO/Ampelsa)

Menduga Motif Teror Terhadap Sayid Azhari

Aksi Kontra Terasa Pengalihan Isu

Peristiwa pengranatan rumah Plt Kepala ULP Pemerintah Aceh, Sayid Azhary, Jumat malam, mengundang berbagai pertanyaan susulan. Terutama soal motif dan tujuan pelaku. Benarkah aksi itu bermuatan kontra untuk mengalihkan berbagai isu pemberitaan media pers, terkait sejumlah persoalan yang melilit dan terjadi saat ini?

Muhammah Saleh, Wartawan Senior | Pemerhati Masalah Kontra Intelijen

Jika saya boleh beranda-andai. Tujuan pelaku tak lebih hanya ingin meneror psikologis, bukan pisik Sayid Azhary dan keluarganya.

Lihat saja dari bentuk dan motif peristiwanya. Si pelaku melakukannya, persis usai shalat magrib, saat suasana sepi di tempat kejadian perkara (TKP).

Cara ini juga pernah terjadi pada Samsul Rizal (Kadis Pengairan Aceh) dan Kepala Inspektorat Aceh, Syahrul Badruddin beberapa waktu lalu.

Rumah dua pejabat Aceh ini digranat dan ditembak, usai shalat magrib dan buka puasa. Tak peduli pada bulan suci ramadhan.

Hanya dua peristiwa peledakan granat dan bom Kantor Redaksi Tabloid MODUS ACEH, yang dilakukan pelaku pada waktu dini hari atau subuh.

Ironisnya, dari serangkaian peristiwa tadi di Kota Banda Aceh. Hanya satu kasus yang berhasil diungkap tim penyidik Polda Aceh yaitu, penembakan mobil dan rumah Syahrul Badruddin.

Pelakunya adalah, oknum TNI dari satuan intelijen tertentu, yang kabarnya “dibina” dan “disubsidi” seorang pengusaha papan atas di Aceh. Sisanya, senyap dan cair seperti es.

Begitupun, tak ada asap bila tidak ada api. Ada sebab dan akibat dari berbagai peristiwa yang terjadi. Termasuk aksi pengranatan rumah Sayid Azhary.

Pertama, ada pihak yang sakit hati atau tersinggung dengan persoalan lelang sejumlah paket APBA 2020 yang dikendalikan Sayid. Lalu, melakukan cara pintas ini secara sporatis dan tidak terstruktur.

Kedua, si pelaku dipastikan orang terlatih atau setidaknya pernah sangat akrab dengan senjata api dan bahan peledak.

Sasaran dan tujuannya, bisa jadi mengalihkan berbagai isu, terkait pemberitaan media pers (cetak dan onilne) lokal, mengenai proses lelang dan penguasaan sejumlah paket pekerjaan, yang diduga lebih dinominasi satu atau dua nama pengusaha di Aceh. Pada tahap ini, si perencana dan pelaku, memiliki irisan yang kuat.

Apalagi, berbagai dugaan tadi, telah dilirik aparat penegak hukum di Aceh yaitu, Polda Aceh dan Kejaksaan Tinggi Aceh.

Ada pesan yang ingin dikirim si pelaku atau sang sutradara. Misal, jangan coba-coba mengusik aksinya. Selain itu, dia ingin memposisikan diri bahwa si pejabat tersebut adalah korban, sehingga butuh perlindungan dan pembelaan dari warga, termasuk media pers.

Sasaran yang ingin dicapai adalah, mengalihkan berbagai pemberitaan media pers, yang begitu gencar mewartakan dugaan praktik pat gulipat proyek APBA 2019 dan 2020. Intinya, satu aksi kontra pun dilakukan.

Literasi dari berbagai sumber menjelaskan, ada beberapa prinsip dari aksi kontra. Termasuk kontra intelijen.

Pertama, aktif dan menyerang. Fungsi ini, mencari tahu gerakan dan tujuan lawan serta dengan seksama mengamati setiap langkah yang ditempuh lawan.

Menyerang, bukan berarti secara realita melakukan penyerangan, melainkan tidak bertahan, tetapi beroperasi dan tidak ada yang ditakuti dalam mengamati lawan, siapa pun dia.

