Banyak yang tertawa dan mencibir ketika Bupati Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh Roni Ahmad (Abusyiek) menyebut, virus corona (Covid-19) adalah senjata biologis. Akibatnya, Abusyiek mencabut dan meminta maaf atas pernyataan tersebut. Lantas, adakah yang salah dari pendapat pribadi Abusyiek? Mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad menyatakan demikian, sementara mantan Menteri Kesehatan RI Siti Fadillah Supari sempat bersiteru dengan WHO karena masalah virus dan vaksin flu burung. Berikut laporan wartawan MODUS ACEH, Muhammad Saleh.

Saya benar-benar mohon maaf kepada orang tua saya, juga masyarakat-masyarakat saya di Kabupaten Pidie. Terutama sekali kepada Bapak Presiden juga semuanya kabinet negara kita

Roni Ahmad (Abusyiek) Bupati Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh

Jika ada yang berkata; kurang tepat! Mungkin saja pendapat ini benar. Apalagi jika disandarkan pada kemampuan ilmu pengetahuan, khususnya dunia kedokteran dan kimia dasar. Termasuk komunikasi atau cara penyampaian.

Namun, mengklaim pernyataan Bupati Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, Roni Ahmad atau akrab dipanggil Abusyiek bahwa, virus corona (Covid-19) adalah bagian senjata biologis, juga belum tentu salah.

Lihat saja pendapat beberapa pimpinan dunia yang saat ini sedang bersiteru. Misal, Presiden Amerika Serikat Donald Trump versus pemimpin Tiongkok Xi Jingping. Trump sempat menuding sepihak, virus mematikan ini merupakan produk Tiongkok. Sebaliknya, mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad menyebut, virus corona adalah bagian dari "perang biologis" yang sedang dimainkan negara adi kuasa tersebut.

Itu sebabnya, Abusyiek pun mendadak terkenal dan viral di media sosial (medsos) serta media daring. "Virus corona ini berasal daripada senjata biologis. Jadi, senjata biologis sudah masuk ke dalam ranah teknologi elektronik," kata Roni Ahmad, Kamis, 2 April 2020 malam di Kota Sigli.

Saat itu, Abusyik sedang meninjau Posko Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie.

"Jadi kalau menurut saya, Pak Kadis Kesehatan ya, virus corona ini berasal daripada senjata biologis. Jadi senjata biologis sudah masuk ke dalam ranah teknologi elektronik," kata Roni Ahmad dalam rekaman video berdurasi 4.48 menit dan diunggah ke kanal YouTube Fajri Official.

Dia menambahkan, "Jadi jarak kerjaannya dia yang pertama kali yang mendukung faktor dia bisa bekerja adalah salah satunya adalah listriknya, pembangkitnya, listrik, dia sama"

Menurut penuturan Abusyiek, senjata biologis itu pada dasarnya digunakan negara-negara yang rakyat sudah membludak. "Yang kedua senjata ini digunakan pada saat terjadinya perang dunia ketiga. Ini senjata kimia. Inilah yang dinamakan senjata kimia," tambahnya.

Untuk menangani virus corona ini, Abusyiek mengaku siap melakukan penguncian wilayah atau lockdown jika ada warganya yang terjangkit. "Kalau kita mau putuskan tali rantai merebaknya virus tersebut. Kalau saya, seandainya ini merebak di rakyat saya, masyarakat saya, orang tua saya, anak-anak saya, yang ada di Kabupaten Pidie ini, saya tidak peduli siapa dia, kalau tiba waktunya apa pun bisa lockdown," tegas Abusyiek.

Abusyik mengibaratkan Covid-19 ini seperti maop. Dalam pengertian bahasa Aceh, maop itu panggilan untuk roh halus seperti jin, hantu atau sejenisnya. "Apakah Anda takut sama maop, tentunya takut bukan, tapi kita tidak melihat maop. Begitu juga dengan virus, kita tidak bisa melihat tetapi sangat menakutkan," kata Abusyik di depan sejumlah pejabat Pemkab Pidie.

