Innalillahi wainnailaihi rajiun. "Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNya kami kembali.

Apa yang diinginkan pihak kesehatan di Banda Aceh dari ibu saya sebenarnya. Lagi pula ibu saya pergi ke Banda Aceh karena gangguan ginjal. Tiba-tiba dilaporkan ke media dan pulang sebagai penderita Covid-19

Andika Putraga Anak Almarhumah

Bukan kematian yang diratapi Andika Putraga. Tapi hasil dan status pasien terpapar Covid-19 yang dia sesali.

Apalagi status tersebut disandarkan pada ibunya, almarhumah Rabumah (51 tahun). Kisah duka ini saya kutip dari laman LintasGAYO.co. Satu potret tentang cerita miris penangganan Covid-19 di Aceh, khususnya Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.

Almarhumah Rubamah adalah warga Kampung Kelupak Mata, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah ini, menghembuskan nafas terakhir beberapa pekan lalu di rumah sakit plat merah ini.

Ironisnya, pemakaman Rabumah tidak menggunakan protokol kesehatan seperti lazim dilakukan Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 di negeri ini. Termasuk dataran tinggi Gayo, Takengon, Kabupaten Aceh Tengah.

Padahal, sebelumnya Tim Medis di RSUD Zainoel Abidin Banda Aceh menyebut, almarhumah terkonfirmasi positif Covid-19, berdasarkan hasil SWAB.

Tapi hingga kini, keluarga almarhumah mengaku tidak mendapat hasil, walau sempat beberapa kali memintanya.

Seperti diwartakan LintasGAYO.co beberapa pekan lalu. Akibat ketidakjelasan status tersebut, membuat anak, suami serta keluarga besar yang ditinggalkan mengalami duka mendalam.

Mereka sangat terpukul, selain kehilangan sosok ibu dan istri tercinta, status yang ditinggalkan juga sangat menyedihkan. Ya, terpapar virus corona atau Covid-19.

“Setelah keluar dari Rumah Sakit Datu Beru, kami berinisiatif membawa ibu ke pengobatan alternatif. Namun tidak membaik. Hari Sabtu, tanggal 25 Juli 2020, ibu dibawa ke Banda Aceh berdasarkan rujukan yang dikeluarkan dokter Rumah Sakit,” kata Andika kepada LintasGAYO.co, Sabtu 15 Agustus 2020.

Kisah duka ini berawal saat Rabumah mengalami sakit pada bagian ginjal. Singkat cerita, tanggal 11-14 Juli 2020, almarhum dirawat pada Rumah Sakit Datu Beru Takengon, Aceh Tengah.

Hasil diagnosa dokter memutuskan bahwa almarhumah mengalami gangguan ginjal. Selanjutnya sebut Andika, tim medis setempat memberi saran untuk melakukan cuci darah di RSUDZA Banda Aceh.

Walau pihak rumah sakit mengeluarkan surat rujukan. Tetapi ketika itu keluarga menolak. Begitupun, setelah rapat keluarga, akhirnya Rabumah dibawa ke Banda Aceh.

Saat tiba, almarhumah di rawat pada ruang IGD RSUDZA. Saat itu juga, tim medis melakukan tes SWAB dan hasilnya negatif. Lalu dirawat di Ruang Aqsa 3, kamar nomor 6.

“Setelah satu hari berjalan perawatan, ibu saya dipindahkan ke ruangan Aqsa 3 kamar 1. Di sana dia mendapatkan cuci darah pertama dan penambahan darah 2 kantong,” ungkap Andika.

Tanggal 2 Agustus 2020, pihak RSUDZA, merencanakan transfusi darah terhadap almarhumah. Namun seluruh pasien di ruangan tersebut, dikeluarkan ke lobby.

Tersiar kabar, ada petugas kesehatan yang terpapar Covid 19, sehingga ruangan akan dilakukan disinfeksi.

Kata Andika, usai setiap tindakan medis dilakukan, pasien mengikuti tes PCR. Rencana dokter yang merawat ibunya, cuci darah akan dilanjutkan setelah hasil PCR keluar.

“Namun setelah kurang lebih satu minggu hasil PCR dari Jakarta tidak keluar. Pihak rumah sakit mengambil inisiatif melakukan test PCR di laboratorium Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh. Namun hasilnya akan keluar 4 hari setelahnya,” jelas Andika.

Karena kondisi yang terus memburuk, pihak Rumah Sakit Zainoel Abidin berinisiatif melakukan tes SWAB kembali.