Kedua, menguasai medan dan jalanan, sebagai kelanjutan dari sikap yang aktif. Maka, prinsip penguasaan medan dan jalanan adalah syarat mutlak dalam melakukan operasi kontra intelijen.

Dengan penguasaan medan dan jalanan, membuat jalannnya operasi lancar dan natural serta tidak ada kejutan dari pihak lawan. Karena berbagai seluk-beluk lingkungan adalah dalam penguasaan.

Ketiga, tidak mengabaikan analisa. Sebab, salah satu kelemahan unit operasional adalah, seringkali meremehkan analisa karena bagi mereka, bertahun-tahun melakukan kegiatan kontra intelijen, pengalaman dan insting di lapangan lebih penting.

Keempat, terus-menerus dalam peningkatan dan penyegaran operasi dengan latihan-latihan.

Berbagai pendekatan untuk meningkatkan profesionalitas unit kontra intelijen, dilakukan secara berkala baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Ini untuk menjaga kesegaran dan kewaspadaan dalam pelaksanaan tugas.

Selain itu juga untuk memperkaya dan mempersiapkan kesiagaan unit kontra intelijen dalam mencermati setiap dinamika dan kemajuan zaman dalam operasi-operasi intelijen di seluruh dunia.

Teror terhadap Syahrul Badruddin beberapa waktu lalu. Foto: detik.com

Kelima, bergantian. Maksudnya, akan lebih efektif dan segar apabila para pelaksana dalam unit kontra intelijen bekerja secara bergantian dan tidak bertahan dalam satu posisi terlalu lama. Ini merupakan tuntutan pekerjaan untuk dapat fokus pada operasi dan tidak berpikir kemana-mana.

Nah, dari serangkaian pemahaman singkat tadi, muncul pertanyaan. Adakah kaitan teror yang dialami Sayid Azhary, erat kaitannya dengan pengalihan isu terhadap pemberitaan media pers?

Ada salah satu teori, namanya:  Sick Role (peran sakit), ini merupakan konsep kajian sosiologis dari Talcott Parsons, yang melihat peran sakit dari sudut pandang yang cukup menarik. Sebab, mampu mempertemukan antara paradigma kesehatan dengan paradigma sosiologis. 

Jadi, perspektif perilaku kesehatan ini akan kembali pada operasi mindset pada aspek psikologis.

Tetapi, jika dipandang dari aspek sosiologis, peran sakit akan dimaknai sebagai sebuah peran struktural aktor dalam suatu sistem dalam mengedepankan tujuan atau goal apa yang diinginkan.

Artinya, bisa saja peran sakit hanya dijadikan cara atau kedok seseorang untuk mengcovert dirinya dari suatu kesalahan, dengan cara menghindari pemberitaan dan informasi negatif yang menerpa dirinya.

Noam Chomsky, filsuf, aktivis politik dan profesor kenamaan Amerika dalam bidang linguistik di Institut Teknologi Massachusett menulis. Ada sepuluh strategi paling efektif dan kuat yang diusung dengan agenda-agenda “tersembunyi” untuk menciptakan manipulasi populasi lewat media.

Cara ini semakin mudah, berkat perangkat dan propaganda media dan  gerakan sosial yang diciptakan atau dihancurkan. Perang dibenarkan, krisis finansial dipicu, suatu aliran ideologis tertentu didukung dan bahkan dijadikan fenomena media sebagai pencipta realitas dalam psikologi kolektif.

Intinya, membenarkan atau tidak membenar terhadap sesuatu yang terjadi. Termasuk serangkaian aksi kekerasan dan teror pada perusahaan pers (media), jurnalis atau pejabat negara dan daerah.

Masalahnya, bagaimana cara mendeteksi strategi-strategi utama tersebut? Chomsky memaparkan praktek-praktek tersebut dengan lebih baik, meski dari sudut pandang tertentu mengalami pendangkalan makna.

Inti dari strategi manipulasi melalui media ini adalah, mendorong proses pembodohan, menciptakan rasa bersalah, membuat pengalihan isu dan menciptakan sebuah masalah yang artifisial sekaligus menawarkan solusi.

Misal, mengunakan strategi pengalihan isu (distraction). Ini adalah komponen utama dari kontrol sosial. Caranya, melemparkan sebuah isu untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari masalah besar atau dari gerakan tertentu yang membanjiri masyarakat dengan informasi dan berita-berita yang sebenarnya tidak penting.