Karena itu, dia meminta kepada Sekda Pidie, Idhami, Sekwan Sayuti dan sejumlah pejabat lainnya di Kabupaten Pidie, tidak takut dengan virus dan jangan menakuti rakyat.

"Tapi mari kita lawan corona dengan cara cari tahu dulu dari mana asalnya virus itu dan bagaimana masuk dalam tubuh manusia. Setelah kita tahu baru bisa dilakukan pencegahan," ucapnya.

Begitupun, tak sampai satu kali 24 jam setelah video yang menghebohkan warga ini beredar. Bupati Pidie, Roni Ahmad (Abusyik) akhirnya minta maaf atas pernyataannya yang menyebut virus corona berasal dari senjata biologis dan senjata kimia.

Abusyik menjelaskan, dirinya juga tidak mengetahui persis bentuk senjata biologis. Namun dia hanya membacanya dari buku dan novel.

"Maka berdasarkan pernyataan saya, malam ini saya benar-benar mohon maaf kepada orang tua saya, juga masyarakat saya di Kabupaten Pidie. Terutama sekali kepada Bapak Presiden juga semuanya kabinet negara kita," kata Abusyik.

Permintaan maaf itu dituturkan Abusyik melalui rekaman video berdurasi 5 menit 1 detik dan beredar luas di aplikasi percakapan.

Menurut Abusyik, dia menyebut virus corona sebagai senjata biologis karena merasa tidak mendapat jawaban ketika menanyakan tentang virus Corona kepada dokter dan kepala dinas di Satuan Kerja Perangkat Kabupaten (SKPK) Pidie.

Akibatnya, itu diutarakan berdasarkan prediksinya bawah virus Corona berasal dari senjata biologis. "Maka kalau ditanya saya bagaimana senjata biologis, saya juga tidak pernah dengar, tidak pernah lihat, tapi hanya saya liat di buku, saya baca novel-novel, tapi bagaimana bentuk barangnya saya juga tidak tahu," tutur dia.

"Maka sekali lagi saya mohon maaf atas kelancangan saya mengatakan virus itu adalah dari senjata biologis," kata dia yang kemudian beredar di chanel YouTube dan dishare ke grup-grup WhatsApp sejak menjelang tengah malam, Sabtu, 4 April 2020.

Nah, adakah yang salah dari dugaan Abusyiek tadi? Lihatlah laporan bbcindonesia.com, 26 Maret 2020 lalu. Presiden Amerika Serikat Donald Trump, malah beberapa kali memilih menyebut virus corona sebagai "virus China". Sementara Menteri Luar Negeri Mike Pompeo menyebutnya "virus Wuhan", sehingga membuat Beijing tersinggung.

Dikutip dari laman KOMPAS.COM

Presiden dan Menteri Luar Negeri AS itu juga mengecam China, karena kegagalannya dalam penanganan awal wabah tersebut. Tetapi juru bicara China sama sekali menolak gagasan bahwa mereka kurang transparan tentang apa yang sedang terjadi.

Sementara itu, media sosial di China telah menyebarkan berita bahwa, pandemi tersebut disebabkan program militer AS; rumor yang mendapat daya tarik yang cukup besar. Padahal tulis bbc.com, para ilmuwan telah menunjukkan struktur virus sepenuhnya alami.

Namun, semua ini ternyata bukan hanya perang narasi, tetapi ada sesuatu yang lebih mendasar sedang terjadi.

Awal bulan ini, ketika AS mengumumkan akan menutup perbatasannya untuk pelancong dari banyak negara Uni Eropa, termasuk Italia. Pemerintah China justeru mengumumkan akan mengirim tim medis dan pasokan ke Italia, negara yang menjadi pusat pandemi virus corona. China juga telah mengirim bantuan ke Iran dan Serbia.

Itu adalah simbol yang besar dan mengindikasikan pertempuran informasi yang sedang terjadi di balik layar, dengan Cina yang ingin keluar dari krisis ini dengan status baru sebagai pemain global.

