Presiden RI Joko Widodo tetap fokus dan serius memberantas terorisme di Indonesia. Ini terlihat dengan menempatkan beberapa purnawirawan jenderal TNI-Polri dalam Kabinet Indonesia Maju pada periode kedua kepemimpinnya. Mulai dari Menteri Pertahanan, Menteri Agama hingga Mendagri dan beberapa pos kementerian lain. Memang, kelompok-kelompok teroris, radikal dan fundamentalis di Indonesia tak bisa dianggap remeh. Itu sebabnya, secara mendasar dan terus-menerus wajib di-update, tanpa harus terpaku pada jadwal yang tetap dan tergantung aktivitas subyek yang terdeteksi. Berikut laporan wartawan MODUSACEH.CO, Muhammad Saleh.

Mengaitkan agama dengan tindakan terorisme adalah sebuah kesalahan besar. Terorisme adalah terorisme. Teroris adalah teroris. Terorisme tidak ada hubungannya dengan agama apa pun

Joko Widodo Presiden Republik Indonesia

TERORIS! Hingga kini, satu kata itu terus menghiasi wajah media pers dan potret keamanan di Indonesia.

Akibatnya, tak hanya melahirkan kecemasan dan ketakutan bagi masyarakat. Tapi juga, kekhawatiran terhadap iklim investasi di negeri ini, baik investor dalam maupun luar negeri.

Harusnya, di tengah wabah pandemi Covid-19 yang telah mengakibatkan dunia, termasuk Indonesia terperosok dalam resesi ekonomi. Titik fokus justru melawan “serangan” virus tak terlihat, namun mematikan ini.

Tapi apa lacur, aksi radikal terorisme di Indonesia hingga kini memang belum mati. Kisah dan hikayatnya terus “hidup” disaat geliat bangsa dan negara ini, terus berbenah dan membangun jembatan kesejahteraan menuju kemakmuran rakyat. Dari Sabang sampai Papua.

Terkini, catatan sukses kembali ditoreh Tim Detasemen Khusus (Densus) Antiteror 88 Mabes Polri. Pasukan terlatih tersebut, berhasil mengungkap dan menangkap empat terduga teroris di beberapa tempat dalam wilayah Provinsi Lampung.

Diduga, mereka anggota Jamaah Islamiah dari Kelompok Imarrudin asal Provinsi Banten di bawah kepemimpinan Wijayanto.

"Mereka tergabung dalam Kelompok Imarrudin asal Banten di bawah kepemimpinan Wijayanto yang diduga sebagai Kosin Wilayah Lampung," ungkap Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas), Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi Awi Setiyono, Ahad, 8 November 2020 di Jakarta.

Awi menyatakan, empat terduga teroris tersebut ditangkap pada Jumat dan Sabtu 6-7 November 2020, sekira pukul 12.10 WIB. Mereka ditangkap di lokasi berbeda.

"SA ditangkap di rumahnya, Jalan Kucing, Kelurahan Purwosari, Kota Metro, S di Jalan Tanjung Pura, Panjang, Bandarlampung, I dan RK ditangkap di Pringsewu," kata Awi.

Awi menambahkan, empat terduga teroris tersebut memiliki jabatan masing-masing. Misal S, dia merupakan anggota dari Kelompok Imarrudin asal Banten. S juga Bendahara Struktur Adira Lampung.

Selain itu ada I, orang yang memberikan dana kepada Imarrudin, dan RK Sekretaris Adira Lampung. "Dari penangkapan tersebut, Tim Densus 88 mengamankan puluhan barang bukti," katanya.

Diketahui, terduga teroris itu merupakan jaringan dari kelompok (POK IMAR) Banten yang sudah tertangkap lebih dulu beberapa bulan yang lalu di Provinsi Jawa Barat, dan berencana akan melakukan amaliyah di beberapa kota di Pulau Jawa.

Dalam penangkapan itu, Tim Densus 88 telah menyita barang bukti berupa handphone, laptop, senapan angin, ketapel, dan beberapa buku terkait jihad.

Itu sebabnya, dalam berbagai kesempatan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan tegas mengatakan, pemerintah akan melawan terorisme. Caranya, menindak tegas pelaku teror di Indonesia.