Lagi-lagi negatif Covid-19. “Maka proses cuci darah dapat dilanjutkan kembali,” ujar Andika yang didampingi sang ayah Ibn Thahir.

Menurut Andika, setelah selesai cuci darah, pihak keluarga mendapatkan info bahwa Rabumah terpapar Covid-19.

Tapi, saat itu pihak keluarga dan pasien tidak mendapatkan hasil tertulis. Mereka hanya menerima informasi lisan bahwa hasil test CPR dari laboratorium Unsyiah samar-samar. Sementara hasil SWAB sebelumnya mengatakan negatif.

“Keluarga tidak bertanya lebih lanjut tentang metode pengambilan kesimpulan antara hasil SWAB yang negatif dengan hasil PCR yang samar. Apalagi tubuh ibu kami sudah lemah, dan tidak menunjukan indikasi atau gejala covid (batuk, sesak dan demam tinggi),” katanya.

Setelah dinyatakan positif, Minggu, tanggal 9 Agustus 2020, Rabumah diisolasi di ruang RICU Pinere dengan keadaan belum sadar penuh.

Sementara itu, sang suami Ibn Thahir selalu menemani Rabumah di Rumah Sakit. Menurut dia, Senin, 11 Agustus 2020, istrinya dinyatakan positif secara lisan.

Itu sebabnya, dia berinisiatif meminta kepada pihak rumah sakit untuk melakukan test Covid-19. Namun, pihak RS menolak. Kenapa?

“Berselang dua hari, direncanakan akan dilakukan cuci darah kepada istri saya. Namun kembali diundur sampai 2 hari berikutnya dengan alasan pemasangan alat baru,” terangnya.

Ketika akan dilakukan cuci darah pada, Kamis, tanggal 13 Agustus pagi. Rabumah sudah dinyatakan meninggal dunia.

Ilustrasi. ANTARAFOTO

Di hari yang sama, almarhumah dibawa pulang dari Banda Aceh ke Aceh Tengah dengan menggunakan mobil ambulan biasa bantuan dari Bank Aceh Syariah. Bukan mobil ambulance khusus pasien Covid-19. Ada apa?

“Tidak dengan mobil ambulan khusus. Supir atau petugas kesehatan yang membawa pasien ke Aceh Tengah, juga tidak mengenakan pakaian pengaman yang menunjukkan bahwa almarhumah tidak ada terindikasi terpapar virus Corona,” terangnya..

Namun, sebelum tiba di Aceh Tengah, telah beredar di media massa pers. Termasuk keterangan dari Juri Bicara Satgas Covid-19 Aceh, Saifullah A. Gani (SAG) bahwa almarhumah terpapar corona.

Setika keluarga besarnya panik. Maklum, banyak pihak akhir terlihat menjaga jarak dan menghindar.

Akibatnya, keluarga besar almarhumah Rubamah sangat tertekan karena fakta yang mereka dapatkan tidak menyatakan positif. Sementara, informasi telah beredar luas bahwa almarhumah telah positif Covid-19.

Namun, mereka juga berhati-hati. Untuk memastikan kondisi kesehatan keluarga, setelah bersentuhan langsung dengan almarhumah. Mereka minta melakukan rapid test secara mandiri, Jumat berikutnya di kota Takengon.

Hasil rapid test terhadap enam anggota keluarga dinyatakan non-reaktif.

Lalu, pihak keluarga menyusuri darimana informasi positif tersebut. Sementara fakta yang mereka alami justeru tidak menunjukan kebenaran berita yang beredar luas.
Tanggal 14 Agustus 2020, pihak keluarga berupaya menghubungi pihak Gugus Covid-19 Aceh Tengah melalui pesan Whatsapp dan telepon. Tapi tidak mendapatkan respon apa pun.

Fakta tersebut, hingga saat ini, pihak keluarga tidak mendapatkan bukti secara tertulis dan valid dari rumah sakit atau gugus kesehatan tentang hasil SWAB yang menyatakan bahwa almarhumah positif covid-19.

Ketidaktersediaan informasi valid tadi, tentu saja sangat merugikan keluarga almarhumah.

Utamanya, akibat framing yang dilakukan media pers tanpa ada check and ricek serta hanya menelan mentah-mentah informasi dari satu arus yaitu, Jubir Satgas Covid-19 Pemerintah Aceh.