Memang, pertempuran AS saat ini kalah telak. Pengiriman fasilitas medis Angkatan Udara AS yang terlambat bergerak ke Italia, hampir tidak akan mengubah keadaan. Sebaliknya, China telah mengirimkan peralatan medis dan petugas untuk membantu negara-negara terdampak. Ini adalah momen ketika pemerintahan dan sistem politik di seluruh dunia diuji dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Karena itulah, kepemimpinan menjadi kunci. Sebab, para pemimpin politik akan dinilai tentang cara mereka memanfaatkan momen itu; kejelasan rencana dan efisiensi yang mereka gunakan untuk mengumpulkan sumber daya negara mereka, merespons pandemi.

Selain itu, pandemi virus corona terjadi saat hubungan AS-China sedang surut. Kesepakatan perdagangan parsial hampir tidak terpampang karena ketegangan antara kedua negara ini. Baik China maupun AS, tengah mempersenjatai diri kembali, secara terbuka mempersiapkan konflik di Asia Pasifik di masa mendatang.

China muncul, setidaknya dalam konteks regional, sebagai kekuatan super militer dan kini China menghendaki status lebih luas lagi di kancah internasional. Nah, pandemi itu kemudian mengancam hubungan AS-China ke tingkat yang lebih sulit. Ini bisa memiliki pengaruh penting bagi keberlangsungan krisis dan dunia.

Ketika virus ini dikalahkan, kebangkitan ekonomi China akan memainkan peran penting dalam membantu membangun kembali ekonomi global yang hancur. Tetapi untuk saat ini, bantuan Cina sangat penting dalam memerangi virus corona.

Data dan pengalaman medis terus dibagikan. China juga merupakan produsen besar peralatan medis dan barang sekali pakai seperti masker dan pakaian pelindung, yang penting untuk menangani pasien terinfeksi dan barang yang diperlukan dalam jumlah sangat banyak

Dalam banyak hal China, merupakan bengkel manufaktur medis dunia, yang mampu memperluas produksi dengan cara yang hanya dilakukan beberapa negara. Selain itu, China telah mengambil peluang ini, namun menurut kritikus Presiden Trump, dialah yang telah menjatuhkan bola.

Di sudut lain, Xi Jingping sangat ingin mengamankan reputasi Tiongkok di panggung global. Pemerintahan Trump awalnya gagal merespons krisis yang serius dan menganggapnya sebagai kesempatan lain untuk menegaskan "America First" dan keunggulan dari sistemnya. Namun, yang dipertaruhkan sekarang adalah kepemimpinan global.

Dua pakar Asia, Kurt M Campbell, yang menjabat sebagai asisten Menteri Luar Negeri untuk urusan Asia Timur dan Pasifik selama pemerintahan Barrack Obama dan Rush Doshi, dalam sebuah artikel baru-baru ini yang diterbitkan Foreign Affairs menyebut: "Status Amerika Serikat sebagai pemimpin global selama tujuh dekade terakhir telah dibangun tidak hanya pada kekayaan dan kekuasaan tetapi juga, dan sama pentingnya, pada legitimasi yang mengalir dari pemerintahan domestik Amerika Serikat, penyediaan barang publik global, dan kemampuan dan kemauan untuk mengumpulkan dan mengoordinasikan respons global terhadap krisis.

Pandemi virus corona, kata mereka, "sedang menguji ketiga elemen itu dalam kepemimpinan Amerika. Sejauh ini, Washington telah gagal dalam ujian dan Beijing bergerak cepat dan mahir memanfaatkan situasi, mengisi kekosongan untuk tampil sebagai pemimpin global dalam respons pandemi."

Banyak yang mungkin bertanya-tanya bagaimana China dapat mencari keuntungan pada saat ini? Campbell dan Doshi menyebutnya "Chutzpah", mengingat di China pandemi ini tampaknya berasal.

Tanggapan awal Beijing terhadap krisis yang berkembang di Wuhan bersifat tertutup. Namun, sejak itu, ia telah mengelola sumber dayanya yang luas secara efektif dan mengesankan.