Kedua, menciptakan masalah dan menawarkan solusinya. Disebut juga sebagai metode ‘problem-reaction-solution’. Melalui taktik ini, sebuah masalah akan ‘dilemparkan’ ke masyarakat untuk memicu reaksi tertentu. Bisa dalam bentuk sebuah krisis, atau bahkan menciptakan kerusuhan.

Ketiga, strategi gradual. Bila sebuah paham atau kebijakan dipandang akan sulit diterima masyarakat, maka harus diterapkan secara gradual dan perlahan-lahan. Taktik ini digunakan saat menerapkan hal-hal seperti privatisasi, liberalisme, dan lain-lain.

Keempat, strategi penundaan. Cara lain untuk untuk membuat suatu keputusan tak populer diterima adalah menyajikannya sebagai hal “yang menyakitkan dan perlu” agar publik menerimanya sementara waktu untuk diterapkan di masa mendatang.

Mengorbankan masa depan lebih bisa diterima dari pada suatu pengorbanan sekarang. Pertama, karena upaya ini tidak diterapkan segera. Lagi pula publik/massa selalu cenderung berpengharapan naif bahwa “segalanya akan membaik esok” dan pengorbanan yang diperlukan bisa dihindari.

Ini memberi waktu lebih lama untuk memanfaatkan publik dengan suatu ide perubahan dan ketika saatnya tiba publik akan menerimanya tanpa daya.

Kelima, pelaku atau sutradara akan tampil di depan publik layaknya seorang anak kecil. Sebagian besar iklan yang ditujukan pada masyarakat umum menggunakan wacana, argumen, karakter dan (khususnya) intonasi anak-anak, seringkali seolah-olah menunjukkan kelemahan, seolah-olah penontonnya adalah anak kecil atau cacat mental. Semakin Anda menyesatkan pemirsa, semakin cenderung pemirsa menunjukkan nada kekanak-kanakan.

Mengapa? “Jika Anda memperlakukan seseorang seolah-olah dia berusia 10 tahun atau kurang, lalu, karena rasa penasaran, respon atau reaksinya juga akan kurang kritis sebagaimana reaksi dari orang berusia 10 tahun atau kurang. (baca: “Silent Weapons for Quiet Wars").

Keenam, buat masyarakat cuek dan tetap terbelakang. Kualitas pendidikan masyarakat kelas bawah harus dibuat seburuk mungkin, sehingga masyarakat menjadi cuek (ignorant) dan tetap rata-rata atau biasa-biasa saja (medioker) serta gagap teknologi sehingga gap dengan masyarakat kelas atas makin jauh.

Ketujuh, mendorong masyarakat untuk menerima kondisi terbelakang. Media didorong untuk menciptakan pemahaman bahwa ‘biasa-biasa aja, cuek dan tidak berpendidikan itu keren’.

Kedelapan, memanfaatkan sisi emosional. Isi media cenderung mengeksploitasi emosi. Dengan memancing emosi masyarakat, maka sisi rasional mereka akan terkesampingkan sehingga lebih mudah untuk menanamkan agenda tertentu.

Kesembilan, membangkitkan rasa bersalah (self-guilt). Mendorong masyarakat untuk merasa bahwa segala kekurangan yang ada sekarang ini, dikarenakan kesalahan mereka sendiri, karena mereka kurang berusaha, kurang pintar, dan lain-lain.

Kesepuluh, mengenali masyarakat lebih dari pada mereka mengenali dirinya sendiri.

Berkat kemajuan teknologi, para pengambil kebijakan bisa mengenal dan mengidentifikasi individu-individu mungkin lebih baik daripada individu itu sendiri. Akibatnya, mereka memiliki kemampuan dan kekuasaan untuk mengendalikan publik di luar kesadaran publik itu sendiri.

Nah, memahami situasi dan kondisi terkini di Aceh, sepertinya taktik manipulasi menurut Noam Chomsky, banyak kemiripan. Ini sejalan dengan haru biru pola kepemimpinan daerah serta para kurcaci bersamanya, mengendali triliunan proyek APBA 2020.

Haruskah aparat penegak hukum di Bumi Serambi Mekah ini diam seribu bahasa, padahal sejumlah data dan fakta sudah bicara?***