Sebutan “Gayo Anjing” yang diunggah akun facebook Panglima Pidie menjadi bukti betapa egoisme, kebencian, perpecahan dan kemiskinan menjadi penyakit sosial serta ancaman komunal di Aceh saat ini. Harmoni keberagaman suku maupun etnis Bumi Serambi Mekah, tercabik dalam perilaku egosentis dan primordialisme semu. Haruskah perbedaan pendapat dan perasaan tak suka diwujdukan dalam perilaku rasis, ujaran kebencian dan SARA? Lantas, siapa sosok akun Panglima Pidie? Berikut laporan wartawan MODUS ACEH, Muhammad Saleh.

Kami orang Gayo sudah terlalu lama bersabar. Selalu dihina sebagai pendatang dan keturunan yang dianggap tidak jelas

Aramiko Aritonang

Aramiko Aritonang, memang pantas marah dan emosi. Andai pemilik akun Panglima Pidie itu ada di depannya, entah apa yang akan terjadi dan diperbuat tokoh muda Gayo, 32 tahun ini.

Bagi Aramiko, begitu dia akrab disapa. Sebutan “Gayo Anjing” sungguh menyakitkan dan memberangus harkat dan martabatnya sebagai manusia. Selain itu, telah membuka kembali alam bawah sadarnya, mengenai “sejarah kelam” yang pernah terjadi tentang rumah besar bernama; Aceh!

“Kami orang Gayo sudah terlalu lama bersabar. Selalu dihina sebagai pendatang dan keturunan yang dianggap tidak jelas. Kami siap melakukan tes Deoxyribo Nucleic Acid (DNA) dan meminta Pemerintah Aceh, memanggil tim independen serta ahli sejarah dan kebudayaan, meneliti masyarakat yang mendiami Aceh. Siapa sebenarnya pendatang di Bumi Serambi Mekah,” gugat Aramiko.

Aramiko mengaku paham betul sejarah Gayo. Menurutnya, harmoni ini telah dibelokkan semasa Gubernur Aceh Aly Hasyimi. Ketika itu katanya, tokoh dan ulama Gayo almarhum Tgk Abdul Latief Rusdy akan diangkat menjadi Gubernur Aceh masa itu. Tapi, karena terancam mau dibunuh dan disandera ke Pulau Sabang, akhirnya dia terpaksa pindah ke Medan, Sumatera Utara.

“Di sana, dia menjadi Ketua Muhammadyiah serta Rektor Universitas Muhammadyiah, Sumatera Utara,” jelas Aramiko.

Itu sebabnya, begitu muncul di media sosial (facebook) ada oknum yang menyerang suka Gayo, emosi Aramiko memuncak. “Bila, secara pribadi tak sepaham dengan kebijakan Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah yang bersuku Gayo, itu hak pribadi setiap orang.Tapi, begitu menghina suku Gayo secara umum, kami tidak tinggal diam dan membiarkannya,” tegas Aramiko.

Diakui Aramiko, penghinaan tersebut merupakan "sejarah kelam" yang selalu terjadi dan diingat generasi muda Gayo sebelumnya dan hingga kini. Apalagi, mendapatkan perlakuan diskriminasi dari oknum tertentu, baik langsung maupun tidak.

“Kalau pun saudara kami di pesisir tidak senang dengan kami bersuku Gayo, mengapa niat kami ingin mandiri secara administrasi yaitu Provinsi Aceh Leuser Antara (ALA) tidak juga diaminkan para pejabat di Aceh,” ujar Aramiko, bertanya.

Karena itu, dia meminta Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah, menyampaikan keinginan masyarakat ALA untuk melahirkan provinsi baru tersebut kepada Pemerintah RI di Jakarta. “Kita hanya pisah secara administrasi walau pun saudara kami dari pesisir tinggal di Gayo, kami selalu hidup damai dan rukun. Kami belum siap di Gayo jika tidak ada mie Aceh,” katanya.

Begitupun, kepada media ini, Senin, 6 April 2020 malam, Aramiko mengaku masih menghargai dan menghormati proses hukum. Itu sebabnya, sejumlah rekannya di Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, telah melaporkan pemilik akun Panglima Pidie ke Polres setempat.

“Kami sangat berharap kepada kepolisian terutama Kapolda Aceh, serius dan cepat menemukan  pelaku dan pemilik akun facebook atas nama Panglima Pidie. Suku kami sudah empat kali dilecehkan berbagai oknum melalui media sosial dan semua berjalan begitu saja. Tapi kali ini, kami tidak akan membiarkan siapa pun lepas dari jeratan hukum yang telah melecehkan suku Gayo,” tegas Aramiko.