Seperti yang ditulis Suzanne Nossel, CEO PEN America, sebuah organisasi kebebasan pers di Amerika, di situs Foreign Policy: "Takut bahwa penolakan awal dan salah kelola wabah dapat memicu kerusuhan sosial. Beijing sekarang telah memasang propaganda kampanye domestik dan global yang agresif untuk menggembar-gemborkan pendekatan kejamnya terhadap epidemi, mengecilkan perannya dalam memicu wabah global, dan membandingkan upaya-upayanya dengan yang menguntungkan pemerintah-pemerintah barat dan khususnya Amerika Serikat".

Banyak komentator barat melihat China menjadi lebih otoriter dan nasionalis, serta takut tren ini akan dipercepat oleh dampak pandemi dan perlambatan ekonomi. Tetapi dampak pada kedudukan global Washington bisa lebih besar.

Sekutu Amerika sedang memperhatikan. Mereka mungkin tidak mengkritik administrasi Trump secara terbuka, tetapi banyak yang memiliki perbedaan yang jelas mengenai sikap terhadap China; keamanan teknologi China (kontroversi Huawei); dan tentang Iran dan masalah regional lainnya.

China menggunakan jaringannya dalam penanganan pandemi untuk mencoba menetapkan parameter hubungan dengan negara-negara lain di masa depan. Mungkin di mana China cepat menjadi "kekuatan penting".

Keterkaitan dalam kampanye kontra-virus corona dengan tetangga dekat yaitu, Jepang dan Korea Selatan  serta penyediaan peralatan kesehatan yang penting bagi UE, dapat dilihat dari sudut pandang ini.

Campbell and Doshi, dalam tulisan mereka di Foreign Affaris, membuat perbandingan eksplisit dengan penurunan peran Inggris di dunia internasional. Mereka mengatakan, operasi Inggris yang gagal tahun 1956 untuk merebut Terusan Suez "menelanjangi pembusukan kekuasaan Inggris dan menandai berakhirnya pemerintahan Inggris sebagai kekuatan global".

"Hari ini," kata mereka, "pembuat kebijakan AS harus mengakui bahwa jika Amerika Serikat tidak bangkit untuk menghadapi momen tersebut, pandemi virus corona dapat menandai 'momen Suez' yang lain.

Namun berbeda dengan siteru Amerikat Serikat yaitu Iran. Negara ini justeru menuding dan mengecam negara adi kuasa itu. Seperti diwartakan CNBC Indonesia, 6 Maret 2020 lalu. Komandan Korps Pengawal Revolusi Iran (IRGC) mengatakan, virus corona mungkin merupakan senjata biologis dari Amerika Serikat (AS).

Dalam pemberitaan The Jerusalem Post yang dikutip Fox News, Mayor Jenderal Hossein Salami mengatakan, virus itu mungkin produk dari "invasi biologis Amerika".

Berita ini pun dimuat dalam Twitter Iranian Student News Agency (ISNA). Ia pun meyakini negerinya akan memenangkan peperangan melawan virus ini. "Kami akan memenangkan perang melawan virus #corona yang mungkin merupakan produk dari invasi biologis Amerika," ujarnya.

"Tahun ini adalah tahun Nasr dan tahun Zafar, beberapa kemanangan tidak dapat dipungkiri."

"Keamanan negara tidak tertandingi berkat pimpinan tertinggi (Ayatollah Khamenei) di dunia."

Tapi, banyak pihak berpendapat, virus corona bukan senjata biologis buatan AS. Melainkan penyakit yang berasal dari pasar di kota Wuhan, China dan kini tersebar di 80 lebih negara.

Selain China daratan, negara Iran dan Italia memiliki angka kematian tertinggi. Menurut angka terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Iran mencatat 2.922 kasus, 92 kasus diantaranya telah berakibat fatal.

Iran sendiri berada di ambang kekacauan akibat wabah virus corona. Bagaimana tidak, sebanyak 8 persen anggota parlemen Iran ternyata tertular virus SARS-CoV-2 dari penyakit COVID-19.

