Teror dan ancaman terhadap wartawan kembali terjadi. Kali ini menimpa Hidayat, wartawan indojayanews.com. Diduga dan dia mengaku mendapat ancaman dari H. Makmur Budiman, seorang pengusaha ternama yang juga Ketua Kadin Aceh. Mengaku trauma serta ketakutan, lalu melaporkan peristiwa itu ke Polda Aceh, Sabtu, 21 Maret 2020 malam. Sementara, hingga Senin malam, 23 Maret 2020, H. Makmur Budiman tak bisa dikonfirmasi, terkait pengakuan Hidayat. Lantas, bagaimana ceritanya? Berikut laporan wartawan MODUSACEH.CO, Saiful Haris Arahas.

Bagi Hidayat, Makmur Budiman, memang bukan orang asing. Keduanya juga sudah saling mengenal. Itu sebabnya, saat Makmur Budiman atau akrab disapa Toke Makmur menghubunginya melalui pesan WhatsApp (WA), sekira pukul 11.27 WIB, Sabtu, 21 Maret 2020. Dayat, begitu dia akrab disapa, langsung merespon.

Dayat, pat posisi. Na watee meurumpok siat? (Dayat, dimana posisi. Ada waktu kita bertemu sebentar),” tanya Makmur.

Na di Banda Aceh Pak. Peu na pakat Pak? (Ada di Banda Aceh Pak. Ada persoalan apa Pak),” balas Dayat.

Balas Toke Makmur. “Geut jino na watee? (baik sekarang ada waktu),” tanya Toke Makmur kembali. “Dipat neuk mereumpok Pak? (dimana kita akan bertemu Pak),” tanya Dayat kembali.

Di rumoh Bang Makmur jeut? (di rumah Bang Makmur bisa),” kata Toke Makmur, mengajak. “Dilua mantong, hana mangat di rumoh Pak Makmur (di luar saja, tidak enak kalau berjumpa di rumah Pak Makmur),” balas dia.

Geut, eunteuk lon info poh padum beh (baik, nanti saya informasikan jam berapa kita bertemu ya),” balas Toke Makmur. Nah, semua percakapan itu rupanya direkam (simpan) Dayat pada telpon selulernya.

Dan, Dayat haqqul yakin itu nomor telpon Toke Makmur. “Sebab, nama kontak yang keluar di handphone saya tertulis Makmur Budiman,” ungkap Dayat pada media ini, Senin siang, 23 Maret 2020 di Banda Aceh.

Masih kata Dayat, tak berapa lama kemudian atau pukul 13.04 WIB hari itu juga, dia kembali mendapatkan pesan WA dari Toke Makmur. “Dayat pat tinggai, meunyeu hujeun Bang Makmur jak u rumoh Dayat (Dayat dimana tinggal, kalau hujan biar Bang Makmur ke rumah Dayat),” kata Toke Makmur.

Dayat membalas. “Nyoe lon na rapat siat Pak. Euntreuk poh 4 mantong tameurumpok di sekitaran Kampung Laksana (Sekarang saya sedang ada rapat Pak. Nanti jam 4 saja kita bertemu di sekitaran Kampung Laksana),” balas putra Aceh Besar, kelahiran Pulau Aceh ini.

Entah itu sebabnya, Dayat mengaku mulai ragu jika si pengirim pesan WA itu bukanlah Makmur Budiman. Nah, untuk menepis keraguan itu, dia langsung menghubungi Toke Makmur. Hasilnya? Ternyata benar jika itu pesan dari Toke Makmur.

Lalu, sekira pukul 15.39 WIB, Dayat mengabarkan pada Toke Makmur bahwa dia sudah berada di Lamdingin, “Saya ada di Lamdingin sekarang Pak. Di Donya Kupi, depan Mayor Kopi. Saya tunggu disini Pak ya,” katanya masih dengan pesan WA. “Baik. Otw Hidayat, 15 menit lagi udah di Donya Coffe,” balas Toke Makmur.

Tak lama kemudian, Toke Makmur tiba. Pertemuan itu berlangsung tidak terlalu lama, sekitar satu menit.

Hidayat usai bertemu H. Makmur Budiman.