Amarah Aramiko bukan tanpa alasan. Lihat saja, sebelumnya akun tersebut memposting foto Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Nova Iriansyah dan membubuhinya dengan   tulisan "Gayo Anjing Gayo". Postingan ini dinilai Aramiko, telah melukai hati dan perasaan masyarakat Gayo secara jamak.

Menurut Aramiko, jika pun ada pihak yang tidak sepakat dengan kebijakan dan kepemimpinan Nova Iriansyah saat ini, janganlah membawa suku Gayo, apalagi menyebutnya secara tak pantas.

“Karena itu, kami sangat berharap kepolisian terutama Kapolda Aceh serius dan cepat menemukan  pelaku dan pemilik akun facebook atas nama Panglima Pidie. Kalau tidak, maka akan ada gejolak dan mungkin akan terjadi hal yang tidak diinginkan di Kabupaten Aceh Tengah serta Kabupaten Bener Meriah. Sebab saat ini, kami sangat kewalahan meredam amarah saudara-saudara kami di  Gayo,” tegas Aramiko.

Bergerak cepat, salah satu aktivis Tanoh Gayo, Dedi Purnawan, Jumat, 3 April 2020, resmi melaporkan akun facebook atas nama Panglima Pidie ke Mapolres Aceh Tengah. Alasannya, akun tersebut  dinilai telah menghina suku Gayo.

Dedi Purnawan mengaku sangat kecewa atas postingan pemilik akun facebook Panglima Pidie tersebut. Karena itu, dirinya melaporkan ujaran kebencian terhadap suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) ini ke Mapolres Aceh Tengah.

"Kita sudah buat laporan resmi ke Mapolres Aceh Tengah terkait postingan akun facebook milik Panglima Pidie. Kami lakukan sebagai upaya menjaga persatuan dan kesatuan antar suku di Provinsi Aceh, agar kemudian tidak ada lagi yang berani melukai hati kami selaku suku Gayo yang menetap di Provinsi Aceh," kata Dedi.

Dia juga berharap kepada seluruh masyarakat Gayo, tidak terprovokasi dengan pernyataan oknum tersebut dan  harus dewasa dalam menyikapi persoalan. "Ini negara hukum, maka hari ini saya mewakili masyarakat Gayo melaporkan akun facebook tersebut ke pihak berwajib untuk di proses secara hukum yang berlaku di Indonesia," ujarnya.

Lantas, siapa sebenarnya pemilik akun Panglima Pidie? Benarkah dia berdarah (suku) dan berasal dari Pidie? Atau hanya seseorang yang sengaja memakai lebel Pidie dan sedang memainkan kontra intelijen, memecah belah dan memancing konflik sosial baru di Aceh?

Hingga kini memang masih kabur dan polisi pun masih terus memburunya. Namun, hasil penelusuran tim media ini dari berbagai sumber mengindikasikan, dia seorang warga Aceh yang kini berdomisili di luar negeri. Diduga, berada di Kanada.

Sebut saja X. Dia pernah menjadi santri salah satu pesantren di Kabupaten Bireuen. Saat itu, Aceh masih berkecamuk konflik bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah Indonesia.

Suatu hari, X terlibat kasus pencurian di pesantren sehingga dia dikeluarkan secara tidak hormat dan kembali ke gampongnya (desa), salah satu kecamatan di Kabupaten Pidie. Saat ini, seorang abangnya juga ditangkap dan dipenjara karena terlibat peradaran narkoba jenis sabu-sabu.

Jejak itu rupanya diikuti X hingga akhirnya dia menjadi buronan polisi. Merasa terjepit, X lari ke negeri jiran, Malaysia. Di sana dia mengaku sebagai kombatan GAM atau korban konflik Aceh sehingga mendapat perlindungan atau suaka politik.

Singkat kata, X masuk dalam daftar pengungsi (pelarian politik) Aceh di Malaysia, sehingga namanya masuk daftar United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) sebagai penerima suaka politik. Selanjutnya, X  menuju negara Kanada.

Meski sudah pergi jauh dan tinggal diperantuan, perhatian X terhadap tanah kelahirannya Aceh ternyata tak pernah pupus. Sayangnya, dia selalu melihat berbagai kemajuan sosial, budaya, politik dan ekonomi Aceh paska terwujudnya perjanjian damai (MoU) antara GAM-Pemerintah RI, 15 Agustus 2005 di Helsinki Finlandia, dengan penilaian miris dan negatif.