Sebanyak 23 dari 290 anggota Dewan Perwakilan Rakyat Iran (Majlis) dilaporkan positif tertular virus corona. Parlemen langsung ditangguhkan tanpa batas waktu, dan anggotanya diminta untuk berhenti bertemu dengan publik.

Iran memang menjadi satu-satunya negara yang memiliki banyak pejabat pemerintah yang terinfeksi virus corona.

Mantan Presiden Iran

Wakil Presiden Masoumeh Ebtekar, Wakil Menteri Kesehatan Iraj Harirchi, Kepala Badan Darurat Nasional Pirhossein Kolivand, dan Kepala Komite Keamanan Nasional Parlemen dan Hubungan Luar Negeri Mojtaba Zolnour dinyatakan positif terkena virus corona.

Bahkan penasihat utama Ayatollah Ali Khamenei, yakni Mohammad Mirmohammadi meninggal akibat tertular virus tersebut. Selain itu, ada kekhawatiran bahwa Iran tidak melaporkan jumlah orang yang terinfeksi di dalam perbatasannya, karena tingkat kematian akibat infeksi tersebut naik sekitar 4 persen lebih signifikan dan lebih tinggi daripada di negara lain.

Mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad menyebut, virus corona adalah bagian dari "perang biologis". Itu disampaikan Mahmoud Ahmadinejad dalam surat terbuka kepada Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengenai virus corona.

Dalam surat yang diunggahnya di Twitter, Ahmadinejad menyatakan; corona adalah "perang biologis", dan meminta badan PBB itu menginvestigasi laboratorium yang bertanggung jawab.

Mahmoud Ahmadinejad sama sekali tidak menyertakan bukti klaimnya di surat terbuka kepada Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus. Dilansir Newsweek Rabu (11/3/2020), mantan Presiden Iran berusia 63 tahun itu menyembulkan teori konspirasi bahwa virus corona merupakan senjata biologis.

Berbagai klaim muncul ketika virus dengan nama resmi SARS-Cov-2 itu mulai merebak di Wuhan, China, pada Desember tahun lalu. Salah satu yang paling terkenal adalah anggapan bahwa patogen itu adalah buatan laboratorium militer China yang berlokasi di Wuhan.

Teori konspirasi lain yang muncul adalah, fakta bahwa Iran dan China mengalami dampak besar karena virus adalah plot dari Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data yang dipaparkan Center for Systems Science and Engineering Universitas John Hopkins, terdapat 9.000 kasus innfeksi di Iran.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.959 di antaranya berhasil sembuh. Meski begitu, 354 orang dilaporkan meninggal karena SARS-Cov-2. Dalam kicauannya sembari mengunggah surat kepada Tedros, Ahmadinejad memuji WHO yang terus berkomitmen memelihara umat manusia.

Politisi yang pernah berkuasa sejak 2005 hingga 2013 itu mengakui, sejumlah negara tidak bertindak cukup cepat yang berakibat virus itu mewabah. Namun, dia menyebut, pembawa virus tersebut adalah laboratorium yang tidak diketahui.

"Pihak yang bertanggung jawab menyebabkan perang biologis ini tak boleh dikesampingkan," katanya. Ahmadinejad kemudian mendesak WHO untuk mengientifikasi laboratorium yang memproduksi sekaligus menyebarkannya, termasuk kelompok yang mendukung "senjata biologis ini".

Dia menuturkan, diperlukan penyebaran informasi yang tidak memihak mengenai para pelaku yang menyebarkan virus ini demi mengendalikan wabah. "Saya tak ragu berkata mobilisasi publik dari pemerintah negara isa mengisolasi penjahatnya, dan melindungi manusia dari penyakit ini," jelasnya. Dan, tak lama kemudian WHO mengumumkan virus corona sebagai pandemi global. Artinya patogen itu sudah menyebar ke berbagai tempat di seluruh dunia.