“Begitu Pak Makmur datang, saya langsung pindah dan duduk satu satu meja dengan dia. Sebelumnya, saya bersama Sekretaris YARA Fakhrurrazi SH, Ketua YARA Perwakilan Aceh Utara, Iskandar dan salah satu warga yang kebetulan sedang berada di lokasi kejadian. Jadi mereka tahu peristiwa ini,” jelasnya.

Menurut pengakuan Dayat, saat itu juga, Toke Makmur bertanya. Kenapa Dayat menulis berita tentang dia. “Siapa orang yang menyuruh Dayat menulis berita tentang saya,” desak Toke Makmur. Dayat menjawab; tidak ada orang yang menyuruhnya!

Spontan Dayat mengaku heran dengan sikap Toke Makmur, terutama dengan pertanyaan yang dilontarkannya. Menurut Dayat, dirinya tidak pernah menulis berita yang menyebutkan nama Makmur Budiman.

“Tapi saya menduga Pak Makmur marah dengan pemberitaan di media online indojayanews.com. Judulnya, Rumah Kepala ULP Aceh Digranat OTK, Terkait Monopoli Tender Proyek?” ulas Dayat.

Memang, dalam berita yang ditulis Dayat tidak secara gamblang menyebutkan nama Makmur Budiman, tapi pengusaha berinisial M. Hanya saja, dalam berita ada tertulis; “sebelumnya, publik juga sempat dihebohkan dengan dugaan adanya monopoli tender proyek di ULP Aceh, yang diduga melibatkan salah satu pengusaha Aceh berinisial M dan Plt Kepala ULP Aceh Sayid Azhari”.

Tak hanya itu, dalam berita Dayat juga menulis; pengusaha berinisial M yang dianggap sosok orang paling dekat dengan Plt Gubernur Aceh itu, telah membantah keterlibatannya. Sementara yang lainnya tampak belum memberikan klarifikasi apapun mengenai berita itu.

Lalu, apakah ada kaitannya pelemparan granat ke rumah Kepala ULP tersebut dengan pemberitaan yang menyebutkan dugaan monopoli tender proyek di Pemerintah Aceh yang dipimpin Sayid Azhari? Ini tentu perlu pendalaman oleh pihak kepolisian. Saat ini, kepolisian sedang melakukan olah TKP untuk mencari tahu siapa pelaku dan motif di balik pelemparan granat tersebut,” begitu redaksi bahasa (diksi) dari berita yang ditulis Hidayat.

Dayat berdalih, tidak hanya indojayanews.com yang menulis demikian. Ada beberapa media yang dalam pemberitaannya juga menduga, peristiwa penggranatan rumah Kepala ULP Aceh itu, ada kaitannya dengan persoalan tender proyek di lingkungan Pemerintah Aceh.

Hidayat melapor ke Polda Aceh.

“Berarti secara tidak langsung, Makmur Budiman telah mengklarifikasi dengan sendirinya bahwa pengusaha Aceh inisial M itu adalah dirinya. Dan, secara tidak langsung, dia telah mengklarifikasi juga kalau pengusaha Aceh papan atas inisial M, ada kaitan dengan persoalan tender-tender proyek di ULP yang kerap bermasalah itu adalah dia (Makmur Budiman). Padahal kalau nama dia Makmur Budiman, bila diinisialkan bisa menjadi MB,” kata Hidayat saat dijumpai media ini di kawasan Lamdingin, Sabtu, 21 Maret 2020 malam.

Setelah pertemuan singkat itu, lanjut Dayat. Toke Makmur juga bertanya, apakah rumahnya masih di Jalan Senang Hati. “Rumah dimana sekarang, masih di Jalan Senang Hati kan,” kata Dayat, meniru pertanyaan Toke Makmur saat itu.

Mendapat pertanyaan susulan ini, sontak Dayat mengaku sempat panik dan terperangah. “Untuk apa bapak tanya alamat rumah saya, ada apa,” balas Dayat, bertanya.

Kata Toke Makmur. “Tidak ada apa-apa, nanti malam mau saya kirim “paket” ke rumah,” kata Dayat, mengulang ucapan Toke Makmur. Lalu, Ketua Kadin Aceh ini pun bergegas, masuk dalam mobil Toyota Alphard warna hitam (nomor polisi B 2845 SIW). Kebetulan, Dayat sempat memotret sosok Toke Makmur dan mobil mewah tadi.