Nah, soal keberadaan X di luar negeri, juga diakui sumber media ini di jajaran Polda Aceh. “Hasil sementara memang seperti itu, tapi tim cyber crime kami terus memburu dia. Termasuk, orang lain atau temannya yang sepaham dan sejalan dengan perbuatan X di Aceh,” ungkap seorang perwira intelijen di Polda Aceh pada media ini, Senin, 6 April 2020 di Banda Aceh.

Menurut perwira ini, Kapolda Aceh Irjen Pol. Wahyu Widada memberi atensi penuh terhadap laporan tersebut dan meminta agar diusut tuntas.

“Jika tertangkap, si pelaku tak hanya bisa dijerat UU ITE, tapi pasal berlapis. Sebab, perbuatannya berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan rakyat Aceh yang saat ini sudah damai,” ungkap dia.

Walau perkara tersebut adalah delik aduan, tapi memiliki potensi untuk terjadinya perpecahan dan konflik sosial baru di masyarakat. “Itu sebabnya, kami terus memburu dia. Kalau di Indonesia, dimana pun mampu kita ciduk. Tapi bila di luar negeri, tentu sulit. Namun, bisa saja dia masih di Aceh dan mengunakan nomor seluler negara Kanada,” duga perwira tersebut.

Lepas dari semua itu, jika ada pendapat bahwa etika dan sikap netizen di Indonesia serta Aceh, kurang dewasa dalam berekspresi di media sosial (medsos), tentu ada benarnya.

Lihat saja postingan-postingan rasisme tanpa bisa membedakan isu SARA, terus terjadi. Dan, itu berulang kali. Bahkan, ada yang sudah mendapat ganjaran hukuman pidana.

Karena itu, sadar atau tidak, penyakit sosial ini telah melahirkan egoisme, keserakahan, kebencian, perpecahan, kemiskinan hingga terorisme dan konflik sosial. Inilah salah satu penyakit komunal yang mulai masif dan kronis serta bermuara pada egosentris-primordialisme semu di Aceh, paska Aceh damai!

Ini memang bukan paham baru. Sebab, primordialisme merupakan pandangan atau paham yang memegang teguh pada hal-hal yang dibawa sejak kecil, baik mengenai tradisi, adat-istiadat, kepercayaan, maupun segala sesuatu yang ada dalam lingkungan pertama atau tempat kelahiran seseorang.

Primodialisme bisa menimbulkan sifat etnosentris dalam memandang budaya lain. Sementara rasisme, suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan perbedaan biologis, yang melekat pada ras manusia dalam menentukan pencapaian budaya atau individu.

Ironis memang, karena suatu ras tertentu merasa lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur atau bahkan menghina ras lain. Makanya, sifat primodialisme semu dan rasisme tadi dapat menimbulkan dampak positif dan negatif.

Dampak negatif adalah, sering terjadi konflik antar suku dan ras. Namun positifnya, dapat dicapai dengan sikap saling menghargai, dan menjungjung tinggi keberagaman. Tapi, sisi ini justeru nyaris tidak terjadi jika tak elok disebut mulai berharga mahal.

Dari sisi psikologis, seorang pelaku rasis bisa disebut mengalami penyakit mental. Karena, rasisme merupakan suatu tindakan yang dapat merusak hubungan baik antarmanusia. Orang-orang yang melakukan tindakan rasis merasa jika suku atau ras orang lain buruk dan boleh didiskriminasi.

Sejak 1940-an, perilaku rasis diidentikkan dengan kelompok atau orang yang berperilaku buruk dengan orang lain, terutama dengan alasan warna kulit. Penelitian yang dilakukan Alvin Poussaint dari Harvard University Amerika Serikat menyebut, orang rasis memiliki kecenderungan mengidap sakit mental.

Pouissant bersama beberapa psikolog menyebut, rasisme termasuk dalam Manual of Mental Disorder (DSM). Mereka berpendapat, orang-orang rasis mengalami masalah yang bersifat delusional dan ketakutan berlebihan terhadap orang lain (paranoid).

Ada banyak psikiater lain yang mengakui orang-orang semacam ini (rasis) baru dapat memperbaiki pemahamannya, setelah mendapat perawatan mental, terutama mengenai pemahaman soal rasisme itu adalah; salah dan buruk!

Fakta lain, penelitian terhadap Dylann Roof yang membunuh sembilan orang kulit hitam tahun 2015 lalu di Amerika Serikat. Hasil penelitian menunjukkan, Roof mengidap gangguan kepribadian yaitu, schizoid atau gangguan kepribadian yang membuat pengidapnya gemar menyendiri, cenderung bersikap eksklusif, serta cenderung bersikap masa bodoh terhadap reaksi orang lain. Termasuk tidak menggubris ketersinggungan orang lain.