Nah, apa yang diungkap Mahmoud Ahmadinejad, seketika mengingatkan kita pada sosok mantan Menteri Kesehatan (Menkes) era Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY, Siti Fadilah Supari. Namanya sempat dikaitkan dengan virus Flu Burung yang menewaskan sejumlah orang di Indonesia ketika itu.

Siti Fadilah Supari juga dikaitkan dengan konspirasi Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization/WHO dengan Amerika Serikat. Konspirasi WHO-AS terkait pengambilan sampel virus Flu Burung dari Indonesia dan dugaan pembuatan senjata biologi.

Entah karena kondisi dan fakta inilah, akhirnya menyita perhatian mantan Wakil Ketua DPR Periode 2014-2019, Fahri Hamzah. Melalui akun pribadinya @Fahrihamzah, Rabu (18/3/2020) malam dia menyebut.

"Siti Fadilah Supari seorang jenius Indonesia yang menjadi korban konspirasi jahat," tulis Fahri menjelaskan siapa Siti Fadilah Supari, mantan Menkes pada era Presiden SBY, yangi dilantik menjadi Menkes pada 21 Oktober 2004.

Fahri Hamzah

Saat ini, Siti Fadilah Supari yang berusia 71 tahun, masih mendekam di penjara terkait vonis Pengadilan TIndak Pidana Korupsi (Tipikor), dalam kasus dugaan korupsi alat kesehatan di lembaga yang dipimpinnya kala itu, yakni Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Siti Supari pernah berselisih atau konflik dengan WHO karena menolak pengambilan sample virus Flu Burung dari Indonesia oleh WHO. Bahkan, dirinya berani memutuskan untuk mengakhiri pengiriman virus flu burung ke laboratorium WHO pada November 2006, karena ketakutan akan pengembangan vaksin yang lalu dijual ke negara-negara berkembang.

Pada tanggal 6 Januari 2008, Siti Fadilah merilis buku “Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung”. Isinya, mengenai konspirasi Amerika Serikat dan WHO dalam mengembangkan "senjata biologis" dengan menggunakan virus flu burung.

Karena konspirasi WHO dan Amerika Serikat itulah, dalam pandangan Fahri Hamzah, Siti Fadilah Supari menjadi korban dan dijebloskan ke penjara.

Untuk itu, Fahri Hamzah yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Umum DPN Partai Gelora Indonesia itu, melalui surat terbukanya meminta kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto untuk membebaskan Siti Fadilah Supari.

"Yang terhormat Pak  Jokowi dan Pak  Prabowo, ini waktunya Bapak membebaskan Ibu Siti Fadhilah Supari, seorang jenius Indonesia yang menjadi korban konspirasi jahat. Ia menjadi dosen, menjadi ahli dan memimpin penelitian di berbagai lembaga akademik puluhan tahun," tulisnya.

Fahri juga menuturkan kalau Siti Fadila Supari dipilih sebagai kader Muhammadiyah. Umurnya sekarang hampir 71 tahun, dan kini masih mendekam di penjara. Bahkan, Fahri mengaku menyaksikan kesederhanaannya, sehingga akhirnya Presiden SBY dan Wapres Jusuf Kalla saat itu, yang bersangkutan dipercaya menjadi Menteri Kesehatan dan dilantik tanggal 21 oktober 2004.

"Sejak dilantik beliau yang sederhana ini sangat peduli dengan kesehatan rakyat. Ia juga peduli dengan isu kesehatan sebagai ketahanan nasional. Pandangan ini membuatnya sangat berhati-hati dengan kegiatan pihak luar, termasuk WHO dalam mengambil sumberdaya nasional kita," bebernya.

Bahkan, masih menurut Fahri yang mengutip data-data dari wikipedia tentang sepak terjang Siti Fadilah yang beranai mengakhiri pengiriman virus flu burung ke laboratorium WHO pada November 2006, karena ketakutan akan pengembangan vaksin yang lalu dijual ke negara-negara berkembang.