"Perlu saya tegaskan lagi, kami akan lawan terorisme dan kami akan basmi terorisme sampai ke akar-akarnya," kata Jokowi.

Begitupun, kepala negara tak setuju jika terorisme dikaitkan dengan agama. Itu ditegaskan Presiden Joko Widodo (Jokowi), setelah pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menyebut tindakan kekerasan yang terjadi di Paris dan Nice, Prancis, sebagai 'serangan teroris Islamis'.

Menurut Jokowi, suatu kesalahan besar mengaitkan tindakan terorisme dengan agama tertentu. Menurutnya, terorisme tak berhubungan dengan agama apa pun.

"Mengaitkan agama dengan tindakan terorisme adalah sebuah kesalahan besar. Terorisme adalah terorisme. Teroris adalah teroris. Terorisme tidak ada hubungannya dengan agama apa pun," tegas Jokowi dalam jumpa pers yang disiarkan kanal Sekretariat Presiden, Sabtu, 31 Oktober 2020 di Jakarta.

Dalam tatanan pemerintah atau periode kedua kepemimpinannya, Presiden Jokowi juga memperlihatkan keseriusan dan fokus dalam memberantas kelompok teroris di negeri ini.

Tak hanya itu, tahun lalu, Pemerintah Jokowi telah membubarkan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD)-salah satu kelompok teroris yang aktif di Indonesia setelah Jamaah Islamiyah.

Amir JAD, Zaenal Anshori juga sudah dijebloskan ke penjara. Begitu pula dengan ideolog JAD, Aman Abdurahman kembali meringkuk di jerusi besi setelah tahun lalu Pengadilan Jakarta Selatan menetapkan hukuman mati atas berbagai teror di Indonesia yang disangkutkan pada dirinya.

Yang jadi soal kemudian adalah, mengapa anggota dan kelompok teroris seakan tak pernah habis di negeri ini dan dunia?

Tentu, banyak alasan dan analisa untuk menjawab pertanyaan itu. Namun yang patut dicatat, kejahatan tindak terorisme merupakan kejahatan khusus yang jauh berbeda jika dibandingkan dengan kejahatan seperti pencurian, perampokan, pemerasan dan korupsi.

Nah, jika pelaku kejahatan tadi menyadari betul perbuatan mereka salah tapi tetap melakukannya (karena alasan tertentu). Berbeda dengan pelaku terorisme. Mereka meyakini bahwa apa yang mereka lakukan adalah tindakan yang benar.

Mereka juga memiliki alasan untuk membenarkan tindakannya. Sebab, kekerasan adalah satu-satunya jalan terbaik untuk menunjukkan perbedaan, mengirimkan pesan dan bahkan meraih tujuan yaitu; mati syahid.

Doktrin inilah yang terjadi pada anggota kelompok teror di Indonesia. Para ideolog seperti Aman Abdurahaman sangat pandai memainkan perasaan orang-orang dan pintar memelintir narasi-narasi dari Alquran dan Hadist. Sehingga mereka memiliki pembenaran dalam menlancarkan amaliyah (aksi teror). Ujungnya mereka menganggap aksi mereka sebagai sebuah “jalan suci”.

Direktur Pelaksana Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikalisasi (PAKAR) Adhe Bhakti menyebutnya sebagai “Distorsi Narasi”. Yaitu penyimpangan narasi-narasi makna ayat dalam Al Qur’an atau Hadist.

Para ideolog ini sangat cekatan meracik satu ayat dengan ayat lain sehingga menjadi tindakan pembenaran bagi aksi amaliyahnya.

Bahkan tidak jarang, mereka tak mempedulikan sebab dan kondisi turunnya suatu ayat. Selain itu mereka juga lihai mengolah kata untuk mempengaruhi orang lain dan menjadi pembenaran bagi mereka.

Tak semua orang memang kemudian percaya atau terpengaruh dengan para ideolog kelompok teror ini. Namun mereka yang terpengaruh bisa disebabkan dua hal.