Gangguan ini dapat disembuhkan melalui bimbingan konseling dengan pskiater secara konsisten. Selain itu, keberhasilan proses penyembuhan orang-orang yang mengidap schizoid adalah, diri pasien itu sendiri. Keterbukaan informasi dari pengidap schizoid sangat membantu penanganan psikologis dalam proses penyembuhan pasien.

Selain itu, dalam potret keseharian atau relasi sosial yang terjadi. Para pejabat atau orang kaya, begitu bangga merendahkan orang lain yang berbeda derajat serta kelas sosial dengan diri mereka.

Amerika yang kerap mengampanyekan "equalitas" memiliki catatan buruk dalam perjalanan sejarah rasisme. Pergerakan hak-hak sipil (civil rights movement) merupakan bukti dan catatan sejarah buruk tersebut. 

Kini, abad 21, kecenderungan itu semakin menjadi-jadi. Apalagi politik dunia, Indonesia dan Aceh hampir didominasi right wings (sayap kanan), khususnya mereka yang berideologi white supremacy (kehebatan warga kulit putih). 

Dalam agama Islam, Al-Quran telah mengisahkan sejak awal tentang penciptaan manusia yang bertendensi rasisme. Itu sudah hadir dalam kehidupan masyarakat dengan adanya kecenderungan menilai pihak lain berdasarkan kondisi fisik. 

Kisah perintah Allah SWT kepada Iblis untuk sujud (sebagai penghormatan) kepada Nabi Adam, direspon Iblis dengan sikap rasis: "bagaimana mungkin aku bersujud kepada seseorang yang Engkau ciptakan dari tanah, sedangkan aku Engkau ciptakan dari api,"  kata Iblis.

Membandingkan ciptaan fisik, api, dan tanah liat. Itulah sesungguhnya rasisme Iblis. Dia merasa lebih dan hebat karena fisik, baik itu karena asal penciptaan, bentuk atau warna.

Padahal, Al-Qur’an telah memberi pelajaran. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) itu lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri (maksudnya, janganlah kamu mencela orang lain) Dan, janganlah kamu saling memanggil dengan gelar (yang buruk). Seburuk-buruk panggilan ialah (penggilan) yang buruk (fasik) sesudah iman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” (QS. Al-Hujuraat (49).

 Di sudut lain, munculnya sikap rasisme dan primordialisme  semu dari Panglima Pidie melalui akun facebooknya, merupakan refleksi dari nilai; nobility (mungkin merasa diri kaum bangsawan), yang memiliki nilai 'kehormatan' lebih.

Ironisnya, sadar atau tidak, hingga kini sikap seperti ini masih terjadi di tengah masyarakat kita dan rakyat pun masih memujanya. Padahal, 'nobile' yang berasal dari masa Romawi klasik itu, telah disanggah hingga abad pertenggahan di Eropa.

Sebaliknya, protes moral dan ideologis yang disampaikan Aramiko Aritonang, harus dinilai dan lihat sebagai sebuah sikap mempertahankan 'kehormatan' dan ‘kesatria’.

Kisah ini juga bisa dilihat dalam sekuel 'Robin Hood' atau film 'Three Musketer' yang menunjukkan tentang era munculnya 'nobility' dalam masa Eropa klasik, yang kini telah lenyap.

Nah, rasisme yang berujung pada lahirnya pertentangan kelas, sesungguhnya juga memunculkan 'virtue' (kebajikan). Machiavelli dan John Locke memahaminya dan memberi pesan tentang civalry (kesopanan) bagi kesatria, penjaga kebenaran.

Jadi, apa yang kini dilakukan Aramiko dan sejejer anak muda tanah Gayo tersebut, merupakan gerakan untuk mengembalikan dan membangun 'kehormatan' atau ‘nobile’ bagi kaumnya bernama; Gayo!

Namun sekali lagi, Islam adalah solusi. Termasuk di dalamnya permasalahan rasisme. Lihatlah beberapa langkah Islam dalam memerangi rasisme. Misal, membangun konsep keluarga kemanusiaan yang universal.

Artinya Islam mengajarkan secara universal manusia itu sesungguhnya satu keluarga. "Wahai manusia! Sesungguhnya Kami jadikan kamu dari seorang laki dan seorang wanita. Lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal. Sesungguhnya yang termulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha menyadari”. 

Islam juga memiliki nilai (value) manusia yang tidak ditentukan oleh bentuk fisik dan materi seseorang. Tapi pada tingkatan ketakwaan. Dan ketakwaan hanya terdefinisikan oleh "hati" dan "amal" (karya).