"Ini menimbulkan ketegangan. Setelah itu, ia berusaha mengembalikan hak Indonesia, pada 28 Maret 2007, Indonesia mengumumkan bahwa mereka telah mencapai kesepakatan dengan WHO untuk memulai pengiriman virus dengan cara baru untuk memberikan akses vaksin terhadap negara berkembang," kutip Fahri yang juga menuliskan hastag #BebaskanSitiFadilah.

Bukan itu saja, Fahri juga mengatakan kalau pada tanggal 6 Januari 2008, Siti Fadilah merilis buku berjudul; “Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung”, yang berisi mengenai konspirasi Amerika Serikat dan WHO dalam mengembangkan "senjata biologis" dengan menggunakan virus flu burung.

"Bukunya (Siti Fadila) dianggap membongkar konspirasi WHO dan AS. Siti Fadilah 'membuka kedok" World Health Organization (WHO) yang telah lebih dari 50 tahun mewajibkan virus sharing yang ternyata banyak merugikan negara miskin dan berkembang asal virus tersebut. Buku ini menuai protes dari petinggi-petinggi WHO dan AS, sehingga menarik buku dalam edisi Bahasa Inggris dari peredaran untuk dilakukan revisi. Sedangkan buku edisi Bahasa Indonesia masih beredar dan memasuki cetakan keempat," ungkap mantan kader PKS ini. Nah, masihkah harus harus mecibir dan mentertawakan Abusyiek?

Movie the flu.

Dari The Flu Hingga Contagion

Sebenarnya, antara berbagai fakta dan asumsi tadi, sudah akrab dalam keseharian kita. Sadar atau tidak, berbagai produk sinematografi (film) karya sutradara dunia. sesungguhnya telah ikut “menyandra” alam bawah sadar kita hingga ke kamar tidur.

Nah, tonton kembali film The Flu/Gamgi (2013). Film layar lebar karya sutradara sekaligus penulis Kim Sung Su ini, mengangkat tema penyakit yang membuat para penonton larut daam permainan emosi.

Film ini mengisahkan tentang imigran gelap yang diselundupkan melalui kontainer dan dibawa ke wilayah Bundang Korea Selatan.

Budang merupakan kota kecil yang terletak di pinggiran Seoul. Hampir seluruh penduduk di sana terserang wabah H5N1 atau lebih dikenal dengan flu burung.

Virus tersebut dibawa oleh kontainer yang berisikan tumpukan mayat imigran gelap asal Filipina dan cepat menular melalui udara.

Byung Ki (Lee Hee Joon) dan Byung Woo (Lee Sang Yeob) adalah kakak beradik yang ingin membebaskan para imigran yang terjebak di kontainer pengiriman itu.

Namun, saat mereka membuka kontainer tersebut, keduanya mendapati semua imigran sudah tak bernyawa kecuali satu orang.  Dalam kurun waktu 36 jam virus tersebut sudah merenggut nyawa ribuan orang yang terinfesi setiap jamnya melalui udara.

Di tengah kepanikan puluhan korban yang harus mempertahankan kehidupannya, Kim In Hae (Soo Ae) sebagai seorang dokter berusaha untuk mencari tahu penyakit apa yang menjadi wabah mengancam kota tersebut.

Ia juga panik sebab sang anak Kim Mi Rae (Park Min Ah) juga terserang gejala dengan tingkat kematian 100 persen itu. Ditambah lagi karena sang anak harus masuk karantina yang berisi semua orang yang terjangkit penyakit flu burung itu. Tentu perasaan In Hae sebagai seorang ibu pun campur aduk.

Namun, dengan bantuan petugas pemadam kebakaran bernama Kang Ji Koo (Jang Hyuk), In Hae menyoba mencari tahu bagaimana cara menghentikan wabah yang menyerang sebagian Korea Selatan, bahkan seluruh dunia.

Seperti menjawab keresahan masyarakat akan virus yang terjangkit di lingkungannya. Film ini terasa kompleks dan sempurna ketika Presiden Korea Selatan (Cha In Pyo) dan PBB turut campur tangan.