Pertama karena kondisi mental dan psikologi yang “lemah”. Misalnya, ketika kondisi hidupnya sedang susah, tiba tiba ada pernyataan “demokrasi membuat orang menjadi koruptor dan korupsi serta membuat hidup orang menjadi susah. Maka halal darahnya membunuh orang yang mejalankan demokrasi”.

Kedua karena rendahnya daya kritis. Anggota kelompok teroris tunduk saja saat dijejali ide-ide soal kekerasan. Entah mereka tak memiliki kemampuan untuk mengkritisi atau memang tak dibenarkan di kelompok mereka untuk mempertanyakan apa yang disampaikan oleh para ideolognya (doktrin).

“Distorsi Narasi” inilah yang menjadi “Roda Penggerak” yang terus berputar untuk menjaring anggota kelompok teroris. “Distorsi Narasi” menjadi akar yang cukup penting selain faktor pendorong (Push Factor) dan faktor penarik (Pull Faktor) seseorang terjun bergabung ke kelompok teroris.

Tak hanya itu, menurut Adhe Bhakti. “Distorsi Narasi” inilah yang menjadi penyebab kenapa kelompok teroris seolah tak pernah habis meski Densus 88 tak pernah berhenti membasmi mereka.

Di sudut lain, jumlah kelompok teror ini kalah jauh banyak dengan kelompok yang menentang. Tapi sayangnya, mereka yang menjadi anggota kelompok teror lebih ribut dan bising mengkampanyekan “Distorsi Narasi” yang tak mereka anut tanpa mereka sadari. Sementara mereka yang kontra, hemat suara untuk menyampaikan perlawanan.

Itu sebabnya, Densus 88 tak bisa sendirian membasmi kelompok teror tadi. Sebaliknya, dibutuhkan tokoh-tokoh agama untuk meluruskan distorsi dari para ideolog kelompok teror.

Perlu adanya “Perang Narasi”, yaitu narasi perlawanan untuk mengkonter dan narasi kontra untuk melawan narasi para ideolog kelompok terorisme.

Yang tak kalah penting termasuk melawan Distorsi Narasi yang disampaikan melalui saluran-saluran media di dunia maya. Sebab, saat ini tak setiap orang pergi ke masjid atau majelis untuk mendapatkan ilmu agama. Sebaliknya, internet dan aplikasi percakapan memberikan fasilitas yang begitu luas.

Jika tak segera dilakukan perlawanan, maka narasi-narasi kelompok teror inilah yang nanti akan menguasai pola pikir masyarakat. Bila itu sudah terjadi, maka akan semakin sulit untuk membalikkan narasi yang sudah meluas itu.

Imbasnya, akan susah mendapatkan ketenangan hidup di Indonesia jika dikelilingi sebagian besar masyarakat yang menganut kekerasan sebagai jalan hidup.

Lantas, langkah nyata apa yang diperlukan dalam memberantas radikal terorisme di Indonesia?

Dari berbagai peristiwa yang terjadi dan referensi literasi, maka diperlukan. Pertama, penelitian baseline tentang profil kelompok-kelompok teroris, radikal dan fundamentalis di Indonesia secara mendasar dan terus menerus.

Artinya, tanpa harus terpaku pada jadwal yang tetap dan tergantung aktivitas subjek yang terditeksi (lihat profil kelompok dan organisasi terorisme).

Kedua, diperlukan kegiatan penelitian teoritis umum mengenai terorisme yang mencakup teori-teori radikalisme, teori-teori fundamentalisme, teori-teori tentang terorisme. Termasuk sejarah terorisme.

Ketiga, diperlukan penelitian reguler dengan mengusung tema tentang terorisme, radikalisme dan fundamentalisme di Indonesia.

Studi atau penelitian reguler ini dilakukan dengan kajian-kajian dasar (baseline studies) tentang fundamentalisme, radikalisme dan terorisme. Ini  sangat penting bagi pemahaman menyeluruh dan konseptual tentang terorisme, radikalisme dan fundamentalisme.

Misal, kajian-kajian tentang ajaran dan prinsip-prinsip tertentu dari aliran/mazhab/paham dalam Islam yaitu, wahabiisme, salafi jihadi (salafiisme) serta takfir wal hijrah. Selain itu mengenai antropologi terorisme, psikologi terorisme dan politik maupun bahasa dan terorisme.