“Sejujurnya, saya takut dan kaget dengan bahasa “kirim paket”, sebab baru semalam terjadi aksi teror pengeranatan rumah Plt Kepala ULP, Sayid Azhary,” ungkap Dayat yang hingga kini mengaku masih trauma.

Maklum, hari itu juga, sekira pukul 18.12 WIB petang, dia mendapat kabar dari Kepala Dusun (Kadus) tempat dia tinggal. Kata Kadus, ada orang tak dikenal (OTK) yang bertanya letak rumahnya di Jalan Senang Hati.

Dek rumoh droneh di Jalan Senang Hati intang toh. Nyo na ureung jak bak lon ditanyoeng rumoh droneh (Dek, rumah kami di Jalan Senang Hati dimana. Ini ada orang yang tanya rumah kamu),” kata Dayat menirukan informasi dari Kadus.

Merasa ada yang tidak beres, Dayat kemudian tancap gas dan pulang ke rumah. “Pak Kadus bilang, orang itu naik motor. Dan, saya bilang pada Kadus, kalau gitu tunggu dulu Pak, saya pulang sekarang,” katanya pada Kadus.

Laporan Hidayat.

Sampai di rumah Kadus, ternyata (OTK) yang bertanya rumahnya sudah tidak ada lagi. Lalu, dia langsung pulang ke rumah untuk memastikan keselamatan istri dan anaknya yang saat itu sedang berada di rumah.

Menurut pengakuan Dayat, sebenarnya ia tidak gentar terhadap ancaman. Sebab, selama ini ia mengaku juga mendapat berbagai ancaman dari beberapa OTK. Namun, untuk ancaman kali ini, ia mengaku panik, karena Toke Makmur mengatakan akan mengirimkan “paket” ke rumahnya.

“Ketika Makmur menyebut akan mengirim “paket” ke rumah, saya langsung terpikir pada insiden penggranatan rumah Kepala ULP Aceh. Bisa saja “paket” yang akan dikirim Makmur adalah granat, atau hal yang membahayakan saya dan keluarga. Wajar saya berpikir begitu, karena baru saja kejadian dan itu bisa terjadi pada rumah saya,” ungkap Dayat.

Dayat yakin, perkataan Toke Makmur akan mengirim “paket” ke rumahnya bukan bercanda, sebaliknya ancaman serius. Apalagi, saat itu juga ada OTK yang bertanya letak rumahnya pada Kadus.

Malam itu juga atau sekira pukul 20.00 WIB, Dayat membawa istri dan anaknya untuk diamankan pada salah satu tempat yang diyakininya aman.

Nah, ditengah kegalauan dan ketakutan tersebut, Dayat memutuskan untuk membuat laporan pengancaman terhadap diri dan keluarganya ke Polda Aceh. “Kini, semuanya saya serahkan kepada aparat penyidik Polda Aceh untuk memproses laporan saya,” harap Dayat.

Apa yang dialami Dayat sebenarnya bukan cerita baru dan aneh di Aceh. Teror dan ancaman kekerasan, sepertinya sudah menjadi bagian dari risiko profesi jurnalis di Bumi Serambi Mekah.

Simak saja, teror serupa juga dialami Murdani Abdullah, Pemimpin Redaksi atjehwatch.com. Diduga, masih ada tali temali dengan masalah lelang proyek APBA 2020 di jajaran Pemerintah Aceh.

Murdani mengaku, dia pernah mendapat intimidasi melalui telpon seluler dari orang suruhan pengusaha Aceh papan atas di Aceh.

Waktu itu ungkap Murdani, dia gencar menulis pemberitaan soal; “Misteri Anggunan Rp30 Miliar untuk Kredit Rp108 Miliar”. Dalam berita itu, Murdani menulis, Subdit II Pidana Pencucian Uang Krimsus Polda Aceh, dilaporkan telah memanggil seorang pengusaha Aceh, sebut saja namanya Mr. M, terkait kasus dugaan pencucian uang.