Ada juga film Fatal Contact: Bird Flu in America (2006). Alkisah, tiga tahun pasca gemparnya virus flu burung di seluruh dunia, chanel ABC membuat sebuah film yang menceritakan betapa berbahayanya virus itu.

Selama dua jam, penonton diajak untuk mengetahui bagaimana nasib masyarakat setelah munculnya virus itu.

Syahdan, seorang pebisnis Amerika mengunjungi China dan dia terinfeksi virus mematikan itu. Ditambah, virus yang belum ada penawar tersebut mudah tersebar dari manusia ke manusia.

Kepanikan melanda Amerika. Bahkan, kota sebesar New York sempat chaos dan kerusuhan terjadi di mana-mana. Mereka juga kekurangan bahan makanan, suplai obat-obatan hingga listrik.

Film ini dimainkan Joely Richardson sebagai menjadi Dr, Iris Varnack sementara Stacy Keach memerankan Collin Reed, Ann Cusack menjadi Denise Connelly dan Justina Machado menjadi Alma Ansen.

Tahun 2002 lalu, juga bereda film 28 Days Later. Film ini juga mengisahkan tentang virus yang menyebar di suatu kota, tepatnya London. Kasus berawal dari aktivis hewan Inggris mulai memcoba membebaskan simpanse dari laboratorium yang digunakan untuk penelitian medis.

Mereka mengabaikan peringatan dari staf laboratorium bahwa simpanse itu menjadi subuek virus Rage. Ketika peringatan diabaikan virus pun mulai menginfeksi para aktivis beserta para ilmuan.

Virus Rage menyebar sangat cepat dan mengubah korbannya menjadi monster tak terkendali dalam sekejap.

Sekitar dua puluh delapan hari, seorang kurir bernama Jim terbangun dari koma di suatu rumah sakit.

NET

Ia pun diijinkan untuk keluar dari rumah sakit. Namun, ia mendapati London sangat sepi dan tak ada jejak atau tanda terjadinya bencana.

Jim berteriak ke sana dan kemari yang mungkin masih ada. Tapi, tak ada satu pun orang yang bisa ia jumpai.

Saat itu ia menemukan gereja yang berisi monster hingga akhirnya Jim bertemu dengan Selena dan Mark. Hanya mereka yang tersisa dan membawa Jim ke tempat persembunyian. Selena dan Mark menjelaskan pada Jim ketika ia koma, sebuah virus menyebar tak terkendali dan mengubah para warga menjadi pemangsa.

Tentu, masih belum begitu lekang dari ingatan, jika Anda sudah menontong film Contagion yang dirilis 2018 lalu. Film ini  karya sutradara Steven Soderbergh dan dibintangi Gwyneth Paltrow, Jude Law dan Matt Damon, yang ini disebut-sebut memiliki kronolgi sama dengan virus Corona yang sedang merebak.

Film ini menceritakan bagaimana pemerintah Amerika Serikat berupaya untuk mencegah penyebaran virus yang sudah menewaskan jutaan orang di dunia.

Cerita tersebut berkisah tentang Beth Emhoff (Gwyneth Paltrow) yang baru saja kembali ke Chicago usai perjalanan bisnis dari Hong Kong. Ia pun tampak terserang flu saat tiba di rumahnya. Bahkan kondisinya semakin memburuk.

Sang suami, Mitch (Matt Damon), kemudian membawanya ke rumah sakit namun nyawanya tak tertolong.

Putranya, Clark, pun terkena penyakit yang sama dan meninggal dunia. Karena kondisi tersebut, Mitch dikarantina dan dilepaskan usai dinyatakan bebas virus tak dikenal itu. Pemerintah pun berupaya untuk mencari asal virus tersebut dan juga anti-virusnya.

Dalam film tersebut diceritakan jika virus itu merupakan campuran antara virus yang menyerang kelelawar dan babi, sehingga membuat sulit dikenali dan diidentifikasi.

Sementara Corona virus disebut muncul pada pasar makanan laut Huanan yang terdapat lebih dari 100 varietas hewan yang dijual di sana, termasuk hewan liar seperti kalelawar, tikus, dan babi.***