"Tiada kelebihan orang Arab di atas non Arab. Dan, tiada kelebihan non Arab di atas orang Arab. Tiada kelebihan orang putih di atas orang hitam. Serta tiada kelebihan orang hitam di atas orang putih. Kecuali karena ketakwaan mereka”.

Keseluruhan konsep-konsep dasar agama Islam, ditujukan secara sejajar untuk semua manusia. Tuhan dalam Islam itu adalah Tuhan untuk semua manusia (al-alamin atau an-naas). Nabi Muhammad SAW itu adalah rasul untuk semua manusia (al-alamin). Al-Quran adalah petunjuk untuk semua manusia (an-naas). 

Tidak pernah agama Islam menjadi sebuah konsep dasar yang ditujukan hanya untuk orang atau bangsa tertentu. Karenanya, semua manusia sama dan punya peluang sama dalam agama ini. Tidak ada jaminan jika seorang Arab lebih mulia dari orang China dalam ber-Islam. Islamlah yang kemudian menentukan kemuliaan di antara mereka.

Praktik-praktik ritual Islam, mengajarkan kesetaraan dalam kemanusiaan. Salat berjamaah misalnya, tidak membedakan saf antara yang putih dan yang hitam. Atau antara yang kaya dan miskin, atasan dan bawahan. Termasuk banyak contoh lainnya.

Karena itulah, saat dunia semakin terpolarisasi, khususnya dalam hal ras dan etnis, bahkan dijadikan batu loncatan politik oleh sebagian orang. Islam tampil sebagai solusi dari salah satu penyakit dunia dan manusia. 

Boleh jadi dan sah-sah saja, jika tendensi prilaku rasis dari akun Panglima Pidie itu, termotivasi penyakit historis dan sosial, tentang kepemimpinan Pemerintahan Aceh yang saat ini berada di tangan Nova Iriansyah, putra Gayo.

Tapi sekali lagi, apa salah dan dosa saudara kita sehingga akun Panglima Pidie begitu berani dan vulgar menyebut dan mengatakan; “Gayo Anjing”. Apa pun dalilnya tetap salah, baik dari sisi ajaran agama Islam dan hukum di negeri ini. Jadi, berhati-hati dan lebih bijak serta cerdaslah di media sosial.***

Ilustrasi. Foto: wartanasional.com

Lebih Bijak Agar tak Terjerat

Ada sejumlah pasal dalam KUHP yang menjerat perbuatan pidana. Misal, provokasi dan hasutan. Namun ada undang-undang lain yang secara spesifik mengaturnya. Jadi, berhati-hatilah!

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008, tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis

Pasal 4
Tindakan diskriminatif ras dan etnis berupa:

  1. Memperlakukan pembedaan, pengecualian, pembatasan, atau pemilihan berdasarkan pada ras dan etnis, yang mengakibatkan pencabutan atau pengurangan pengakuan, perolehan, atau pelaksanaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam suatu kesetaraan di bidang sipil, politik, ekonomi, sosial, dan budaya; atau
  2. Menunjukkan kebencian atau rasa benci kepada orang karena perbedaan ras dan etnis yang berupa perbuatan:
    1. Membuat tulisan atau gambar untuk ditempatkan, ditempelkan, atau disebarluaskan di tempat umum atau tempat lainnya yang dapat dilihat atau dibaca oleh orang lain;
    2. Berpidato, mengungkapkan, atau melontarkan kata-kata tertentu di tempat umum atau tempat lainnya yang dapat didengar orang lain;
    3. Mengenakan sesuatu pada dirinya berupa benda, kata-kata, atau gambar di tempat umum atau tempat lainnya yang dapat dibaca oleh orang lain; atau
    4. Melakukan perampasan nyawa orang, penganiayaan, pemerkosaan, perbuatan cabul, pencurian dengan kekerasan, atau perampasan kemerdekaan berdasarkan diskriminasi ras dan etnis.

Pasal 16
Setiap orang yang dengan sengaja menunjukkan kebencian atau rasa benci kepada orang lain berdasarkan diskriminasi ras dan etnis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf b angka 1, angka 2, atau angka 3, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000 (lima ratus juta rupiah).

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008, tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Pasal 28 Ayat 2
Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Acaman pidana dari pelanggar pasal 28 ayat 2 UU ITE ini diatur dalam pasal 45 ayat 2 UU ITE yaitu penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau dena paling banyak Rp 1.000.000.000 (satu miliar rupiah)

Pasal 45
Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) atau ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.000.000.000 (satu miliar rupiah).***