Hasilnya, stigma negatif terhadap pasien yang terpapar Covid-19 pun terjadi tanpa klarifikasi. Masyarakat di sana pun cenderung menghindari dan berhati-hati apabila bertemu dengan pihak keluarga.

Ironisnya, meski telah mendapatkan hasil rapid test yang non reaktif, tetapi pengakuan mereka (keluarga) tetap saja mampu dikalahkan oleh sumber berita media pers pemerintah atau media maenstream yang memang “dibayar” untuk mempublikasi soal Covid-19.

Padahal, Dewan Pers telah mengeluarkan seruan dan petunjuk tentang bagaimana mewartawakan Covid-19 bagi media pers.

“Sekarang kami sudah mendapatkan stigma negatif dari masyarakat karena informasi dari media yang bersumber dari pemerintah provinsi. Padahal semua test SWAB hasil nya negative,” ungkap Ibn Thahir, suami almarhumah Rubamah.

Tak hanya itu, supir yang mengantar jenazah juga tidak mengunakan pengamanan apapun. Karena itu, pihak keluarga semakin menyakinkan bahwa almarhumah meninggal dunia karena penyakit yang dibawa ke Banda Aceh atau masalah ginjal.

“Apa pemerintah tidak membayangkan dampak negatif terhadap kehidupan sosial kami dari informasi yang mereka berikan? Kami semua termasuk, ibu dan kakak serta adik almarhumah tidak dapat melihat wajah almarhumah untuk terakhir kali,” tambahnya.

“Kami sangat sedih dan terpukul sekali. Kami sudah mendapatkan musibah. Mengapa diperlakukan begini lagi oleh Pemerintah Aceh. Apa yang mereka ingin dapatkan dari musibah kami,” kata Andika, putra almarhumah seperti diwartakan LintasGAYO.co.

“Saya bukan tidak percaya adanya covid. Ini bencana seluruh dunia. Anak saya juga petugas kesehatan TNI dan istrinya juga dokter. Saya dapat pengetahuan yang cukup untuk ukuran orang kampung soal adanya virus ini dan dampaknya,” tutur Ibn Thahir.

“Karena pengetahuan itu, maka saya minta pihak rumah sakit di Banda Aceh untuk melakukan test terhadap saya. Kok mereka menolak? Kalau istri saya positif, meski diinformasikan secara lisan, saya pasti terpapar juga. Karena saya selalu menemaninya,” ungkap Ibn Thahir, setengah mengugat.

Nah, setelah 20 hari Ibn Thahir menemani istrinya di Banda Aceh, dia mengaku kondisinya baik baik saja. Seharusnya, secara tindakan penanganan Covid-19, ia harus diisolasi. Karena, mungkin saja terpapar.

“Saya dan pihak keluarga yang mendampingi almarhumah, mengambil rapid test di Takengon. Hasilnya negatif. Lalu bagaimana pihak Banda Aceh menetapkan istri saya positif covid? Apa ada covid yang tidak menular?” Tanya Ibn Thahir.

“Sampai sekarang kami tidak mendapatkan hasil yang menyatakan istri saya positif terpapar. Malah tahunya dari media. Ini kan aneh sekali. Kenapa pihak keluarga pasien dirahasiakan tapi ke media dibuka,” kata Ibn Thahir.

Pengakuan serupa juga diungkapkan Riyan, keponakan almarhumah. Dia ikut mendampingi Rabumah selama menjalani perawatan di Banda Aceh.

Kepada lintasgayo.co dia mengungkap. Paling tidak pihak berwenang tidak menutupi fakta sebenarnya.

“Saya katakan bahwa hasil test SWAB dua kali dilakukan dan negatif. Rapid test yang kami lakukan secara mandiri juga non reaktif. Meski pun orang kampung, kami tidak bodoh-bodoh kali lah. Jangan dijadikan mainan begini,” tegas Riyan.

“Kami bukan tidak menerima kalau pun pasien terpapar corona. Tapi saya tidak terima bagaimana ibu dan keluarga saya diperlakukan begitu. Yang jelaslah menangani keadaan ini. Hasil negatif kok bisa tiba tiba positif tanpa menunjukan hasil test kepada kami, pihak keluarga,” kata Riyan dan Andika.

“Apa yang diinginkan pihak kesehatan di Banda Aceh dari ibu saya sebenarnya. Lagi pula ibu saya pergi ke Banda Aceh karena gangguan ginjal. Tiba-tiba dilaporkan ke media dan pulang sebagai penderita Covid-19,” ucap Andika dengan raut wajah sedih.***