Termasuk kajian-kajian biografis tentang tokoh-tokoh lain dari kelompok fundamentalis, radikal dan teroris di Indonesia dan luar negeri seperti, Osama bin Laden, Abdullah Azzam, Hasan Al Banna, Yusuf Qaradhawi, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo dan lain-lain.

Dan yang tak kalah penting adalah, melakukan kajian-kajian afiliasi keorganisasian kelompok-kelompok teroris, radikal dan fundamentalis di Indonesia, meliputi: afiliasi ke partai politik, afiliasi ke bisnis/komersial/perusahaan swasta, Al Qaeda, MILF, LSM, media massa dan intelijen negara.

Hanya itu? Tunggu dulu. Dari beberapa peristiwa dan pengalaman selama ini, juga diperlukan kajian-kajian demografi sosial budaya berbasis kewilayahan (area studies) di Indonesia.

Tujuannya, bisa menjelaskan sejarah, pengaruh dan kemungkinan potensi terorisme, radikalisme dan fundamentalisme di Indonesia. Misal, Solo, Banten, Aceh, Sulawesi Selatan, Poso, Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan Kalimantan.

Dari sisi literasi, juga diperlukan kajian-kajian tentang sumber bibliografis terorisme, radikalisme dan fundamentalisme. Sebut saja kajian kitab atau buku atau referensi seperti; PDB I, PDB II, Fi Zilalil Qur’an, Riyadus Shalihin dan terjemahan Al Qur’an Kementerian Agama RI.

Tak hanya itu, pepatah menyebut. Pengalaman adalah guru terbaik. Karena itu, salah satu cara mengungkap potensi dan jaringan radikal terorisme, menuju Indonesia bebas aksi kekerasan adalah; pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), terus dan tetap melakukan kajian tentang  kasus-kasus dan peristiwa penting, menyangkut kegiatan terorisme, radikalisme dan fundamentalisme di dalam dan luar negeri.

Sebut saja kasus bom Cikini, pemboman Candi Borobudur, Bom Gereja Tujuh Belas Kota (Bom Malam Natal), Bom Bali I, Bom Bali II serta lainnya.

Selain itu juga melakukan kajian media yang diduga berafiliasi dengan teroris, radikal dan fundamentalis di Indonesia serta publikasi melalui internet dan radio.

Sementara itu, juga diperlukan kajian tentang strategi terorisme, radikalisme dan fundamentalisme dalam merekrut, melancarkan serangan serta bersembunyi dari penangkapan.

Ini mencakup strategi perang gerilya, serangan sporadis, fa’i, perampokan, zikir dan sholat malam, majelis ilmu, dakwah, bom syahid/bom bunuh diri, penculikan/penyanderaan, jaringan jihad dan akademi militer.

Disudut lain, diperlukan kajian  tentang pesantren dan lembaga pendidikan kelompok teroris, radikal dan fundamentalis di Indonesia. Misal, Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Solo. Pesantren Al Islam. Pesantren/Dayah Darul Mujahidin. Pesantren Al Hikam. Pesantren Lukmanul Hakim.Pesantren Al Furqaan dan Pesantren Al Amin serta lainnya.

Sementara, soal sumber pendanaan aksi terorisme juga menjadi penting. Misal, pendanaan kelompok teroris. Pendanaan kelompok radikal dan pendanaan kelompok fundamentalis.

Lantas, wilayah jihad/perang mana saja yang melibatkan kaum mujahidin dari kalangan teroris, radikal dan fundamentalis di seluruh dunia? Ini juga menjadi penting.

Hasil riset media ini dari berbagai sumber menyebutkan ada yang berasal dari Wilayah  Jihad Afghan, Moro, Dagestan/Inghusetia, Chechnya, Rohingya, Burma, Sudan, Eropa, Yaman, Mesir, Yordania, Palestina, Lebanon dan lain-lain. Sedangkan di Indonesia ada dari Wilayah Jihad Poso, Maluku/Ambon, Aceh, Sumatera dan Jawa.

