Ditengah direfocusing APBA 2020 untuk penanganan Covid-19. Eeh, muncul anggaran Rp4,3 miliar lebih untuk revitalisasi ruang Sekretariat Daerah (Setda) Aceh yang kini dihuni dr. Taqwallah. Bayangkan, jumlah tersebut setara dengan pembangunan rumah baru tipe 300 di atas lahan 250 meter per segi. Kok tega? Wartawan MODUSACEH.CO, Muhammad Saleh menulisnya.

Inilah akibatnya jika fungsi kontrol dari DPRA dan kawan-kawan LSM semakin hilang. Akibatnya, eksekutif (pejabat) Pemerintah Aceh bisa suka-suka, bebal” dan ulok-ulok

Rahmat sebut saja demikian (samaran). Dia hanya bisa mengurut dada, menghela nafas panjang, saat membaca postingan warganet melalui media sosial (medsos). Ini terkait program revitalisasi ruang kerja Sekretariat Daerah (Setda) Aceh, dr. Taqwallah.

“Rp4,3 miliar lebih dari APBA 2020. Gila, ini benar-benar gila! Dimana akal sehat mereka (pejabat), di tengah wabah corona saat ini,” celetuk salah seorang pengusaha properti di Aceh ini.

Ungkapan kekecewaan itu disampaikan Rahmat, saat ngopi bersama media ini pada salah satu warung kopi, di sudut Kota Gemilang Banda Aceh, Jumat petang.

Dia mengaku, awalnya tak percaya jika pejabat di jajaran Pemerintah Aceh tega berbuat demikian. Namun, setelah melihat tayangan di LPSE Pemerintah Aceh. Pengusaha muda ini pun geleng-geleng kepala.

“Saya nyatakan itu tidak wajar. Apa pun dalih dan alasannya. Ini setara dengan saya membangun rumah baru tipe 300 di atas lahan 250 meter per segi,” sebut Rahmat.

Protes Rahmat memang bukan tanpa sebab. Maklum, untuk ukuran rehab ruang kerja seorang Setda Aceh sehingga menguras uang rakyat hingga miliar rupiah. Menurut dia sungguh tak wajar.

“Ini benar-benar di luar akal sehat dan “bebal”. Atau dinding ruangan terpasang lapisan emas dan keramik lantainya marmer Thassos yang didatangkan dari Yunani dengan harga mencapai US$200 per meter persegi atau setara Rp7,5 juta,” kritik Rahmat.

Thassos merupakan sebuah pulau di Yunani, memiliki luas wilayah 380 kilo meter persegi. Pulau ini memiliki pantai yang cantik, namun tersimpan rahasia kesejukan lantai di Masjidil Haram, Arab Saudi.

Selain itu, sejak berabad-abad lamanya, marmer putih dari Pulau Thassos ini, digunakan secara luas oleh orang-orang Romawi.

Nah, sekedar informasi saja, marmer Thassos memang terpasang di lantai Masjidil Haram secara presisi di setiap sudut. Tujuannya, untuk menjamin kenyamanan jamaah saat melintas.

Selain itu, marmer Thassos dapat menyerap kelembaban di malam hari dan mempertahankan suhu yang sejuk meskipun cuaca di siang hari sangat panas.

Itu sebabnya, jamaah yang melaksanakan tawaf di siang hari tidak perlu jingkat kaki karena kepanasan. Kesejukan yang terpancar dari marmer Thassos tadi justeru sangat membantu ibadah jamaah haji dan umrah.

Hanya itu? Tunggu dulu. Tentu masih belum lekang dalam ingatan saat Pemerintah Aceh mengalokasikan dana Rp4,3 miliar dalam APBA 2013 lalu, untuk renovasi rumah dinas Kapolda dan Wakil Kapolda Aceh.

Walau akhirnya gagal terlaksana karena  tidak mendapat izin dari Menteri Dalam Negeri saat itu Gamawan Fauzi. Tapi, masalahnya bukan pada persoalan tersebut. Sebaliknya soal angka (biaya) yang dikeluarkan.

Bayang, untuk renovasi rumah dinas Kapolda dan Wakil Kapolda Aceh saja saat itu jumlah Rp4,3 miliar. Lantas, apakah wajar bila jumlah tersebut setara dengan rehab ruang kerja Setda Aceh?

“Lagi-lagi ini gila betul. Katakanlah ada faktor kenaikan harga barang dan material dari tahun 2013 hingga 2020. Tapi tak juga sampai Rp4,3 miliar lebih. Saya taksir maksimal Rp1,5 miliar atau Rp2 miliar,” ungkap Rahmat.

Ada lagi sebut Rahmat, rehab rumah dinas Kajati Aceh melalui APBA 2018, jumlahnya Rp3,4 miliar. Lagi-lagi, angkanya melonjak jauh.

“Inilah akibatnya jika fungsi kontrol dari DPRA dan kawan-kawan LSM semakin hilang. Akibatnya, eksekutif (pejabat) Pemerintah Aceh bisa suka-suka, “bebal” dan ulok-ulok,” sebut Rahmat berulang-ulang.

***

“Bebal” memang satu kata sangat sederhana, tetapi mengandung makna sangat kaya. Dalam Kamus Teasurus Bahasa Indonesia, “bebal” dimaknai sangat beragam.

Dalam padanan bahasa Indonesia (keadaan seimbang, sebanding, senilai, seharga dan sederajat). Kata “bebal”bermakna; bego, bodoh, bongak, dungu, goblok dan lainnya. Intinya bermakna, kebodohan dan ketidakpedulian dengan nasib orang lain.

Dalam prakteknya, “bebal” tidak saja bermakna leksikal. Kata itu juga berlaku lebih merata. “Bebal” seakan memang disengaja oleh sebagian orang, karena memang tidak mau berbuat dan bertindak sebagaimana mestinya.

Di sisi lain, “bebal” menjadi fakta dari ketidakmampuan seseorang dalam melakukan hal tertentu. Penyebabnya, karena tidak pernah mau belajar tentang sesuatu urusan. Namun, menjadi lebih bermakna karena tidak mau mendengarkan dan menghargai orang lain.

Maka jangan heran, banyak orang-orang terpelajar menjadi "bebal". Karena itu jangan heran bila melihat para pejabat daerah, pejabat politik, pejabat negara dan pemerintahan juga pandai bersikap "bebal" dalam kesehariannya.

Dalam realitanya, "bebal" juga hampir dapat kita nikmati setiap hari. Lihat saja pelanggaran-pelanggaran hukum, pelanggaran etika kemanusiaan, hingga pada jenjang yang lebih tinggi yaitu korupsi dan nepotisme. Semuanya  menjadi bagian dari kehidupan di negeri ini dan Aceh.

Model-nodel "kebebalan" juga bervariasi. Karena itu, para pejabat pun tidak mau kalah dalam "membebalkan" dirinya.  Lantas, apakah karakter "bebal" tadi telah menjadi salah satu penghambat pembangunan di Aceh saat ini? Entahlah, biar rakyat yang menilai dan menjawabnya!***