Hasil penelusuran atjehwatch.com, Murdani menuliskan, Mr. M mengajukan kredit pada Bank Aceh senilai Rp500 miliar lebih. Sedangkan anggunan yang digunakan adalah kebun sawit eks lelang Bank BNI di Aceh Timur senilai lebih kurang Rp300 miliar. Namun, Bank Aceh cuma mengabulkan kredit Mr. M senilai Rp108 miliar. Kredit tersebut cair pada Juli 2019 lalu.

Tak sampai disitu, Murdani juga menuliskan, diduga pencairan kredit ini turut melibatkan rekomendasi dari pejabat Pemerintah Aceh. Sumber terpercaya media atjehwatch.com menyebutkan, Polda Aceh melalui Subdit II PPC Krimsus, sudah dua kali memanggil sosok yang bersangkutan untuk menghadap. Namun pemanggilan tersebut terus diabaikan.

Sebelumnya, Murdani juga mengaku pernah menulis berita yang diberikan judul; “Mr. M Dipanggil Polda Aceh Terkait Dugaan Pencucian Uang”. Pada berita itu, Murdani mengungkap bahwa Mr. M telah dua kali mangkir dari pemanggilan pihak kepolisian. Dan jika nantinya pada pemanggilan ketiga Mr. M masih tetap mangkir, maka akan dijemput paksa.

Murdani mengakui, ada beberapa berita yang ditulisnya mengenai kasus kredit Rp108 miliar dan soal misteri pengusaha M. Akibat dari sejumlah penulisan berita itu, Murdani harus mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan berupa intimidasi.

“Semakin diintimidasi semakin suka saya. Berarti ada yang bereaksi. Seharusnya kalau tidak gatal kenapa harus digaruk. M itukan bisa jadi Murdani, bisa juga Musa. Sampai-sampai saya bilang ke orang yang ancam saya, tak perlu baper, data masih banyak dan akan dicicil setiap hari. Sering-sering buka AW (atjehwatch) saya bilang,” katanya sambil tersenyum.

Mantan calon anggota DPD RI ini, terlihat begitu piawai dan sangat menikmati segala lika-liku persoalan yang dihadapinya. Itu terlihat jelas dari caranya berbicara dan tatapan matanya yang penuh percaya diri, tak gentar sekali pun nyawa jadi taruhan.

Murdani Abdullah, Pemimpin Redaksi atjehwatch.com

Menariknya, karena tidak gentar diintimidasi lewat telpon, suatu malam, persisnya Murdani sudah lupa, ada dua orang suruhan mendatangi rumahnya. Waktu itu, Murdani sedang tidak berada di rumah. Ia diberitahu istrinya, sepulang dari takziah dari rumah orang meninggal.

Menurut Murdani, rumahnya didatangi OTK dan mengisyaratkan pesan bahwa ini adalah ancaman serius. Tapi Murdani waktu itu tidak melaporkan kejadian ancaman intimidasi tadi pada pihak berwajib.

“Malam itu juga saya membalas pesan ancaman yang tersirat dari kedatangan OTK ke rumah. Saya tulis di postingan status facebook. 'Pesan ka lon teurimong teungku. Neupeugah siat, Murdani bukan orang selapis bulu. Jangankan M, Pangdam udah pernah berurusan’. Status facebook itu sengaja saya tulis, bahwa jangankan dengan si M itu, dengan Pangdam saja udah pernah saya berurusan,” katanya.

Malam itu juga, Sabtu, 14 Maret 2020, Murdani mendapat lagi ancaman bahwa akan datang orang ke rumahnya. Ternyata, tidak ada seorang pun yang datang.

“Akhirnya saya tulis lagi di postingan status facebook. “Teungeut bak tapreh. Watee dipeugah melalui telepon, sang-sang ciet Seulawah tutong. Tak ada keris,” gitu saya tulis  dan itu masih bisa dilihat pada dinding akun facebook saya,” ujarnya.

Lantas, apa penjelasan dari Toke Makmur terhadap semua “tudingan” tersebut? Lagi-lagi, upaya konfirmasi media ini gagal. Dihubungi melalui telpon seluler tak diangkat. Dikirim pesan WhatAspp (WA) juga tak berbalas. Alamak!***