Banyak cerita yang dihimpun dari berbagai sumber. Ini soal kisah Sengkuni yang tidak pernah basa basi, memperlihatkan wajah politiknya yang diakuinya tidak beradab. Sebaliknya, dia bukan tipe politikus yang menyembunyikan sesuatu atau munafik dan berani pasang badan menghadapi penistaan. Adakah sosok itu di DPR Aceh?

Sengkuni tidak pernah basa-basi memperlihatkan wajah politiknya yang diakuinya tidak beradab. Dia bukan pula tipe politikus yang menyembunyikan sesuatu atau munafik dan berani pasang badan menghadapi penistaan.

ROADMAP dan agenda setting. Begitulah yang sering diucap Ketua DPR Aceh Dahlan Jamaluddin pada awak media, saat menjelaskan berbagai pola kerja lembaga yang dipimpinnya itu.

Sekilas, istilah ini memang luar biasa. Tapi bagi yang paham politik, ucapan Dahlan memang bercabang.

Tertuju pada satu tujuan yang disembunyikan, dari wajah politik saat ini dan sedang dipertontonkan para wakil rakyat di sana kepada publik.

Nah, itulah yang kemudian mengakibatkan kepercayaan rakyat terhadap anggota dewan mulai tergerus jika tak elok disebut beransur pudar.

Misal, bagaimana nasib dan perjalanan panitia khusus (Pansus) Proyek Gedung Oncololy RSUZA Banda Aceh? Penyaluran kredit Rp83 miliar dari PT. Bank Aceh Syariah (BAS) kepada pengusaha Makmur Budiman serta proyek pengadaan barang dan jasa.

Sebelumnya, ada juga Pansus LKPJ Gubernur Aceh dan LHP BPK RI 2019 serta proyek multy years, yang berujung pada munculnya hak interpelasi terhadap Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah.

Termasuk melaporkan semua itu ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Jakarta.

Maklum, meski dewan (DPR Aceh) menarasikan pansus dan hak interpelasi untuk memperkuat fungsi legislasi, anggaran dan pengawasan.

Tapi rakyat tetap saja melengos. Ini kisah lama yang terus berulang pada setiap periode anggota DPR Aceh.

Itu sebabnya, sejumlah elemen masyarakat Aceh malah mencurigai pansus dan hak interpelasi yang diusung itu

Tak lebih sebagai kuda troya bagi anggota dewan untuk memuluskan lobi mereka, mendapatkan porsi dari APBA.

Maknanya, di mata rakyat Aceh, ada “watak tidak jujur” yang sedang dimainkan sejumlah anggota DPRA. Antara hati dan apa yang diucapkan serta tindakan justru berbeda.

Kata lain, karakter mereka tak jelas sehingga menimbulkan perasaan was was bagi sebagian elemen masyarakat sipil Aceh, yang masih berharap tata kelola Pemerintah Aceh berjalan on the track!

Tapi, harapan itu sepertinya masih teka-teki jika tak elok disebut; tanda tanya besar.

Sebab, bukan tak mungkin ada Sengkuni yang sedang bermain di tubuh DPR Aceh. Ini adalah satu contoh buruk politikus culas dalam cerita perwayangan Jawa.

Sebagai alumni Universitas Widya Mataram (UWM) Yogjakarta. Dahlan tentu amat sangat paham dengan kisah dan cerita Sengkuni.

Alkisah, Trigantalpati, elit Astina pada rezim Kurawa, yang kondang dengan nama Sengkuni.

Ini bukan tertumpu pada mazhab pragmatisme yang ia usung, melainkan pada ‘kejujurannya’ dalam berpolitik.

Sengkuni tidak pernah basa-basi memperlihatkan wajah politiknya yang diakuinya tidak beradab.

Dia bukan pula tipe politikus yang menyembunyikan sesuatu atau munafik dan berani pasang badan menghadapi penistaan.

Kisahnya adalah, asa politik Sengkuni bersemai ketika suatu hari kakaknya, Gendari, yang dinikahi Drestarastra, memintanya mencari cara agar salah satu dari 100 anaknya menjadi raja.

Kala itu, tampuk kekuasaan Astina dipegang Pandu Dewanata, adik kandung Drestarastra. Drestarastra ialah putra sulung raja sebelumnya, Kresnadwipayana.

Dia berhak menggantikan ayahnya sebagai raja. Namun, ia menolaknya karena alasan matanya tidak bisa melihat (buta).

Ia legawa tidak duduk di singgasana dan mempersilakan adiknya, Pandu, meneruskan estafet kepemimpinan di Astina.

Dalam sejarah Astina, praktik politik ini memang dipenuhi keadaban. Dan, pada gilirannya, negara dan daerah stabil, rakyat pun hidup rukun, dan sejahtera.

Ketua DPRA, Dahlan Jamaluddin didampingi anggota DPRA, menyerahkan dokumen laporan terhadap Pemerintah Aceh kepada Koordinator KPK Wilayah Aceh, Agus, di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (18/9/2020). Foto: M. Rizal Falevi Kirani 

Karena itu jangan heran bila Astina menjadi agung nan kuncara. Pamor bersih perpolitikan Astina berubah keruh ketika Sengkuni mulai bermain.