Nah, selain berbagai tawaran tersebut, baseline research juga perlu dilakukan dengan mengundang para peneliti luar untuk berkontribusi dalam meneliti dan pengembangan model serta metode-metode.

Setiap tema dan baseline research akan di-update secara berkala. Selain itu, metode studi yang digunakan, sedapat mungkin bernuansa counter insurgency research yaitu; jurnal kajian akademis dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris tentang  terorisme, radikalisme dan fundamentalisme di Indonesia.

Selain itu diperlukan juga jurnal dalam bentuk digital dan diserahkan ke DOAJ (Database of Open-source Academic Journal) di Swedia. Tujuannya, agar dapat diakses secara luas oleh academic community di seluruh dunia.

Jurnal-jurnal ini nantinya akan diurus akreditasinya dari Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti), Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia. 

Selain itu, diperlukan kegiatan penelitian dan penerbitan monografi tentang “alumni” Afghanistan dan Moro serta veteran dari berbagai wilayah konflik muslim di seluruh dunia.

Tak berhenti sampai di sini. Juga diperlukan kegiatan penelitian dalam bentuk time series responsi kaum teroris, radikal dan fundamentalis terhadap berbagai paham non-Islam.

Kajian dan penelitian ini mencakup soal; kapitalisme, sosialisme dan sosial-demokratisme, komunisme, liberalisme dan neo-liberalisme, fasisme, naziisme, budhisme, hinduisme, kristianisme, konfucianisme, Pancasila, syiahisme dan agama/kepercayaan lokal.

Selanjutnya, diperlukan kegiatan perpustakaan dan pusat dokumentasi terorisme, radikalisme dan fundamentalisme, dengan koleksi-koleksi bahan bibliografis yang cukup penting bagi studi tentang terorisme.

Misal, dibuat Theater Mini (audio-visual) dan perkuliahan tentang terorisme, radikalisme dan fundamentalisme. Tujuannya, memutar film-film singkat yang dibuat berbagai kalangan tentang terorisme, radikalisme dan fundamentalisme.

Selain itu mengadakan kuliah umum (studium general) di ruang theater dengan mengundang para ahli di bidangnya. Ini bisa dilakukan satu bulan sekali bersamaan dengan atau menjelang/sebelum kegiatan menonton documentary film dilakukan.

Tak hanya itu, juga diperlukan Kegiatan Galery Photografi dan Museum tentang terorisme, radikalisme dan fundamentalisme di Indonesia. Ini dimaksudkan sebagai historical memoric device untuk mengingat dan tidak melupakan peristiwa-peristiwa kemanusiaan yang ditimbulkan oleh aksi-aksi terorisme, radikalisme dan fundamentalisme.

Untuk melengkapi koleksi ini, BNPT bisa bekerja sama dengan lembaga terkait lain. Khususnya untuk mendisplay hasil karya para penggiat seni fotografi.

Selain itu, untuk antisipasi berkembangnya paham terorisme dan sebaliknya menumbuhkan kesadaran multikulturalisme. BNPT bisa menetapkan dua sasaran. Pertama kalangan teroris (simpatisan dan calon teroris) agar tidak kembali pada paham yang sudah ada.

Kedua masyarakat umum sebagai langkah pencegahan dan pemutusan rantai teroris atau perekrutan baru dari kalangan awam.

Tentu, kegiatan yang akan dilakukan meliputi: sekolah multikultur, yaitu kursus mengenai antropologi dan diversitas kehidupan dengan sasaran para terduga teroris dan juga para pelajar dan mahasiswa lainnya.

Kedua, advokasi pada pelaku teror dengan memberikan kursus maupun beasiswa untuk melanjutkan belajar di antropologi di perguruan tinggi (Universitas Indonesia).

Ketiga, pelatihan bagi para pelatih dan da’i supaya dalam dakwahnya menyampaikan ajaran Islam yang damai. Keempat, goes to School and Campus atau pesantren.

Dalam aktifitas membangun kemitraan dengan berbagai lembaga penelitian, sudah saatnya Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) membentuk dan memperkuat Pusat Study Terosisme, baik yang sudah ada atau segera terbentuk. Semoga.***