Itu diawali ketika terjadi kesalahpahaman antara Pandu dan muridnya, Tremboko, pemimpin Negara Pringgondani.

Sengkuni berhasil mengadu domba kedua pemimpin tersebut sehingga terjadilah peperangan.

Baik Pandu maupun Tremboko akhirnya gugur. Sebelumnya, ia memfitnah patih Astina, Gandamana, sehingga terjungkal dari kursinya.

Jabatan orang kedua di Astina itu pun jatuh dalam genggamannya.

Bukan tanpa ongkos, Sengkuni menjadi patih dengan membayar mahal. Seluruh raganya rusak akibat digebuki Gandamana.

Semula dia gagah dan tampan lalu menjadi penuh bopeng. Tapi, inilah risiko yang telah diperhitungkan dan ia nyaman menanggungnya selama hayat dikandung badan.

Tapi, sepeninggal Pandu, Drestarastra menjadi raja ad-interim.

Pada era itulah Sengkuni mengeluarkan jurus politiknya. Dengan kecerdikan akal dan kelihaiannya bicara, ia memperdaya Drestarastra sehingga bersedia menobatkan putranya, Jaka Pitana, menjadi Raja Astina.

Ketika itu Drestarastra masih ingat, sesungguhnya yang berhak menjadi raja ialah Pandawa, anak-anak Pandu.

Namun, karena keponakannya--Puntadewa, Bratasena, Permadi, Tangsen, dan Pinten--itu masih kecil-kecil alias belum dewasa, untuk sementara kekuasaan Astina ia serahkan kepada Jaka Pitana.

Namun, bagi Sengkuni, ini sudah final. Garis politiknya bahwa kekuasaan Jaka Pitana yang bergelar Prabu Duryudana harus selamanya.

Tidak ada periode sementara. Maka, perjuangannya mengamankan kekuasaan Duryudana sekaligus menjamin kehidupan Kurawa, keturunan Drestarastra-Gendari.

Pada titik inilah, awal munculnya perselisihan abadi antara Kurawa dan Pandawa.

Dua keluarga saudara sepupu dan sesama trah Abiyasa ini menjadi berseteru.

Sengkuni mengerahkan segala kemampuan, bahkan mempertaruhkan jiwa raganya. Apa pun ditempuh untuk melenyapkan Pandawa.

Pengajuan hak interpelasi. Foto: MODUSACEH.CO

Itulah satu-satunya cara agar Duryudana (Kurawa) langgeng menguasai Astina.

Di antara rangkaian upaya busuk itu terceritakan dalam peristiwa Bale Sigala-gala. Lagi-lagi, inilah skenario gila, membakar Pandawa hidup-hidup yang dikemas dalam acara rencana pengembalian takhta Astina kepada putra Pandu.

Begitupun, upaya yang sangat menggiriskan itu akhirnya gagal. Pandawa selamat tanpa cacat.

Pada lain waktu, Sengkuni mulus memaksa peran para Astina Resi Durna memperdaya Pandawa, khususnya Bratasena.

Pilar Pandawa itu diskenariokan mati konyol. Ini dapat disimak dalam lakon Bima Suci.

Namun, Bratasena tidak sirna, justru mendapatkan ilmu rahasia hidup yang diimpikan, yakni ilmu sangkan paraning dumadi.

Cara licik lain tersaji dalam kisah Main Dadu. Sengkuni sukses menjebloskan Pandawa ke ‘penjara’ di hutan Kamyaka selama 12 tahun.

Namun, upaya menyirnakan ahli waris sejati Astina itu kembali tanpa hasil.

Malah, para putra Pandu mendapat anugerah dari Sanghyang Manon berkat kepasrahan menjalani pengasingan dengan laku prihatin.

Manuver Sengkuni akhirnya pungkas dalam Bharatayuda.

Ia tewas di tangan Werkudara di hari-hari terakhir perang besar di Kurusetra tersebut.

Pada detik-detik menjelang ajal menjemput, Sengkuni menyatakan tidak menyesali atas semua yang telah ia perbuat.

Sengkuni bukanlah hipokrit, tapi contoh busuk dalam berpolitik. Ia tokoh yang menghalalkan segala cara.

Dalam kamusnya, tidak ada norma dan etika. Siapa pun yang bertentangan dengan garis politiknya, Sengkuni tidak segan menyatakan berseberangan, sekalipun mereka pepunden Astina semisal Resi Bhisma dan Prabu Salya, mertua Duryudana.

Namun, dalam kebusukannya itu masih ada nilai karakternya yang bisa direnungkan.

Dia memang apa adanya dan tidak ada yang disembunyikan. Ia anggap enteng cap yang disematkan pada dirinya; "penjelmaan iblis yang paling jahat di alam semesta".

Sebaliknya, Sengkuni juga tidak mau menjadi pribadi palsu. Antara hati, pikiran, ucapan, dan perilakunya amat sangat sepadan.

Ibarat musang, ia tampil apa adanya sebagai musang, bukan musang berbulu domba.

Nah, adakah Sengkuni di Gedung DPR Aceh, tempat rakyat berharap dari kisah akhir interpelasi terhadap Nova Iriansyah? Entahlah!***